Startup & Industri Kreatif

Ketika Ekonomi Bergejolak, Startup Jenis Ini Justru Makin Dicari: Bukan yang Paling Keren, tapi yang Paling Dibutuhkan

Di tengah gejolak ekonomi, startup dengan solusi praktis dan berdampak langsung justru bersinar. Simak karakteristik startup yang relevan dan tahan banting di Indonesia.

Penulis:Sera
6 Maret 2026
Ketika Ekonomi Bergejolak, Startup Jenis Ini Justru Makin Dicari: Bukan yang Paling Keren, tapi yang Paling Dibutuhkan

Ketika Ekonomi Bergejolak, Startup Jenis Ini Justru Makin Dicari: Bukan yang Paling Keren, tapi yang Paling Dibutuhkan

Bayangkan Anda sedang berjalan di tengah badai. Apa yang Anda cari? Payung yang trendi dengan desain futuristik, atau jas hujan tebal yang benar-benar membuat Anda tetap kering? Analogi sederhana ini menggambarkan betapa prioritas kita berubah drastis saat situasi tidak menentu. Demikian pula dengan dunia startup di Indonesia. Ketika angin investasi bertiup kencang, ide-ide yang paling "wah" dan disruptif sering kali menjadi bintang. Tapi, coba lihat sekarang. Di tengah gejolak ekonomi global yang mempengaruhi harga sembako hingga nilai tukar rupiah, pasar justru sedang berteriak membutuhkan sesuatu yang berbeda. Bukan startup dengan teknologi tercanggih, melainkan startup yang bisa menjadi "jas hujan" bagi masalah sehari-hari masyarakat dan pelaku usaha.

Fenomena menarik terjadi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) triwulan terakhir, sektor usaha mikro dan kecil justru menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibanding korporasi besar dalam menghadapi tekanan ekonomi. Ini adalah petunjuk penting. Ekosistem startup kita perlu mengalihkan pandangan dari mengejar unicorn semata, kepada membangun "workhorse"—startup yang bekerja keras, menyelesaikan masalah nyata, dan menghasilkan nilai ekonomi yang langsung terasa. Inilah era di mana relevansi mengalahkan glamor, dan keberlanjutan lebih penting daripada pertumbuhan eksplosif semalam.

Membaca Ulang Peta Kebutuhan: Dari Keinginan Menjadi Keharusan

Saya pernah berbincang dengan seorang pemilik warung kelontong di pinggiran Jakarta. Dia bercerita, sejak harga minyak goreng dan telur naik, pelanggannya lebih banyak menanyakan barang-barang promo dan membeli dalam jumlah pas-pasan. "Dulu bisa jual kopi sachet merek premium, sekarang yang laris justru yang harga paling murah," ujarnya. Cerita ini adalah mikro-kosmos dari perubahan besar yang sedang terjadi. Konsumen secara masif sedang melakukan downgrading dan substitution—menurunkan pilihan dan mencari alternatif yang lebih murah.

Perubahan perilaku ini membuka ruang yang sangat luas bagi startup yang paham betul akan "keharusan" dibandingkan "keinginan". Startup yang sukses di masa seperti ini adalah yang bisa menjawab pertanyaan: "Bagaimana caranya membantu orang menghemat Rp 10.000 per hari?" atau "Bagaimana memudahkan UMKM mendapatkan modal kerja tanpa proses berbelit?" Fokusnya bergeser dari menciptakan pasar baru, ke mengoptimalkan dan mempertahankan pasar yang sudah ada dengan solusi yang lebih efisien.

Tiga DNA Startup yang Tahan Banting

Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa startup yang justru tumbuh pesat selama krisis 2020-2023, setidaknya ada tiga karakteristik utama yang menonjol. Saya menyebutnya sebagai DNA startup tahan banting.

1. Penyedia Solusi "Pain Killer", Bukan "Vitamin"

Dalam dunia startup, ada istilah pain killer (obat pereda sakit) dan vitamin (suplemen tambahan). Di masa ekonomi stabil, vitamin—seperti aplikasi entertainment premium atau layanan gaya hidup—bisa laku. Tapi di masa sulit, yang laris adalah pain killer. Contoh nyata? Startup yang menyediakan platform pinjaman modal usaha cepat untuk pedagang pasar, atau aplikasi yang membantu ibu- rumah tangga membandingkan harga sembako di berbagai e-commerce secara real-time. Rasa "sakit" yang diatasi sangat jelas: kesulitan modal dan tekanan harga. Startup seperti ini tidak hanya dibutuhkan, tapi dirindukan kehadirannya.

2. Memiliki Model Bisnis yang "Anti-Fragile"

Konsep anti-fragile dari Nassim Taleb menarik untuk diterapkan. Bukan sekadar tahan terhadap guncangan (resilient), tapi justru menjadi lebih kuat karenanya. Startup dengan model ini biasanya memiliki beberapa ciri: arus kas positif sejak dini, ketergantungan pada pendanaan eksternal minimal, dan layanan yang justru semakin dibutuhkan saat kondisi memburuk. Ambil contoh startup di bidang energi terbarukan skala rumahan. Saat harga listrik naik, permintaan atas solusi panel surya justru melonjak. Atau platform skill-sharing dan freelancing, yang menjadi tumpuan bagi banyak orang yang mencari penghasilan tambahan.

3. Berakar Kuat pada Komunitas Lokal

Startup yang mengandalkan teknologi impor dan pasar global murni saat ini lebih rentan terhadap gejolak rantai pasokan dan nilai tukar. Sebaliknya, startup yang membangun ekosistemnya di sekitar komunitas lokal justru menemukan pondasi yang kokoh. Saya melihat potensi besar pada startup yang menjadi semacam "koperasi digital"—misalnya, platform yang menghubungkan petani langsung dengan konsumen akhir di kota yang sama, memotong rantai distribusi yang panjang sehingga harga lebih murah untuk konsumen dan pendapatan lebih baik untuk petani. Kepercayaan dan kedekatan emosional yang terbangun menjadi modal sosial yang tak ternilai di kala sulit.

Sektor Potensial yang (Mungkin) Terlewatkan

Selain sektor-sektor klasik seperti fintech untuk UMKM atau logistik, ada beberapa area yang menurut saya masih kurang dieksplorasi namun potensial besar di era ketidakpastian:

  • Repair & Maintenance as a Service: Daripada membeli baru, budaya memperbaiki dan merawat akan kembali kuat. Startup yang menyediakan layanan servis elektronik, sepeda motor, atau peralatan rumah tangga dengan harga terjangkau dan tepercaya akan sangat dibutuhkan.
  • Platform Barter & Pertukaran Barang Bekas Berkualitas: Uang tunai menipis, tapi aset yang tidak terpakai banyak. Platform yang memfasilitasi pertukaran barang atau jasa tanpa uang (atau dengan uang minimal) bisa menjadi solusi kreatif.
  • Solusi Kesehatan Preventif dan Terjangkau: Kesehatan adalah kebutuhan mutlak. Startup yang menawarkan layanan check-up dasar, konsultasi gizi, atau pengelolaan penyakit kronis dengan biaya rendah akan memiliki pasar yang stabil.

Opini: Waktunya Kembali ke Dasar-Dasar Bisnis

Di sini, izinkan saya menyampaikan pendapat pribadi. Gelombang ketidakpastian ekonomi ini sebenarnya adalah koreksi yang sehat bagi ekosistem startup Indonesia. Kita selama ini terlalu terpesona dengan cerita burn rate tinggi, valuasi miliaran, dan ekspansi agresif. Era baru ini memaksa setiap founder untuk kembali ke dasar-dasar bisnis yang sesungguhnya: unit ekonomi yang sehat, kepuasan pelanggan yang nyata, dan penciptaan nilai yang berkelanjutan.

Ini adalah masa keemasan bagi para pemecah masalah (problem solver) sejati. Investor pun mulai berubah. Mereka kini lebih menghargai startup dengan path to profitability yang jelas, ketimbang sekadar pertumbuhan pengguna yang didorong oleh diskon besar-besaran. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi ekonomi digital Indonesia yang lebih matang, inklusif, dan benar-benar berdiri di atas kaki sendiri.

Penutup: Membangun Ketahanan, Bukan Hanya Pertumbuhan

Jadi, jika Anda seorang founder atau calon founder yang sedang merancang startup di tengah situasi seperti sekarang, tanyakan pada diri sendiri: Apakah produk atau jasa saya adalah sesuatu yang akan tetap dicari orang ketika mereka harus mengencangkan ikat pinggang? Apakah solusi saya membuat hidup mereka lebih mudah atau lebih murah secara signifikan?

Masa-masa sulit dalam ekonomi bukanlah akhir dari inovasi. Justru, ini adalah ujian sebenarnya untuk membedakan mana startup yang sekadar mengejar tren, dan mana yang lahir dari misi menyelesaikan masalah mendasar. Startup yang dibutuhkan hari ini adalah yang berani menjadi jas hujan di tengah badai—sederhana, fungsional, dan bisa diandalkan. Mereka mungkin tidak akan menjadi berita utama di media tech internasional, tetapi mereka akan tetap berdiri, melayani, dan berkembang sementara yang lain mungkin sudah angkat kaki. Pada akhirnya, ketahananlah yang akan bercerita, bukan hanya kecepatan. Mari bangun startup yang bukan hanya hebat di masa senang, tapi tangguh di masa sulit.

Dipublikasikan: 6 Maret 2026, 10:05
Diperbarui: 6 Maret 2026, 10:05