Peristiwa

Kisah Nyata di Gang Krendang: Saat Kecurigaan Warga Berubah Jadi Cerita Unik Tentang Hewan Liar di Kota

Sebuah karung besar di pundak pengamen sempat dikira berisi mayat. Ternyata, isinya adalah biawak yang ditemukan di kali. Kisah ini membuka percakapan tentang interaksi manusia dengan satwa liar urban.

Penulis:adit
6 Maret 2026
Kisah Nyata di Gang Krendang: Saat Kecurigaan Warga Berubah Jadi Cerita Unik Tentang Hewan Liar di Kota

Bayangkan Anda sedang duduk di teras rumah di sebuah gang sempit di Jakarta Barat. Malam Sabtu yang biasa-biasa saja. Lalu, lewatlah seorang pria dengan karung goni besar terhuyung-huyung di pundaknya. Langkahnya tidak pasti, sesekali berhenti, lalu berbalik arah. Dalam rekaman CCTV yang kemudian viral, siluet itu terlihat misterius dan mencurigakan. Di tengah kota metropolitan yang penuh dengan berita kriminal, pikiran warga langsung melayang ke skenario terburuk. Tapi, seperti banyak cerita di ibu kota, kebenarannya seringkali jauh lebih aneh—dan lebih manusiawi—daripada yang kita duga.

Ini bukan awal dari novel detektif, melainkan kisah nyata yang terjadi di Gang Krendang Selatan, Tambora. Peristiwa yang sempat menghebohkan lingkungan itu berawal dari sebuah kecurigaan yang wajar, namun berakhir dengan penjelasan yang tak terduga. Alih-alih menemukan bukti kejahatan, yang terungkap adalah cerita sederhana seorang pengamen bernama Dede dan ‘teman barunya’ yang bersisik.

Dari Kecurigaan Menjadi Klarifikasi: Peran Teknologi dan Komunitas

Era di mana rekaman CCTV menjadi ‘saksi bisu’ yang powerful benar-benar terlihat dalam kasus ini. Viralnya video tersebut di media sosial memicu reaksi berantai. Kecurigaan warga yang melihat ulang rekaman—bahwa karung itu mungkin berisi jenazah—adalah respons yang manusiawi dalam konteks urban. Polisi, dalam hal ini Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat yang dipimpin AKBP Arfan Zulkan Sipayung, dengan sigap melakukan penelusuran. Namun, investigasi ini memiliki twist yang menyegarkan. Ketika mereka menemukan pria yang ciri-cirinya cocok di sebuah kontrakan, yang mereka dapatkan bukanlah tersangka, melainkan seorang pria dengan penjelasan yang luar biasa.

“Isinya biawak, Pak,” kira-kira begitu penjelasan yang mengejutkan. Dede, sang pengamen, ternyata baru saja membawa pulang seekor biawak ukuran besar yang ditemukannya masih hidup di kawasan kali Petojo, Gambir. Motifnya? Ingin memelihara. Dalam percakapan video dengan anggota Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, Aiptu Zakaria, Dede menceritakan kronologinya dengan lugas. Ia menemukan biawak itu naik ke darat, memegangnya, lalu berusaha membawanya dalam kardus sebelum akhirnya menggunakan karung karena tidak ada yang mau menampung. “Karena tidak ada uang, dia jalan kaki,” jelas AKBP Arfan, menyoroti perjalanan panjang Dede dari Petojo ke Tambora dengan ‘tangkapan’nya itu.

Biawak di Kota: Bukan Pelanggaran, Tapi Fenomena Ekologis yang Menarik

Di sinilah cerita ini menjadi lebih dari sekadar berita viral. Polisi menyimpulkan tidak ada pelanggaran hukum. Dede tidak dibawa ke kantor polisi, hanya dilakukan klarifikasi. “Memang dia mau pelihara,” ujar Arfan. Keputusan ini cukup menarik untuk dicermati. Dari sudut pandang hukum, selama hewan tersebut bukan spesies yang dilindungi dan diperoleh tanpa melukai atau melanggar peraturan lain, memelihara biawak memang tidak ilegal. Biawak air (Varanus salvator) sebenarnya adalah satwa liar yang masih dapat ditemui di ekosistem perkotaan Indonesia, khususnya di daerah dekat aliran air seperti kali atau saluran.

Namun, ini membuka ruang untuk opini dan data unik. Menurut catatan komunitas herpetologi (studi tentang reptil dan amfibi) urban, interaksi antara warga kota dan biawak sebenarnya semakin sering terjadi seiring dengan menyusutnya habitat alami mereka. Biawak yang sering dianggap ‘menyeramkan’ sebenarnya adalah pemulung alamiah yang membantu mengontrol populasi tikus dan bangkai. Data dari beberapa riset kecil menunjukkan bahwa di sepanjang aliran kali di Jakarta, populasi biawak masih ada, meski terdesak. Kehadiran Dede dengan biawaknya, secara tidak langsung, adalah cermin kecil dari dinamika ekologi kota yang sering kita abaikan. Bukan hal yang aneh jika satwa liar ini kadang ‘nyasar’ ke pemukiman, mencari makanan atau tempat baru.

Refleksi: Antara Niat Baik, Kecurigaan, dan Kehidupan Urban

Ada beberapa lapisan pelajaran yang bisa diambil dari insiden yang berakhir damai ini. Pertama, tentang naluri komunitas. Kecurigaan warga, meski akhirnya meleset, muncul dari rasa peduli dan kewaspadaan lingkungan. Di sebuah kota besar, sikap seperti itu bisa menjadi modal sosial yang berharga. Kedua, tentang respons aparat. Polisi dalam kasus ini menunjukkan pendekatan yang proporsional—melakukan klarifikasi tanpa serta-merta menangkap atau memperkeruh situasi ketika tidak ditemukan pelanggaran.

Ketiga, dan ini yang paling manusiawi, tentang kisah Dede sendiri. Di balik viralitas dan heboh sementara, ada cerita seorang pengamen yang, dalam kesederhanaannya, menunjukkan rasa ingin ‘memelihara’ sebuah kehidupan lain. Apakah memelihara biawak di kontrakan adalah ide yang baik dari segi animal welfare? Mungkin tidak. Biawak adalah satwa liar yang membutuhkan ruang dan habitat khusus. Namun, niat awalnya—untuk merawat, bukan menyakiti—setidaknya memberikan nuansa berbeda pada narasi tersebut.

Jadi, lain kali Anda melihat sesuatu yang mencurigakan di lingkungan Anda, ingatlah kisah Dede dan biawaknya. Dunia ini penuh dengan kejutan, dan tidak semua yang terlihat misterius adalah ancaman. Kadang-kadang, itu hanyalah cerita tentang seseorang yang berjalan pulang dengan teman reptilnya, mencoba melakukan sesuatu yang ia anggap baik, dan tanpa sengaja mengingatkan kita semua bahwa kota kita masih berbagi ruang dengan makhluk lain. Kisah ini mungkin akan mereda dari linimasa, tetapi ia meninggalkan pesan halus: terkadang, di balik ketegangan dan kecurigaan kota besar, tersembunyi cerita-cerita kecil yang aneh, unik, dan sangat manusiawi. Bagaimana menurut Anda, pernahkah Anda mengalami atau mendengar cerita serupa tentang ‘pertemuan tak terduga’ dengan satwa liar di kota?

Dipublikasikan: 6 Maret 2026, 09:44
Diperbarui: 6 Maret 2026, 09:44