Politik

Zidane dan Prabowo: Dari Davos untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia yang Lebih Cerah

Pertemuan inspiratif antara Presiden Prabowo dan legenda sepak bola Zinedine Zidane di Davos membuka babak baru untuk pembinaan sepak bola Indonesia.

Penulis:adit
6 Maret 2026
Zidane dan Prabowo: Dari Davos untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia yang Lebih Cerah

Bayangkan ini: di tengah forum ekonomi paling bergengsi di dunia, di antara pembahasan tentang inflasi global dan teknologi masa depan, seorang presiden justru sedang membicarakan tentang rumput hijau, bola kulit, dan impian anak-anak di pelosok negeri. Itulah yang terjadi ketika Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri bertemu dengan Zinedine Zidane di sela-sela World Economic Forum di Davos. Bukan untuk membahas strategi investasi, melainkan untuk menggali inspirasi tentang bagaimana membangun ekosistem sepak bola yang sehat dari akar rumput. Pertemuan yang mungkin terlihat tak biasa ini justru menunjukkan satu hal: bahwa kemajuan sebuah bangsa bisa dimulai dari hal-hal yang paling mendasar, termasuk olahraga yang dicintai rakyatnya.

Lebih Dari Sekadar Pertemuan Formal

Menurut Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet yang mendampingi, pertemuan selama 45 menit itu berlangsung sangat cair dan penuh semangat. "Yang menarik," ungkap Teddy melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet, "Presiden tidak hanya berbicara sebagai kepala negara, tapi juga sebagai penggemar sepak bola yang memahami betul apa yang dibutuhkan untuk membangun talenta-talenta muda." Zidane sendiri, yang dikenal sebagai sosok pemalu di luar lapangan, konon sangat antusias mendengar rencana-rencana konkret yang dipaparkan. Ini bukan sekadar pertemuan protokoler—ini adalah pertemuan dua orang yang memiliki visi tentang bagaimana olahraga bisa mengubah kehidupan.

Rencana Konkret: Sekolah Sebagai Pusat Pembinaan

Salah satu poin penting yang dibahas adalah konsep integrasi fasilitas olahraga dalam sistem pendidikan. Prabowo memaparkan rencana ambisius namun realistis: setiap sekolah baru yang dibangun harus memiliki lapangan sepak bola yang memadai. Tapi ini bukan sekadar kebijakan administratif biasa. Lapangan tersebut dirancang untuk memiliki fungsi ganda: sebagai sarana pendidikan jasmani bagi siswa selama jam sekolah, dan sebagai pusat latihan komunitas bagi anak-anak di sekitar sekolah setelah jam pelajaran usai.

"Bayangkan dampaknya," kata seorang analis olahraga yang tidak ingin disebutkan namanya. "Dengan sekitar 2.000 sekolah baru yang dibangun setiap tahun, kita bisa menciptakan 2.000 pusat pembinaan baru. Itu berarti akses olahraga yang lebih merata, tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar." Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa hanya 35% sekolah di Indonesia saat ini memiliki lapangan olahraga yang layak. Rencana ini bisa meningkatkan angka tersebut secara signifikan dalam 5-10 tahun ke depan.

Belajar dari Kesalahan Masa Lalu

Sejarah sepak bola Indonesia penuh dengan program-program yang bagus di atas kertas namun gagal dalam implementasi. Program pembinaan usia dini yang pernah digagas, misalnya, seringkali terjebak dalam birokrasi dan kurangnya sustainabilitas. Yang menarik dari pendekatan Prabowo adalah fokus pada infrastruktur dasar yang berkelanjutan. Dengan menjadikan sekolah sebagai basis, program ini memiliki institusi yang jelas untuk mengelolanya—tidak seperti program ad-hoc yang bergantung pada anggaran tahunan yang tidak pasti.

Opini pribadi saya? Ini adalah pendekatan yang cerdas. Daripada menghabiskan miliaran rupiah untuk membayar pelatih asing yang hanya bertahan satu atau dua musim, lebih baik investasi pada fasilitas yang akan bertahan puluhan tahun. Fasilitas yang tidak hanya menghasilkan atlet, tetapi juga masyarakat yang lebih sehat. Sebuah studi di Brasil menunjukkan bahwa setiap real (mata uang Brasil) yang diinvestasikan dalam fasilitas olahraga komunitas menghasilkan penghematan 3 real dalam biaya kesehatan masyarakat. Prinsip yang sama mungkin berlaku di Indonesia.

Zidane: Lebih Dari Sekadar Ikon

Pemilihan Zidane sebagai mitra diskusi juga menarik untuk dicermati. Bukan hanya karena reputasinya sebagai pemain dan pelatih papan atas, tetapi karena perjalanan karirnya yang unik. Zidane tumbuh dari lingkungan yang sederhana di Marseille, Prancis—bukan dari akademi sepak bola mewah. Ia memahami betul pentingnya akses terhadap fasilitas dasar bagi anak-anak dari keluarga biasa. Pengalamannya membangun akademi sepak bola di berbagai negara juga memberikan perspektif praktis tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak.

"Yang kita butuhkan bukan hanya bintang sepak bola," kata seorang pengamat kebijakan olahraga. "Tapi ekosistem yang memungkinkan bintang-bintang itu muncul secara alami. Dan itu dimulai dari memberikan akses yang sama kepada setiap anak, di mana pun mereka berada." Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Zidane sendiri, yang sering menekankan pentingnya pembinaan karakter dan disiplin sejak dini, bukan hanya keterampilan teknis.

Tantangan dan Peluang Ke Depan

Rencana ini tentu tidak akan mudah diimplementasikan. Tantangan utama adalah koordinasi antar kementerian (Pendidikan, PUPR, dan Pemuda dan Olahraga), alokasi anggaran yang berkelanjutan, dan yang paling penting: memastikan bahwa fasilitas tersebut benar-benar digunakan optimal dan terawat dengan baik. Pengalaman menunjukkan bahwa banyak fasilitas olahraga di sekolah-sekolah yang terbengkalai karena kurangnya perawatan dan program yang terstruktur.

Namun, momentum politik saat ini mungkin tepat. Dengan dukungan publik yang besar terhadap sepak bola nasional—terutama setelah performa timnas yang semakin membaik—ada peluang untuk menjadikan olahraga sebagai prioritas pembangunan. Jika kita melihat negara-negara seperti Jepang atau Korea Selatan, keberhasilan mereka di tingkat internasional berawal dari investasi serius pada pembinaan usia dini dan fasilitas dasar 20-30 tahun yang lalu.

Penutup: Bukan Hanya Tentang Sepak Bola

Pada akhirnya, pertemuan di Davos ini mengingatkan kita pada satu hal mendasar: bahwa kemajuan sebuah bangsa seringkali dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana. Lapangan sepak bola di sekolah bukan hanya tentang mencetak pemain profesional masa depan, tetapi tentang menciptakan ruang di mana anak-anak belajar bekerja sama, menghargai kesehatan, dan membangun karakter. Itu tentang memberikan kesempatan yang sama kepada anak di Papua, di pedalaman Kalimantan, atau di perkampungan padat Jakarta untuk bermimpi dan berprestasi.

Pertanyaannya sekarang: apakah kita sebagai masyarakat siap mendukung visi ini? Bukan hanya dengan berharap pada pemerintah, tetapi dengan terlibat aktif—sebagai orang tua yang mendorong anaknya berolahraga, sebagai guru yang memanfaatkan fasilitas dengan optimal, atau sebagai komunitas yang menjaga aset publik ini. Karena sepak bola, seperti halnya pembangunan bangsa, adalah usaha kolektif. Dan kadang, percakapan di forum ekonomi dunia bisa menjadi awal dari perubahan besar di lapangan-lapangan sederhana di tanah air.

Mungkin suatu hari nanti, kita akan melihat anak-anak yang pertama kali belajar menggiring bola di lapangan sekolah hasil dari pertemuan ini, membawa nama Indonesia di kancah internasional. Atau yang lebih penting lagi: kita akan melihat generasi yang lebih sehat, lebih disiplin, dan lebih percaya diri—karena mereka tumbuh dengan akses terhadap olahraga yang layak. Dan itu, sejujurnya, adalah kemenangan yang lebih besar daripada trofi apa pun.

Dipublikasikan: 6 Maret 2026, 09:41
Diperbarui: 6 Maret 2026, 09:41