Bukan Hanya Soal Gol: Mengapa Kritik Pedas untuk Sananta Justru Menunjukkan Kekeliruan Kita Memahami Sepak Bola?
John Herdman membela Sananta dari kritik warganet. Tapi di balik itu, ada pelajaran penting tentang bagaimana kita seharusnya menilai kontribusi pemain di lapangan hijau.

Bayangkan ini: Timnas Indonesia baru saja meraih kemenangan telak 4-0. Seharusnya suasananya penuh sorak-sorai dan pujian, bukan? Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Media sosial malah ramai dengan hujatan tajam mengarah ke satu nama: Ramadhan Sananta. Penyerang itu dikritik habis-habisan karena dianggap gagal mencetak gol, seolah-olah kemenangan 4-0 itu menjadi tidak lengkap karena dia tidak mencatatkan namanya di papan skor. Fenomena ini bukan sekadar soal satu pemain yang sedang tidak beruntung, tapi lebih dalam lagi—ini adalah cermin dari cara pandang kita yang sering kali terlalu sempit dalam menilai permainan sepak bola.
John Herdman, sang arsitek tim, dengan tegas memilih untuk ‘pasang badan’. Bukan dengan amarah, tapi dengan penjelasan yang justru membuka mata. Dalam konferensi persnya, ada satu kalimat yang menggema: "Kami tidak membayar dia hanya untuk mencetak gol. Kami membayar dia untuk membuat tim ini menang." Dan pada malam itu, meski tanpa gol, timnya menang. Ini adalah awal dari sebuah diskusi yang lebih besar tentang apa sebenarnya nilai seorang penyerang di lapangan hijau.
Lebih Dari Sekadar Angka di Papan Skor: Memahami Peran Tak Kasat Mata
Kita terbiasa dengan statistik yang kasat mata: gol, assist, jumlah tembakan. Tapi sepak bola modern dibangun di atas fondasi kerja yang sering tidak terlihat di layar televisi. Herdman dengan sabar membeberkan kontribusi Sananta yang luput dari perhatian banyak orang. Dia adalah ujung tombak pressing, pemain pertama yang menekan pertahanan lawan sehingga memaksa mereka membuat kesalahan. Pergerakannya yang cerdas menarik bek lawan, membuka ruang lebar bagi rekan-rekannya seperti Ragnar Oratmangoen atau Beckham Putra untuk mengeksploitasi celah. Dalam pertandingan melawan Saint Kitts and Nevis, setidaknya dua peluang tercipta justru karena kerja keras Sananta yang memenangkan bola di area final third lawan.
Data dari platform analisis sepak bola seperti StatsBomb menunjukkan tren menarik: penyerang target seperti Sananta memiliki nilai ‘Expected Threat’ (xT) yang tinggi dari pergerakan tanpa bola dan duel yang dimenangkan, meski angka ‘Expected Goals’ (xG) mereka mungkin rendah dalam satu pertandingan. Ini bukan pembenaran untuk peluang yang terbuang, tapi pengingat bahwa kontribusi seorang pemain itu multidimensi. Menyederhanakannya hanya pada ‘gol atau tidak gol’ sama saja dengan menilai sebuah novel hanya dari sampulnya.
Dari Giroud hingga Firmino: Preseden Dunia yang Sering Kita Abaikan
Herdman menyebut nama Olivier Giroud, dan itu bukan perbandingan yang dibuat-buat. Di Piala Dunia 2018, Giroud, striker utama Prancis, bermain selama 546 menit tanpa sekalipun mencetak gol. Namun, apakah Didier Deschamps menggantinya? Tidak. Media Prancis mencabik-cabiknya? Tidak. Mengapa? Karena semua orang di dalam tim memahami nilai taktisnya yang luar biasa. Dia adalah poros yang memungkinkan Kylian Mbappe dan Antoine Griezmann berlari kencang di belakangnya. Prancis juara dunia, dan Giroud dielu-elukan sebagai pahlawan meski statistik golnya nol.
Kita juga punya contoh lebih dekat: Roberto Firmino di Liverpool era Jürgen Klopp. Selama bertahun-tamun, statistik gol Firmino kerap kalah dari Mohamed Salah atau Sadio Mané. Tapi tanyalah pada penggemar Liverpool, siapa ‘otak’ dari serangan mereka? Mayoritas akan menyebut Firmino. Dialah yang mengorbankan diri, menarik bek, dan menciptakan ruang bagi dua sayapnya. Sepak bola adalah teater, dan tidak semua pahlawan perlu berdiri di garis depan untuk meneriakkan monolog. Beberapa bekerja di belakang layar, memastikan lampu tetap menyala dan panggung tetap sempurna.
Opini: Kritik di Media Sosial dan Bahaya ‘Instant Gratification’ dalam Sepak Bola
Di sinilah letak persoalan utamanya. Gelombang kritik terhadap Sananta merefleksikan budaya ‘instant gratification’ yang telah merasuki cara kita mengonsumsi sepak bola. Kita ingin hasil instan, gol instan, dan kepuasan instan. Ketika seorang penyerang tidak mencetak gol dalam 90 menit, dia dengan mudah dicap ‘gagal’, tanpa melihat konteks permainan, formasi tim, atau instruksi taktis dari pelatih. Media sosial memperkuat efek ini dengan algoritma yang mendorong konten-konten reaktif dan emosional.
Padahal, membangun tim nasional adalah proses maraton, bukan lari sprint. Kepercayaan dari pelatih adalah mata uang yang lebih berharga daripada pujian trending topic di Twitter. Herdman, dengan latar belakangnya membangun tim nasional Kanada dari nol, memahami betul hal ini. Dia tidak mencari pemain sempurna; dia mencari pemain yang mau bekerja untuk sistemnya. Dan saat ini, Sananta adalah orang yang dipercayanya untuk menjalankan peran spesifik itu. Memotong rantai kepercayaan ini hanya karena satu atau dua performa tanpa gol adalah tindakan yang kontra-produktif untuk jangka panjang.
Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Timnas Indonesia Saat Ini?
Timnas Indonesia sedang dalam fase transisi di bawah Herdman. Yang dibutuhkan bukanlah sekumpulan individu berbakat, tapi sebuah sistem yang kohesif di mana setiap pemain memahami dan menjalankan tugasnya dengan disiplin. Sananta, dalam sistem pressing intensif ala Herdman, adalah komponen kunci. Dia adalah trigger pertama yang memulai seluruh mekanisme tekanan tim. Tanpa kerja kerasnya di lini depan, pressing akan buyar dan pertahanan lawan punya waktu lebih banyak untuk membangun serangan.
Pertanyaannya kemudian: apakah kita, sebagai suporter, sudah siap mendukung proses ini? Atau kita hanya akan bertepuk tangan saat ada gol, dan menghujat saat tidak? Herdman mengajak kita untuk naik level: "Mari kita menjadi bangsa yang lebih baik dalam mendukung. Kritik yang membangun itu perlu, tapi yang merendahkan dan personal hanya akan merusak mental pemain yang sedang berjuang untuk negara." Kata-katanya adalah cermin untuk kita semua.
Jadi, lain kali ketika kita hendak mengetik kritikan pedas untuk seorang pemain, ada baiknya kita jeda sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: apakah kita sudah melihat pertandingannya secara utuh, atau hanya melihat highlight dan statistik akhir? Apakah kita memahami peran yang diminta pelatih darinya? Sepak bola adalah permainan kolektif yang indah karena kompleksitasnya. Mari kita rayakan kompleksitas itu dengan apresiasi yang lebih dalam, bukan dengan penghakiman yang tergesa-gesa. Bagaimanapun, dukungan yang cerdas dan empatik dari suporter adalah ‘player ke-12’ terbaik yang bisa dimiliki timnas mana pun. Dan itu dimulai dari kita.