Peristiwa

Pesan Prabowo di Forum Ekonomi: Hukum Bukan Senjata untuk Menghabisi Rival

Di tengah forum ekonomi elite, Prabowo mengingatkan semua pihak bahwa kepastian hukum adalah fondasi utama untuk menarik investasi dan membangun kepercayaan.

Penulis:adit
6 Maret 2026
Pesan Prabowo di Forum Ekonomi: Hukum Bukan Senjata untuk Menghabisi Rival

Bayangkan Anda seorang investor asing yang ingin menanamkan modal miliaran dolar di sebuah negara. Apa yang pertama kali Anda cari? Infrastruktur canggih? Tenaga kerja murah? Atau mungkin insentif pajak yang menggiurkan? Banyak yang lupa, jawaban paling mendasar justru sering terletak pada sesuatu yang tak kasat mata: kepastian hukum. Tanpa itu, semua janji kemakmuran bisa runtuh dalam sekejap. Inilah konteks yang membuat pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah forum ekonomi elite di Jakarta menjadi begitu penting dan beresonansi jauh melampaui sekadar wacana politik.

Acara Indonesia Economy Outlook 2026 bukan sekadar pertemuan para ekonom dan pelaku bisnis. Itu adalah ruang di mana kepercayaan global terhadap masa depan Indonesia dipertaruhkan. Dan di panggung itulah, Prabowo memilih untuk menyampaikan pesan yang tegas dan gamblang, bukan tentang angka pertumbuhan atau strategi fiskal, melainkan tentang integritas sistem peradilan. Pesannya sederhana namun fundamental: hukum harus ditegakkan secara adil, bukan dibelokkan menjadi alat untuk menyasar lawan politik.

Lebih Dari Sekadar Janji Politik: Sebuah Komitmen di Hadapan Investor Global

Saat menyampaikan pidato di hadapan para investor yang matanya kalkulatif, Prabowo seolah sedang meletakkan kartu trufnya di atas meja. Dia tidak berbicara sebagai politikus yang sedang berkampanye, melainkan sebagai kepala negara yang memahami bahwa stabilitas hukum adalah mata uang baru dalam percaturan ekonomi global. "Saya bertekad, patuhi hukum! Tidak ada kompromi," ujarnya dengan nada yang tak terbantahkan. Pernyataan ini menjadi menarik karena disampaikan dalam konteks ekonomi, sebuah sinyal kuat bahwa iklim investasi yang sehat dimulai dari penegakan hukum yang bersih.

Yang membuat pernyataannya memiliki bobot lebih adalah referensi langsung yang dia berikan. Prabowo menyebut tindakannya memberikan abolisi dan amnesti di masa lalu sebagai bukti komitmen. "...saya sudah buktikan ya, saya buktikan saya berani abolisi, saya berani amnesti kalau saya merasa ada sesuatu (yang keliru)." Ini bukan janji kosong untuk masa depan, melainkan pengingat akan track record yang telah dilakukan. Dalam perspektif komunikasi politik, ini adalah cara yang powerful untuk membangun kredibilitas di hadapan audiens yang skeptis.

Miscarriage of Justice: Ancaman Nyata Bagi Stabilitas Nasional

Istilah miscarriage of justice atau kesalahan peradilan yang digunakan Prabowo patut mendapat sorotan. Di banyak negara berkembang, kesalahan dalam penegakan hukum seringkali bukan sekadar kecelakaan prosedural, melainkan gejala dari sistem yang telah dipolitisasi. Data dari World Justice Project Rule of Law Index 2024 menunjukkan korelasi yang kuat antara penegakan hukum yang imparsial dengan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Negara-negara yang skor 'Absence of Corruption in Judiciary'-nya tinggi cenderung memiliki arus investasi asing langsung (FDI) yang lebih stabil.

Opini saya, peringatan Prabowo ini sangat tepat waktu. Kita hidup di era di mana informasi menyebar cepat dan persepsi global mudah terbentuk. Satu kasus hukum yang dianggap tidak adil dan bernuansa politis dapat merusak reputasi negara bertahun-tahun, mengusir investor, dan membuat kalangan bisnis domestik engkas untuk berinovasi karena takut menjadi target. Pernyataan "hukum dipakai alat untuk ngerjain lawan politik" yang dia tegaskan dengan "Tidak boleh!" adalah upaya preventif untuk membangun culture of trust (budaya kepercayaan) dalam sistem hukum kita.

Dari Pidato ke Praktik: Tantangan di Tingkat Aparat

Pesan presiden tentu saja tidak berhenti di ruang ballroom hotel mewah. Tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana pesan ini diterjemahkan oleh ribuan aparat penegak hukum di lapangan, mulai dari tingkat kepolisian, kejaksaan, hingga pengadilan. Sejarah menunjukkan bahwa sering ada kesenjangan besar antara instruksi dari pucuk pimpinan dan implementasi di akar rumput. Untuk itu, pernyataan publik di forum bergengsi seperti IEO 2026 ini memiliki fungsi ganda: sekaligus sebagai pengarahan untuk aparat dan sebagai bentuk akuntabilitas publik di hadapan dunia internasional.

Penting juga untuk melihat ini sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar. Kepastian hukum tidak hanya melindungi pelaku usaha dan investor, tetapi juga rakyat kecil dari kesewenang-wenangan. Ketika hukum tidak bisa dibeli atau diputarbalikkan untuk kepentingan kekuasaan, maka rasa aman dan tenang yang disebut Prabowo akan benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ini menjadi fondasi bagi stabilitas sosial yang pada akhirnya menguntungkan perekonomian.

Refleksi Akhir: Hukum Sebagai Perekat, Bukan Pecah Belah

Pada akhirnya, apa yang disampaikan Prabowo mengajak kita untuk melakukan refleksi mendasar. Apakah selama ini kita memandang hukum sebagai alat untuk mencari kebenaran dan keadilan, atau justru sebagai senjata untuk memenangkan pertarungan? Pidato di acara ekonomi itu mengingatkan bahwa fondasi sebuah bangsa yang besar bukan terletak pada sumber daya alam yang melimpah atau populasi yang banyak, melainkan pada konsistensi dan keadilan dalam menegakkan aturan bersama.

Pesan ini, jika dijalankan dengan konsisten, bisa menjadi warisan yang lebih berharga daripada proyek infrastruktur mana pun. Karena membangun jalan dan jembatan adalah pekerjaan fisik, tetapi membangun sistem hukum yang dipercaya adalah pekerjaan peradaban. Sebagai warga negara, kita bukan hanya penonton. Kita bisa mulai dengan menuntut transparansi dan keadilan di setiap level, serta mendukung setiap upaya untuk mendepolitisasi hukum. Bagaimana menurut Anda, apakah komitmen untuk menjadikan hukum sebagai pilar pemersatu, bukan pemecah belah, sudah terasa di sekitar kita?

Dipublikasikan: 6 Maret 2026, 10:04
Diperbarui: 6 Maret 2026, 10:04
Pesan Prabowo di Forum Ekonomi: Hukum Bukan Senjata untuk Menghabisi Rival