Lingkungan

Ketika Jalanan Tak Lagi Cukup: Kisah Kota-Kota yang Tumbuh Terlalu Cepat

Urbanisasi melaju kencang, tapi infrastruktur tertatih-tatih di belakangnya. Bagaimana kita menghadapi realitas kota yang tumbuh lebih cepat dari kemampuannya?

Penulis:Sera
6 Maret 2026
Ketika Jalanan Tak Lagi Cukup: Kisah Kota-Kota yang Tumbuh Terlalu Cepat

Ketika Jalanan Tak Lagi Cukup: Kisah Kota-Kota yang Tumbuh Terlalu Cepat

Bayangkan ini: Anda bangun pagi, sudah siap berangkat kerja, tapi begitu keluar rumah, yang Anda temui bukan udara segar melainkan lautan kendaraan yang tak bergerak. Bukan cuma lima atau sepuluh menit—tapi bisa berjam-jam terperangkap di jalanan yang sama setiap hari. Ini bukan skenario film distopia, ini keseharian jutaan orang di kota-kota Indonesia yang tumbuh dengan kecepatan luar biasa, sementara infrastrukturnya seperti pelari maraton yang kakinya terikat. Apa yang sebenarnya terjadi ketika kota tumbuh lebih cepat dari kemampuan kita membangunnya?

Saya pernah ngobrol dengan seorang teman yang pindah dari desa ke Jakarta sepuluh tahun lalu. "Dulu saya pikir kota adalah tempat segala kemudahan," katanya sambil tertawa getir. "Sekarang? Saya menghabiskan 4 jam sehari di jalan, air kadang mati tiga hari berturut-turut, dan harus antre 30 menit untuk naik kereta. Tapi tetap saja, lebih banyak orang datang." Ceritanya itu bukan sekadar keluhan—itu adalah gambaran nyata dari sebuah paradoks pembangunan perkotaan kita.

Magnet Bernama Kota: Daya Tarik yang Tak Terbendung

Data BPS menunjukkan sesuatu yang menarik: dalam dekade terakhir, tingkat urbanisasi Indonesia meningkat rata-rata 2,1% per tahun. Artinya, setiap tahun ada sekitar 5,5 juta orang yang memilih pindah ke kota. Mereka datang dengan harapan—pekerjaan yang lebih baik, sekolah untuk anak, rumah sakit yang lengkap. Kota memang menjanjikan, tapi apakah janji itu selalu terpenuhi?

Yang sering kita lupakan adalah matematika sederhana: jika 100 ribu orang pindah ke sebuah kota dalam setahun, kota itu butuh tambahan sekitar 25 ribu unit rumah, 200 kilometer jalan baru, 50 sekolah tambahan, dan sistem air bersih yang kapasitasnya bertambah 20%. Kenyataannya? Pembangunan infrastruktur di banyak kota besar hanya tumbuh 3-5% per tahun—jauh di bawah kebutuhan riilnya.

Infrastruktur yang Terengah-engah Mengejar

Mari kita ambil contoh konkret: transportasi. Menurut studi Institute for Transportation and Development Policy, hanya 30% perjalanan di kota-kota besar Indonesia yang menggunakan transportasi umum. Sisanya? Kendaraan pribadi. Padahal, kapasitas jalan kita hanya bertambah 1-2% per tahun, sementara jumlah kendaraan tumbuh 8-10%. Ini seperti mencoba menuangkan air dari galon ke gelas kecil—pasti tumpah ke mana-mana.

Tapi transportasi hanya satu sisi. Ada cerita lain yang jarang terdengar: tentang sistem drainase yang dibangun untuk kota berpenduduk 500 ribu, tapi sekarang harus melayani 2 juta orang. Atau tentang jaringan listrik yang sudah berusia 30 tahun, dipaksa menanggung beban tiga kali lipat dari kapasitas desainnya. Infrastruktur kita bukan hanya tertinggal—dia sedang bekerja dalam kondisi darurat permanen.

Dampak Sosial yang Tak Terlihat

Di sini saya ingin berbagi opini pribadi: masalah infrastruktur yang tertinggal ini bukan sekadar soal kemacetan atau banjir. Ini adalah masalah keadilan. Coba perhatikan—siapa yang paling menderita ketika air bersih langka? Bukan mereka yang tinggal di apartemen mewah dengan tangki air besar, tapi keluarga di pemukiman padat yang harus membeli air galon dengan harga tiga kali lipat.

Atau lihatlah anak-anak yang harus bangun jam 4 pagi untuk sampai sekolah tepat waktu karena transportasi umum tak terandalkan. Waktu yang seharusnya untuk belajar atau bermain, habis di perjalanan. Ada sebuah penelitian menarik dari Universitas Indonesia yang menemukan: siswa yang menghabiskan lebih dari 2 jam per hari di perjalanan memiliki nilai akademik 15% lebih rendah dibandingkan mereka yang perjalanannya kurang dari 30 menit. Infrastruktur yang buruk bukan cuma merugikan ekonomi—dia mencuri masa depan.

Lingkungan: Korban Diam yang Paling Menderita

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana kota-kota kita berubah? Ruang terbuka hijau menyusut—di Jakarta saja, dalam 20 tahun terakhir, RTH berkurang dari 30% menjadi hanya 9% dari total wilayah. Padahal, standar idealnya 30%. Apa akibatnya? Suhu kota meningkat 1-2 derajat, banjir lebih sering terjadi, dan kualitas udara memburuk.

Sistem pengelolaan sampah kita juga sedang kewalahan. Kota-kota besar menghasilkan rata-rata 1-1,5 kg sampah per orang per hari. Dengan populasi yang terus bertambah, tapi tempat pembuangan akhir yang tak bertambah, sampah sering kali berakhir di sungai atau dibakar sembarangan. Lingkungan menjadi korban diam dari pertumbuhan kota yang tak terkendali.

Kesenjangan: Dua Kota dalam Satu Kota

Inilah paradoks paling menyedihkan: dalam satu kota yang sama, ada dua realitas yang berbeda. Di pusat kota, Anda bisa menemukan jalan tol yang mulus, gedung pencakar langang, dan MRT yang nyaman. Tapi cobalah pergi 10 kilometer ke pinggiran—jalanan berlubang, transportasi umum minim, dan layanan dasar yang serba terbatas.

Menurut data Kementerian PUPR, akses terhadap air bersih yang layak di kawasan perkotaan Indonesia masih sekitar 70%. Angka itu terdengar lumayan, sampai Anda melihat perinciannya: di kawasan elite, aksesnya hampir 100%, sementara di pemukiman padat di pinggiran kota, angkanya bisa turun sampai 40%. Ini bukan hanya ketimpangan infrastruktur—ini ketimpangan kesempatan hidup.

Mencari Solusi di Tengah Kompleksitas

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Saya percaya kita perlu perubahan pola pikir. Selama ini, kita sering membangun infrastruktur sebagai respons terhadap masalah yang sudah terjadi (reaktif). Padahal, seharusnya kita membangun berdasarkan proyeksi kebutuhan masa depan (proaktif).

Beberapa kota di dunia sudah mencoba pendekatan menarik. Misalnya, Kota Curitiba di Brasil yang sejak 1970-an merencanakan sistem transportasi bus rapid transit (BRT) sebelum kota itu padat. Atau Singapura yang dengan disiplin menerapkan kebijakan kepemilikan kendaraan dan mengintegrasikan semua moda transportasi. Kita tidak perlu menciptakan roda baru—kita bisa belajar dari yang sudah berhasil.

Tapi yang paling penting, menurut saya, adalah melibatkan masyarakat dalam perencanaan. Sering kali, infrastruktur dibangun berdasarkan apa yang dianggap penting oleh pemerintah atau pengembang, bukan berdasarkan kebutuhan riil warga. Padahal, warga yang setiap hari hidup dengan masalah infrastruktur tahu persis apa yang mereka butuhkan.

Masa Depan Kota Kita: Sebuah Refleksi Bersama

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengajak Anda berpikir sejenak. Kota bukan sekadar kumpulan bangunan dan jalan—dia adalah tempat hidup, tempat bermimpi, tempat anak-anak kita tumbuh. Setiap kali kita menerima kemacetan sebagai "bagian dari kehidupan kota", setiap kali kita membiarkan air bersih menjadi barang mewah, setiap kali kita menganggap banjir sebagai "bencana tahunan"—kita sedang menormalisasi kegagalan.

Pertanyaannya bukan lagi "bisakah kita membangun infrastruktur yang lebih baik?" Tapi "apakah kita punya keberanian untuk memikirkan ulang cara kita membangun kota?" Mungkin kita perlu mulai dari hal kecil: mendukung transportasi umum meski kurang nyaman, menghemat air meski masih lancar, atau sekadar lebih peduli pada lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, kota yang baik tidak dibangun oleh pemerintah atau pengembang saja—dia dibangun oleh setiap warganya yang memilih untuk tidak tinggal diam.

Kota-kota kita sedang sakit, tapi bukan berarti tak bisa disembuhkan. Dia butuh perhatian, perencanaan yang matang, dan yang paling penting—komitmen bersama. Bagaimana menurut Anda? Apa satu hal kecil yang bisa kita mulai hari ini untuk membuat kota tempat kita hidup sedikit lebih layak untuk generasi mendatang?

Dipublikasikan: 6 Maret 2026, 09:41
Diperbarui: 6 Maret 2026, 09:41