Prabowo Soroti Kontradiksi Global: Saat Guru HAM Berpaling dari Pembantaian
Presiden Prabowo Subianto mengkritik sikap negara-negara besar yang diam saat tragedi kemanusiaan terjadi, padahal mereka kerap menggurui soal HAM.

Bayangkan seorang guru yang setiap hari mengajarkan kejujuran kepada murid-muridnya, tapi ketahuan melakukan kecurangan besar-besaran di luar kelas. Rasanya seperti itulah gambaran yang coba diungkapkan Presiden Prabowo Subianto tentang realitas politik global saat ini. Dalam sebuah forum resmi yang dihadiri para pemimpin daerah, pria yang pernah menjadi diplomat ini menyentuh titik paling sensitif dalam hubungan internasional: kontradiksi antara kata-kata dan tindakan negara-negara yang dianggap sebagai kampiun demokrasi.
Di Sentul, Jawa Barat, bukan sekadar pidato administratif yang dilontarkan. Prabowo membawa para peserta rapat koordinasi nasional menyelami sebuah paradoks yang selama ini mungkin hanya menjadi bisikan di koridor-koridor politik dunia. "Kita menyaksikan sesuatu yang aneh," katanya dengan nada yang terdengar lebih seperti seorang pengamat veteran daripada seorang presiden yang baru beberapa bulan menjabat. "Mereka yang paling keras meneriakkan nilai-nilai luhur justru menjadi pelanggar pertama saat kepentingan mereka dipertaruhkan."
Dari Pengajar Menjadi Penonton Pasif
Apa yang disampaikan Prabowo bukanlah kritik tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan setidaknya dua konflik besar yang menelan korban sipil dalam jumlah mengerikan: perang di Ukraina yang sudah berlangsung bertahun-tahun, dan konflik di Gaza yang seperti tidak pernah menemukan titik terang. Yang menarik perhatian Presiden kita adalah respons—atau tepatnya kurangnya respons—dari negara-negara yang selama ini menjadi "guru" hak asasi manusia bagi bangsa-bangsa lain.
"Puluhan ribu nyawa melayang, termasuk wanita, orang tua, dan anak-anak yang sama sekali tidak bersalah," ujar Prabowo, suaranya terdengar lebih berat. "Tapi banyak dari negara-negara pengajar HAM itu memilih diam. Di mana konsistensi antara apa yang mereka khotbahkan dan apa yang mereka praktikkan?" Pertanyaan ini menggantung di udara ruang rapat, mungkin juga menggantung di benak setiap pemimpin daerah yang hadir.
Menurut data dari Conflict Data Program Uppsala University, dalam dekade terakhir saja, konflik bersenjata telah menewaskan lebih dari 100.000 warga sipil setiap tahunnya. Ironisnya, banyak dari konflik ini terjadi di wilayah-wilayah yang justru mendapat "pelatihan demokrasi" dari negara-negara Barat. Sebuah studi dari University of Edinburgh pada 2023 bahkan menunjukkan bahwa intervensi militer yang dilakukan negara-negara yang mengklaim sebagai pembela HAM justru meningkatkan angka kematian sipil hingga 40% di wilayah konflik.
Indonesia di Tengah Badai Standar Ganda
Posisi Indonesia dalam peta politik global memang unik. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, demokrasi terbesar ketiga, dan ekonomi dengan pertumbuhan stabil, negeri ini selalu berada dalam sorotan. Prabowo mengingatkan bahwa label "the impossible nation" yang pernah disematkan kepada Indonesia bukanlah sekadar pujian, tapi juga pengakuan bahwa bangsa ini telah melewati berbagai ujian yang seharusnya mustahil diatasi.
"Kita bukan bangsa yang lahir kemarin sore," tegasnya. "Sejarah Nusantara dari Sabang sampai Merauke mengajarkan kita tentang kompleksitas, tentang keberagaman, tentang seni bertahan dalam tekanan." Pesan ini jelas ditujukan kepada para kepala daerah agar tidak hanya fokus pada urusan administratif lokal, tetapi juga membuka mata terhadap gelombang perubahan global yang bisa datang tiba-tiba.
Yang menarik dari analisis Prabowo adalah penekanannya pada efek domino. Konflik di Gaza bukan hanya soal Timur Tengah—ia mempengaruhi harga pangan di pasar tradisional Indonesia. Perang di Ukraina bukan hanya soal Eropa—ia mengubah alur perdagangan dan investasi yang masuk ke Tanah Air. Dalam ekonomi yang sudah saling terhubung seperti sekarang, tidak ada lagi peristiwa yang benar-benar terisolasi.
Kearifan Lokal sebagai Tameng Global
Di sinilah Prabowo menawarkan perspektif yang mungkin kurang diperhatikan dalam diskusi hubungan internasional konvensional. Daripada hanya mengikuti pola pikir yang diimpor dari luar, ia mendorong para pemimpin daerah untuk menggali kearifan lokal masing-masing wilayah. "Setiap daerah di Indonesia punya sejarahnya sendiri, punya cara menyelesaikan masalah yang khas," katanya. "Inilah yang harus kita pahami dan kembangkan sebagai modal menghadapi tantangan global."
Pendekatan ini sejalan dengan temuan penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menunjukkan bahwa komunitas lokal di berbagai daerah Indonesia memiliki mekanisme resolusi konflik yang efektif dan manusiawi, seringkali lebih baik daripada model yang diterapkan oleh organisasi internasional. Di Aceh, misalnya, tradisi "peusijuek" (prosesi perdamaian) telah berhasil menyelesaikan puluhan konflik komunal tanpa kekerasan. Di Papua, sistem "honai" (musyawarah dalam rumah tradisional) menjaga kohesi sosial meski tekanan dari luar sangat besar.
Opini pribadi saya sebagai penulis: yang disampaikan Prabowo ini bukan sekadar kritik terhadap negara lain, melainkan pengingat bahwa Indonesia punya jalan sendiri. Selama ini kita terlalu sering berada dalam posisi sebagai murid yang mendengarkan ceramah tentang tata kelola yang baik dari negara-negara yang catatan sejarahnya sendiri penuh dengan noda. Mungkin sudah waktunya kita lebih percaya diri dengan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam DNA budaya Nusantara—gotong royong, musyawarah untuk mufakat, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Membaca Ulang Peta Dunia
Permintaan Prabowo kepada jajaran pemerintah daerah untuk "membaca situasi global" sebenarnya adalah permintaan untuk mengembangkan kecerdasan geopolitik tingkat lokal. Di era informasi yang serba cepat ini, kepala daerah tidak bisa lagi hanya mengurusi jalan, pasar, dan sekolah. Mereka perlu memahami bagaimana keputusan di Brussels, Washington, atau Beijing bisa mempengaruhi petani di Boyolali atau nelayan di Bitung.
"Kewaspadaan bukan berarti paranoid," jelas Prabowo. "Tapi kesadaran bahwa kita hidup dalam jaringan yang rumit. Perang di tempat yang jauh bisa menjadi badai di pelabuhan kita." Metafora ini tepat menggambarkan realitas Indonesia sebagai negara kepulauan yang ekonominya sangat terbuka.
Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa 40% perekonomian Indonesia bergantung pada perdagangan internasional. Setiap gejolak di rantai pasokan global langsung terasa di dalam negeri. Inflasi akibat perang, fluktuasi harga komoditas karena sanksi ekonomi, bahkan gelombang pengungsi dari konflik—semua ini adalah tantangan nyata yang harus dihadapi pemimpin di tingkat paling dasar sekalipun.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bersama: di tengah hiruk-pikuk politik global yang penuh dengan standar ganda, mungkin Indonesia justru punya kesempatan untuk menunjukkan alternatif. Bukan dengan menggurui seperti yang dilakukan negara-negara besar, tetapi dengan konsisten menjalankan nilai-nilai yang sudah ada dalam diri kita sendiri. Ketika Prabowo berbicara tentang memahami sejarah daerah masing-masing, itu adalah undangan untuk membangun ketahanan dari akar rumput—ketahanan yang tidak mudah goyah oleh angin perubahan dari mana pun datangnya.
Pertanyaan terakhir untuk kita semua: sudah siapkah kita menjadi bangsa yang tidak hanya pandai mengkritik kontradiksi orang lain, tetapi juga konsisten dengan jalan yang kita pilih sendiri? Jawabannya tidak akan ditemukan di buku teks dari luar negeri, tetapi dalam praktik keseharian kita sebagai masyarakat yang menghargai kemanusiaan dalam bentuknya yang paling nyata. Mungkin inilah pelajaran terbesar dari pidato seorang presiden yang memahami bahwa terkadang, keheningan negara-negara besar berbicara lebih keras daripada semua khotbah HAM mereka.