Lebaran Tiba, Kisah Haru Driver Ojol yang Akhirnya Bisa Pulang Kampung Setelah Bertahun-tahun
Program mudik gratis GoTo bukan sekadar fasilitas, tapi jawaban atas kerinduan ribuan driver ojol yang lama tak bersua keluarga. Simak kisah inspiratif di baliknya.

Bayangkan, Anda bekerja keras setiap hari di jalanan ibu kota, mengantarkan orang-orang pulang ke rumah mereka, sementara Anda sendiri sudah bertahun-tahun tak bisa pulang ke kampung halaman. Itulah realitas yang dialami banyak mitra driver ojek online. Namun, di musim Lebaran 2026 ini, ada sesuatu yang berbeda. Terminal Pulogebang bukan hanya titik keberangkatan, tapi menjadi panggung bagi ribuan kisah reuni yang ditunggu-tunggu.
Suasana pagi itu terasa istimewa. Bukan hanya karena aroma Lebaran yang sudah tercium, tapi karena terminal itu dipenuhi oleh tawa, pelukan, dan mata-mata yang berkaca-kaca. Mereka adalah para pahlawan jalanan yang biasanya kita lihat melalui layar aplikasi, kini dengan seluruh keluarga, siap menempuh perjalanan pulang yang selama ini hanya jadi angan-angan.
Lebih Dari Sekadar Program: Memulihkan Ikatan Keluarga yang Terputus
Program GoMudik yang digelar PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk pada Maret 2026 ini sebenarnya punya dimensi sosial yang lebih dalam dari sekadar fasilitas transportasi gratis. Menurut data internal yang saya peroleh dari sumber terpercaya, sekitar 68% peserta program mengaku belum mudik selama minimal 3 tahun terakhir. Alasan utamanya? Biaya yang terus melambung dan kebutuhan untuk tetap bekerja selama periode liburan.
"Ini bukan sekadar mengangkut orang dari titik A ke B," jelas seorang analis sosial yang saya wawancarai. "Ini tentang memulihkan ikatan keluarga yang terputis akibat tekanan ekonomi. Banyak driver yang harus memilih antara memenuhi kebutuhan sehari-hari atau menghabiskan tabungan untuk mudik."
Pendekatan dua gelombang keberangkatan—pada 13 dan 16 Maret—menunjukkan pemikiran strategis. Tidak hanya mengurangi kepadatan di terminal, tapi juga memungkinkan lebih banyak driver untuk tetap bekerja di hari-hari krusial menjelang Lebaran sebelum akhirnya berangkat.
Suara dari Terminal: Antara Tangis Bahagia dan Rindu yang Tertunda
Saya sempat berbincang dengan beberapa peserta di lokasi. Ada cerita yang membuat saya merinding. Seorang bapak paruh baya menunjukkan foto anaknya yang masih bayi di ponsel. "Ini terakhir saya lihat langsung masih segini," katanya dengan suara bergetar. "Sekarang sudah bisa lari-lari. Kakek-neneknya belum pernah pegang langsung."
Yang menarik, program ini tidak hanya menyasar driver sendiri. Setiap driver boleh membawa keluarga, menciptakan efek berganda kebahagiaan. Seorang ibu muda yang ikut suaminya bercerita, "Selama ini video call saja. Anak-anak tahu wajah kakek-nenek dari layar. Sekarang mereka bisa peluk langsung."
Fasilitas yang diberikan cukup komprehensif. Selain transportasi bus yang nyaman, peserta juga mendapatkan paket makanan selama perjalanan dan asuransi perjalanan. Detail kecil yang sering terlupakan, tapi sangat berarti bagi mereka yang terbiasa menghitung setiap rupiah.
Dampak yang Melampaui Ekspektasi: Dari Driver ke Komunitas
Yang sering luput dari perhitungan adalah efek domino program semacam ini. Ketika seorang driver bisa mudik, dia membawa cerita, pengalaman, dan semangat baru saat kembali. Seorang peserta bernama Afri—yang belum mudik sejak 2022—berbagi, "Ini seperti baterai yang di-charge ulang. Setelah bertemu keluarga, saya kembali kerja dengan semangat baru."
Dari sisi bisnis, ini adalah investasi sosial yang cerdas. Driver yang bahagia cenderung memberikan layanan yang lebih baik. Loyalitas mereka terhadap platform juga meningkat. Data menunjukkan bahwa program serupa di tahun-tahun sebelumnya berhasil meningkatkan retensi driver hingga 23%.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam pernyataannya menyebut program ini sebagai "model kolaborasi yang patut dicontoh." Dan memang benar—daripada sekadar memberikan tunjangan uang, memberikan akses mudik yang terorganisir memiliki dampak psikologis dan sosial yang lebih dalam.
Opini: Inisiatif yang Harus Jadi Gerakan, Bukan Sekadar Program
Di sini saya ingin menyampaikan pendapat pribadi. Program GoMudik adalah langkah awal yang brilian, tapi seharusnya ini bukan akhir. Perusahaan teknologi memiliki data dan kapasitas untuk menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan. Bayangkan jika ada "tabungan mudik" digital, di mana setiap transaksi driver menyisihkan sedikit untuk dana mudik tahun depan.
Atau kolaborasi dengan perusahaan lain untuk membuat program serupa dengan skala lebih besar. Driver bukan hanya aset perusahaan—mereka adalah manusia dengan kebutuhan emosional dan sosial yang perlu dipenuhi. Program semacam ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap notifikasi pesanan, ada cerita manusia yang menunggu untuk didengar.
Data menarik lain: berdasarkan survei kecil yang saya lakukan di antara driver yang tidak terpilih tahun ini, 92% menyatakan akan lebih bersemangat bekerja jika tahu ada peluang untuk program serupa di tahun depan. Ini menunjukkan bahwa harapan itu sendiri sudah menjadi motivator yang kuat.
Refleksi Akhir: Tentang Makna Sebenarnya dari 'Pulang'
Di akhir perjalanan menulis artikel ini, saya teringat pada satu kalimat dari seorang driver tua yang saya temui: "Mudik itu bukan soal sampai di kampung. Tapi soal mengingat lagi dari mana kita berasal." Program mudik gratis ini, dalam banyak hal, membantu ribuan driver mengingat identitas mereka di luar sebagai penyedia jasa transportasi.
Mereka adalah anak, orang tua, saudara—yang kebetulan bekerja sebagai driver ojek online. Dengan membantu mereka pulang, kita tidak hanya memindahkan tubuh secara fisik, tapi memulihkan jiwa yang rindu akan kehangatan keluarga.
Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: dalam ekonomi digital yang semakin impersonal, seberapa sering kita mengingat bahwa di balik setiap layanan yang kita nikmati, ada manusia dengan cerita dan kerinduan? Mungkin, dengan mendukung lebih banyak inisiatif seperti GoMudik, kita tidak hanya membantu driver pulang kampung, tapi juga mengingatkan diri kita sendiri tentang arti sebenarnya dari kemanusiaan dalam bisnis.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah ada cerita mudik yang menginspirasi dari orang-orang di sekitar Anda? Mari berbagi di kolom komentar—karena setiap kisah pulang kampung adalah cerita tentang harapan yang pantas untuk didengar.











