Pesta Kekuasaan di Pyongyang: Ketika Kongres Partai Menjadi Panggung Pengukuhan Kim Jong Un
Analisis mendalam tentang Kongres Partai Buruh Korea ke-9, di mana Kim Jong Un dikukuhkan kembali sambil memamerkan kekuatan nuklir terbarunya.
Bayangkan sebuah panggung raksasa di jantung Pyongyang, di mana ribuan elite politik berkumpul bukan untuk berdebat, melainkan untuk menyanyikan pujian. Di sanalah, awal tahun 2026, Kim Jong Un sekali lagi berdiri sebagai pusat gravitasi politik Korea Utara. Kongres Partai Buruh Korea yang kesembilan bukan sekadar rapat rutin; ia adalah teater kekuasaan yang dirancang sempurna, di mana setiap gerakan, setiap jabat tangan, dan setiap pidato adalah bagian dari koreografi politik yang telah dipersiapkan bertahun-tahun. Bagi dunia luar, momen ini seperti jendela langka untuk mengintip dinamika di balik tembok negara paling tertutup di planet ini.
Acara lima tahunan ini selalu menjadi ajang penegasan. Namun, edisi kali ini terasa berbeda. Di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas, pilihan Pyongyang untuk menampilkan deretan peluncur rudal nuklir baru tepat sebelum kongres bukanlah kebetulan. Ia adalah pesan yang disampaikan dalam bahasa yang dipahami semua pihak: kekuatan. Dan di puncak piramida kekuatan itu, Kim Jong Un kembali terpilih sebagai Sekretaris Jenderal, posisi yang mengukuhkannya bukan hanya sebagai pemimpin partai, tetapi sebagai arsitek utama masa depan nuklir negaranya.
Koreografi Kekuasaan dalam Sidang Akbar
Menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), suasana di dalam aula kongres dipenuhi dengan "sumpah setia" yang bergema dari para jenderal dan pejabat tinggi. Ritual ini lebih dari sekadar formalitas. Dalam analisis sejumlah pengamat Korea Utara, seperti yang pernah diungkapkan oleh lembaga think tank 38 North, kongres partai berfungsi sebagai mekanisme untuk merotasi elite, menegaskan hierarki, dan—yang paling penting—memvisualisasikan kesetiaan mutlak kepada sang pemimpin agung. Foto-foto resmi yang dirilis kemudian akan dikuliti oleh analis di Seoul, Tokyo, dan Washington untuk mencari petunjuk: Siapa yang duduk lebih dekat? Siapa yang menghilang dari barisan depan? Kehadiran putri Kim, Ju Ae, yang semakin sering muncul di acara publik, juga menjadi bahan spekulasi panas tentang suksesi dinasti di masa depan.
Nuklir: Dari Ancaman menjadi Jaminan Eksistensi
Pujian partai terhadap program nuklir Kim Jong Un bukanlah hal baru. Namun, narasinya telah bergeser secara fundamental. Dulu, senjata nuklir digambarkan sebagai alat penangkal (deterrent). Kini, dalam pernyataan resmi kongres, ia disebut sebagai fondasi untuk membangun angkatan bersenjata yang "sepenuhnya siap menghadapi segala bentuk perang." Ini adalah lompatan doktrinal. Seorang analis pertahanan asal Singapura, dalam wawancara dengan Channel News Asia, menyebutkan bahwa Korea Utara mungkin telah mencapai ambang kemampuan teknis tertentu—seperti miniaturisasi hulu ledak—yang membuat mereka lebih percaya diri. Ambang ini, meski sulit diverifikasi secara independen, mengubah kalkulus keamanan di seluruh kawasan.
Fakta unik yang sering terlewatkan adalah jeda uji coba nuklir. Sudah lebih dari delapan tahun sejak gempa buatan manusia terakhir mengguncang lokasi uji coba di Pegunungan Hamgyong. Jeda ini bukan berarti tidur. Justru, periode ini kemungkinan besar digunakan untuk riset dan pengembangan yang lebih kompleks dan rahasia, beralih dari sekadar membuktikan bisa meledak, ke bagaimana meledakkannya dengan presisi dan pada sistem peluncuran yang lebih canggih. Parade militer yang memamerkan peluncur roket besar sebelum kongres adalah bukti nyata fase pengembangan ini.
Panggung Diplomasi dan Isyarat untuk Washington
Di tengah pameran kekuatan militer, ada juga isyarat diplomatik. Sambutan hangat dari Presiden China Xi Jinping, yang menyebut hubungan akan memasuki "babak baru," adalah pengingat kuat tentang poros Pyongyang-Beijing-Moskow. Kehadiran Kim di parade militer Beijing bersama Xi dan Putin setahun sebelumnya bukan sekadar kunjungan biasa. Ia adalah simbolisasi aliansi strategis yang sedang diperkuat untuk menghadapi tekanan Barat, khususnya dari Amerika Serikat.
Lantas, bagaimana dengan AS? Pada kongres lima tahun lalu, Kim menyebut AS sebagai "musuh terbesar." Kali ini, retorika langsung mungkin tidak seekstrem dulu, tetapi tindakannya berbicara lebih keras. Penghindaran Kim terhadap dialog tingkat tinggi dengan Washington, meski ada pernyataan terbuka dari mantan Presiden Donald Trump, menunjukkan bahwa Pyongyang saat ini lebih memilih pendekatan "kekuatan terlebih dahulu, negosiasi nanti." Mereka tampaknya percaya bahwa posisi tawar terbaik didapat bukan dari meja perundingan, melainkan dari kekuatan yang telah terpamer di lapangan.
Refleksi: Teater Kekuasaan dan Realitas yang Terkunci
Menyaksikan laporan dari Kongres Partai Buruh Korea seperti menonton dua pertunjukan sekaligus. Pertunjukan pertama adalah yang dipentaskan untuk konsumsi internal: sebuah drama tentang persatuan, kekuatan, dan kepemimpinan yang tak tergoyahkan. Pertunjukan kedua adalah untuk penonton internasional: sebuah demonstrasi nyata tentang kemampuan dan tekad yang tidak bisa lagi diabaikan.
Pada akhirnya, terpilihnya kembali Kim Jong Un adalah episode terbaru dalam saga panjang kekuasaan dinasti. Namun, konteksnya kini telah berubah. Dunia yang dihadapinya lebih terpolarisasi, teknologi militernya lebih maju, dan ambisinya tampaknya lebih terdefinisi. Kongres ini mungkin telah berakhir dengan tepuk tangan dan pujian, tetapi gaungnya akan terus bergema dalam bentuk ketegangan yang lebih tinggi di Semenanjung Korea dan pertanyaan besar bagi komunitas global: Bagaimana cara merespons sebuah kekuatan yang semakin percaya diri, yang justru menganggap senjata pemusnah massal sebagai jaminan utama kelangsungan hidupnya? Jawabannya, sayangnya, masih tersembunyi sama dalamnya seperti terowongan uji coba nuklir di perut gunung Korea Utara.