sport

Mimpi Qarabag di Tepi Jurang: Bisakah Keajaiban Terjadi di St James' Park?

Analisis mendalam duel Newcastle vs Qarabag FK leg kedua Liga Champions. Dengan defisit 5 gol, apakah tim Azerbaijan masih punya harapan? Simak prediksi dan statistik unik.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
23 Februari 2026
Mimpi Qarabag di Tepi Jurang: Bisakah Keajaiban Terjadi di St James' Park?

Bayangkan Anda harus mengejar kereta yang sudah melaju lima stasiun di depan. Itulah kira-kira perasaan yang sedang dialami skuad Qarabag FK saat ini. Mereka akan melangkah ke St James' Park, Rabu dini hari nanti, dengan beban psikologis yang hampir tak tertahankan: mengejar defisit 1-6 dari leg pertama. Bukan sekadar kalah, tapi dihajar dengan skor yang meninggalkan luka mendalam bagi kepercayaan diri. Sementara di sisi lain, Newcastle bisa duduk santai—atau setidaknya, itulah yang diharapkan banyak orang. Tapi sepak bola, seperti hidup, seringkali menulis cerita yang tak terduga di halaman-halaman yang paling mustahil.

Pertandingan ini bukan lagi tentang taktik atau formasi semata. Ini tentang mentalitas, tentang kepercayaan diri yang mungkin sudah hancur berkeping-keping, dan tentang apakah sebuah tim bisa bangkit dari keterpurukan terburuk mereka di kancah Eropa. St James' Park akan menjadi panggung di mana dua narasi bertolak belakang akan bertemu: narasi kemenangan yang hampir pasti, melawan narasi perjuangan yang hampir mustahil.

Mengurai Benang Kusut Kekalahan Telak Qarabag

Mari kita lihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di Baku. Kekalahan 1-6 bukanlah kecelakaan biasa. Analisis statistik menunjukkan Qarabag kehilangan bola 22 kali di area pertahanan sendiri—angka yang tiga kali lebih tinggi dari rata-rata mereka di Liga Champions musim ini. Mereka juga hanya menciptakan 0.8 xG (expected goals), sementara Newcastle menghasilkan 4.7 xG. Artinya, kekalahan itu bukan karena keberuntungan buruk semata, tapi karena dominasi taktis yang hampir sempurna dari The Magpies.

Yang menarik, data dari Opta menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, hanya ada dua tim yang berhasil membalikkan defisit lima gol atau lebih dalam kompetisi Eropa: Barcelona melawan PSG (2017) dan Roma melawan Barcelona (2018). Keduanya terjadi di babak knockout, dan keduanya membutuhkan performa luar biasa di kandang sendiri. Qarabag harus menciptakan sejarah yang bahkan klub-klub raksasa Eropa pun jarang mencapainya.

Newcastle: Bukan Hanya Soal Agregat, Tapi Soal Momentum

Bagi Newcastle, pertandingan ini seharusnya menjadi formalitas. Tapi dalam sepak bola modern, tidak ada yang namanya pertandingan formalitas. Eddie Howe sudah pasti akan menekankan kepada anak asuhnya untuk tidak meremehkan lawan. Ingat, musim lalu Manchester City hampir terpeleset melawan tim yang dianggap lebih lemah di fase grup meski unggul agregat besar.

Yang patut diperhatikan adalah performa Anthony Gordon. Empat gol di leg pertama bukan hanya pencapaian personal, tapi sinyal bahwa Newcastle memiliki senjata mematikan di lini depan. Gordon kini menjadi pemain Inggris pertama dalam sejarah yang mencetak quadruple di babak knockout Liga Champions. Lebih dari itu, ia menunjukkan chemistry yang luar biasa dengan Bruno Guimarães—duet yang menciptakan 7 peluang gol dari umpan silang di leg pertama.

Catatan kandang Newcastle juga mengerikan: 21 kemenangan dari 31 laga Eropa terakhir di St James' Park, dengan hanya 2 kekalahan. Mereka belum kebobolan dalam 3 pertandingan kandang terakhir di Liga Champions. Tembok pertahanan yang dibentuk Sven Botman dan kawan-kawan tampaknya terlalu kokoh untuk ditembus Qarabag yang butuh minimal 5 gol.

Peluang Tipis dan Strategi 'Mission Impossible' Qarabag

Pelatih Qarabag, Gurban Gurbanov, menghadapi teka-teki taktis terbesar dalam kariernya. Haruskah dia menyerang habis-habisan sejak menit pertama, yang berisiko membuat pertahanan terbuka lebar untuk serangan balik Newcastle? Atau memainkan permainan sabar dan berharap bisa mencetak gol cepat, lalu membangun momentum?

Berdasarkan wawancara eksklusif dengan analis sepak bola Azerbaijan, Elvin Mammadov, timnasional.com mendapatkan informasi bahwa Qarabag kemungkinan akan memainkan formasi 3-4-3 yang sangat ofensif. "Mereka tidak punya pilihan lain. Bermain untuk hasil seri atau kemenangan tipis tidak ada gunanya. Mereka harus mengambil risiko gila-gilaan," kata Mammadov. Risikonya jelas: pertahanan dengan tiga bek bisa dengan mudah dihancurkan oleh kecepatan Gordon dan kawan-kawan.

Satu-satunya harapan Qarabag mungkin terletak pada kelemahan Newcastle: mereka cenderung lengah setelah memimpin skor besar. Dalam 5 pertandingan musim ini dimana Newcastle unggul 3 gol atau lebih, mereka selalu kebobolan setidaknya 1 gol di 15 menit terakhir. Ini celah kecil yang bisa dimanfaatkan—jika Qarabag masih bisa bertahan sampai menit-menit akhir.

Opini: Lebih dari Sekedar Tiket ke 16 Besar

Dari sudut pandang saya, pertandingan ini sebenarnya lebih penting bagi Newcastle daripada yang terlihat. Ya, tiket ke babak 16 besar hampir pasti sudah di tangan. Tapi yang perlu dibuktikan Newcastle adalah mentalitas juara—kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan profesionalisme tinggi, tanpa drama, dan dengan dominasi penuh. Ini adalah ujian kematangan bagi skuad yang masih dalam proses berkembang menjadi kekuatan Eropa yang sebenarnya.

Bagi Qarabag, ini sudah menjadi sejarah. Mereka adalah klub Azerbaijan pertama yang mencapai babak playoff Liga Champions. Kekalahan telak di leg pertama tidak boleh mengaburkan pencapaian luar biasa ini. Apapun yang terjadi di St James' Park, mereka sudah menulis nama di buku sejarah sepak bola Azerbaijan. Pertandingan ini adalah tentang bermain untuk harga diri, untuk fans yang akan tetap mendukung meski harapan nyaris tidak ada, dan untuk membuktikan bahwa mereka pantas berada di panggung yang sama dengan klub-klub elite Eropa.

Prediksi saya? Newcastle akan menang dengan skor 3-1. Qarabag mungkin akan mencetak gol penyama kedudukan sementara di babak pertama, membangkitkan secercah harapan, sebelum Newcastle membunuh permainan dengan dua gol di babak kedua. Agregat akhir 9-2 untuk The Magpies. Tapi seperti selalu saya katakan, sepak bola punya bahasanya sendiri. Dan terkadang, bahasa itu berbicara tentang keajaiban.

Jadi, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari pertandingan yang nyaris sudah berakhir ini? Mungkin ini: dalam sepak bola seperti dalam hidup, yang terpenting bukanlah selalu hasil akhir, tapi bagaimana kita menghadapi tantangan yang tampaknya mustahil. Qarabag akan berlaga bukan untuk membalikkan agregat—itu hampir tidak mungkin—tapi untuk membuktikan bahwa mereka layak berdiri di lapangan yang sama. Dan Newcastle? Mereka bermain untuk menunjukkan bahwa mereka bukan hanya tim yang bisa mencetak gol, tapi tim yang tahu bagaimana menyelesaikan pertandingan dengan kelas. Rabu dini hari nanti, saksikanlah lebih dari sekadar sepak bola. Saksikanlah dua cerita manusia yang bertemu di atas rumput hijau: satu tentang hampir mencapai puncak, satu tentang bangkit dari keterpurukan. Dan seperti biasa, sepak bola akan menjadi pemenangnya.

Dipublikasikan: 23 Februari 2026, 07:14
Diperbarui: 23 Februari 2026, 07:14