InternasionalLingkungan

Dunia Bergerak: Dari Pakta Belém Menuju Masa Depan Tanpa Plastik dan Emisi

Analisis mendalam hasil KTT Iklim 2026 di Brasil. Bagaimana Pakta Belém mengubah aturan main global untuk plastik dan dekarbonisasi, serta tantangan nyata di lapangan.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
6 Maret 2026
Dunia Bergerak: Dari Pakta Belém Menuju Masa Depan Tanpa Plastik dan Emisi

Bayangkan Anda sedang berjalan-jalan di pantai. Bukannya pasir putih atau kerang indah, yang Anda lihat adalah botol plastik, sedotan, dan bungkus makanan yang berserakan. Sekarang, bayangkan adegan itu perlahan menghilang dari seluruh pantai di dunia dalam beberapa tahun ke depan. Itulah visi ambisius yang baru saja dirajut oleh para pemimpin dunia di hutan hujan Amazon. KTT Iklim 2026 di Belém, Brasil, bukan sekadar pertemuan rutin. Ini adalah momen di mana dunia, dengan segala kompleksitasnya, akhirnya sepakat untuk mengambil langkah drastis. Mereka tidak lagi hanya bicara soal 'mengurangi', tapi soal 'menghentikan'. Dan targetnya jelas: mengucapkan selamat tinggal pada era plastik sekali pakai.

Pakta Belém: Lebih Dari Sekadar Tanda Tangan di Atas Kertas

Disebut 'Pakta Belém', kesepakatan ini memiliki dua pilar utama yang saling terkait. Pilar pertama adalah larangan total produksi dan penggunaan plastik sekali pakai secara global, dengan batas waktu tahun 2028. Ini bukan target yang longgar. Artinya, dalam waktu kurang dari empat tahun, industri di seluruh dunia harus menemukan cara untuk mengganti material yang telah menjadi tulang punggung kemasan modern selama puluhan tahun. Yang menarik dari pilar kedua adalah mekanisme pendanaannya. Alih-alih sekadar janji, negara-negara maju mengikatkan diri pada komitmen dana bantuan tahunan sebesar 150 miliar dolar AS. Dana ini khusus dialokasikan untuk membantu negara-negara berkembang dan ekonomi transisi dalam melakukan lompatan teknologi—bukan sekadar mengganti plastik dengan kertas, tapi bertransisi ke material bioplastik yang benar-benar dapat terurai secara alami dan berkelanjutan.

Dekarbonisasi Sektor 'Sulit': Penerbangan dan Pelayaran Akhirnya Bergerak

Sementara isu plastik mendapat sorotan utama, ada terobosan signifikan di sektor yang sering dianggap 'sulit didekarbonisasi': penerbangan dan pelayaran internasional. Selama ini, kedua sektor ini seperti mendapat keringanan karena sifat operasinya yang lintas batas negara. Pakta Belém mengakhiri era itu. Kini, ada mandat global yang mewajibkan penggunaan minimal 20% Bahan Bakar Aviasi Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) untuk semua penerbangan internasional. Untuk industri pelayaran, disepakati standar emisi yang jauh lebih ketat dan percepatan adopsi teknologi hijau seperti tenaga angin bantu dan bahan bakar amonia hijau.

Proses menuju kesepakatan ini tentu tidak mulus. Delegasi dari beberapa negara produsen minyak tradisional sempat menyulut ketegangan dengan menyatakan keberatan keras. Mereka berargumen bahwa target waktu terlalu agresif dan mengancam stabilitas ekonomi serta ketahanan energi. Namun, tekanan datang dari berbagai arah. Yang unik kali ini adalah tekanan tidak hanya dari aktivis lingkungan, tetapi juga dari kalangan bisnis global—khususnya perusahaan asuransi dan reasuransi yang kewalahan membayar klaim akibat bencana iklim yang semakin intens. Data dari konsorsium ilmuwan independen yang dipresentasikan dalam KTT menunjukkan, tanpa aksi drastis ini, peluang membatasi kenaikan suhu di bawah 1,5°C akan lenyap sebelum 2030. Fakta inilah yang akhirnya memecah kebuntuan.

Opini: Antara Ambisi dan Realitas di Lapangan

Sebagai penulis yang mengikuti isu ini, saya melihat Pakta Belém adalah kemenangan diplomasi iklim yang monumental. Namun, di balik euforia penandatanganan, ada jurang implementasi yang sangat lebar yang harus diseberangi. Komitmen 150 miliar dolar AS terdengar fantastis, tetapi sejarah menunjukkan dana iklim global sering tersendat oleh birokrasi, korupsi, dan salah alokasi. Pertanyaan kritisnya: akankah dana ini benar-benar sampai ke pengusaha kecil di Asia Tenggara yang ingin membangun pabrik bioplastik dari limbah pertanian, atau justru tersedot oleh proyek-proyek mercusuar yang tidak tepat sasaran?

Data dari Asosiasi Industri Bioplastik Eropa memperkirakan, kapasitas produksi bioplastik global saat ini baru memenuhi sekitar 15% dari kebutuhan potensial pasca-2028. Artinya, diperlukan investasi dan inovasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tantangan lainnya adalah 'efek samping' dari transisi. Misalnya, apakah penggantian massal ke bioplastik berbasis tanaman akan memicu konversi lahan pertanian pangan, sehingga malah menimbulkan masalah ketahanan pangan baru? Pakta Belém masih kurang detail dalam mengantisipasi risiko semacam ini.

Menutup dengan Refleksi: Peran Kita di Tengah Perubahan Besar

Jadi, apa arti semua ini bagi kita yang hidup dari hari ke hari? KTT di Belém mungkin terasa jauh, terjadi di antara para diplomat dan menteri. Tetapi keputusan mereka akan menyentuh hidup kita dengan cara yang sangat nyata. Coba pikirkan: ritual kopi pagi dengan gelas plastik, belanja bulanan dengan segunung kantong kresek, atau bahkan bungkus snack favorit anak—semua itu akan berubah wajah dalam hitungan tahun.

Perubahan kebijakan global ini seharusnya bukan menjadi alasan untuk pasif, menunggu regulasi turun. Justru, ini adalah momentum untuk mulai bertanya dan beradaptasi. Sebagai konsumen, kita bisa mulai lebih kritis: produk apa yang sudah menggunakan kemasan ramah lingkungan? Sebagai bagian masyarakat, kita bisa mendorong pasar tradisional dan UMKM lokal untuk mencari alternatif. Era baru pasca-plastik sekali pakai bukanlah akhir dari kenyamanan, melainkan awal dari sebuah kreativitas baru dalam hidup berdampingan dengan planet ini. Pakta Belém adalah kompasnya, tetapi kapal bernama Bumi ini dikemudikan oleh miliaran tangan kita semua. Apakah kita siap memegang kemudinya?

Dipublikasikan: 6 Maret 2026, 09:48
Diperbarui: 6 Maret 2026, 09:48