Di Balik Upacara Militer: Kisah Dua Marinir yang Gugur dalam Tugas dan Duka Keluarga di Lampung
Prosesi penghormatan terakhir bagi dua prajurit Marinir korban longsor Cisarua tiba di Lampung. Lebih dari sekadar upacara, ini adalah cerita tentang pengabdian, kehilangan, dan pencarian yang belum usai.

Bandara Raden Inten II di Lampung sore itu terasa berbeda. Bukan hanya karena lalu lintas penumpang biasa, melainkan karena ada kesunyian yang menghormat. Di antara deru mesin pesawat dan aktivitas bandara, sebuah pesawat CN212-200 MPA mendarat membawa muatan yang paling berat: dua peti jenazah prajurit yang gugur jauh dari kampung halamannya. Ini bukan sekadar laporan kedatangan; ini adalah awal dari perjalanan terakhir dua anak bangsa yang mengikrarkan diri untuk negara.
Saya membayangkan perasaan keluarga yang menunggu di luar pagar bandara. Harap-harap cemas berubah menjadi kepastian yang paling pahit. Serda Mar Sidik Harianto dan Praka Mar Muhammad Kori—dua nama yang mungkin tidak dikenal publik luas—kini pulang bukan dengan senyum kemenangan setelah latihan, tetapi dalam keheningan yang diselimuti bendera Merah Putih. Mereka adalah bagian dari 23 personel Marinir yang tertimbun tanah longsor di Cisarua, sebuah tragedi yang mengingatkan kita betapa berisiknya tugas menjaga kedaulatan negara.
Detik-detik Penghormatan Terakhir di Tanah Kelahiran
Pukul 13.15 WIB, tepat lima menit setelah pesawat dengan nomor registrasi U-6216 mendarat, sebuah upacara militer singkat namun khidmat digelar. Bayangkan suasana itu: barisan prajurit dengan seragam lengkap, hormat yang dikedepankan, dan peti jenazah yang dibawa dengan penuh kehormatan. Ini adalah bahasa universal militer di seluruh dunia—sebuah janji bahwa tidak ada prajurit yang akan ditinggalkan, baik dalam hidup maupun dalam kematian.
Kiki Eprina Arieanti, General Manager KC Bandara Radin Inten II, mengonfirmasi bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan agenda TNI Angkatan Udara yang dilaksanakan di Terminal VIP. "Kegiatan upacara penyambutan jenazah yang berlangsung di Terminal VIP Bandara Raden Inten," katanya. Dalam kurun waktu hanya 25 menit—dari pukul 13.15 hingga 13.40 WIB—seluruh prosesi selesai. Efisiensi militer bertemu dengan penghormatan tradisional.
Perjalanan Pulang yang Tak Pernah Direncanakan
Dua rute berbeda menuju rumah duka pun dimulai. Serda Mar Sidik Harianto akan disemayamkan di Jalan Garuda No.6, Kotabumi, Lampung Utara—sebuah alamat yang mungkin biasa-biasa saja bagi orang lain, tetapi kini menjadi pusat perhatian dan duka. Ia akan dimakamkan secara militer di TPU Penitis, Kotabumi, dengan segala penghormatan yang layak diterima seorang prajurit.
Sementara itu, perjalanan Praka Mar Muhammad Kori menuju Dusun IX Pacitan, Desa Kibang, Lampung Timur, mungkin melewati jalan-jalan yang biasa ia lalui saat masih kecil. Saya membayangkan tetangga-tetangga yang mengenalnya sejak kecil kini berkumpul, bukan untuk menyambut kepulangannya yang riang, tetapi untuk mengantarkan ke peristirahatan terakhir.
Data yang Menggugah: Lebih dari Sekadar Angka
Mari kita lihat konteks yang lebih luas. Menurut data yang diungkapkan Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali, ada 23 personel Marinir yang tertimbun longsor di Cisarua. Hingga saat ini, baru empat yang ditemukan meninggal dunia. Artinya, masih ada 19 prajurit lainnya yang belum ditemukan—19 keluarga yang masih menggantungkan harapan pada tim pencarian.
Mohammad Syafii dari Basarnas menyebutkan fakta yang menyentuh: sejak 24 hingga 26 Januari 2026, tim telah mengevakuasi 29 kantong jenazah (body bag). Angka ini lebih besar dari jumlah korban yang dinyatakan karena kondisi jenazah yang tidak utuh. Semua jenazah diserahkan ke Tim DVI Polda Jawa Barat untuk identifikasi—proses yang membutuhkan ketelitian dan empati luar biasa.
Di sini saya ingin menyampaikan sebuah opini: tragedi Cisarua ini mengungkap dua realitas sekaligus. Pertama, tentang risiko nyata yang dihadapi prajurit kita bahkan saat sedang berlatih—bukan hanya di medan perang. Kedua, tentang sistem respons bencana militer kita yang ternyata memiliki protokol yang jelas untuk menghormati yang gugur. Ini adalah sisi humanis dari institusi yang sering hanya dilihat dari sisi kekuatannya.
Latihan untuk Perbatasan yang Berakhir Tragis
Ada detail penting yang perlu direnungkan: para prajurit ini sedang menjalani latihan persiapan pengamanan wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Mereka bersiap untuk tugas di wilayah terpencil, mungkin jauh dari keluarga berbulan-bulan, namun justru gugur dalam persiapan. Hujan yang mengguyur Cisarua selama dua hari berturut-turut menjadi pemicu yang tak terduga.
Ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang pahit: alam tidak memandang seragam. Sehebat apa pun persiapan militer, ada faktor-faktor di luar kendali manusia yang bisa mengubah segalanya. Tim SAR gabungan yang masih terus bekerja dengan alat berat dan drone di lokasi longsor adalah bukti bahwa pencarian tidak akan berhenti selama masih ada harapan.
Refleksi Akhir: Lebih dari Sekadar Berita
Ketika kita membaca berita seperti ini, mudah terjebak pada datanya: berapa korban, di mana lokasi, kapan kejadian. Tetapi di balik setiap angka ada cerita manusia. Ada Sidik yang punya keluarga di Kotabumi, ada Muhammad yang dibesarkan di Kibang. Ada impian yang terputus, ada janji yang tak bisa ditepati, dan ada meja makan yang akan selalu menyisakan satu kursi kosong.
Upacara militer di bandara itu bukan sekadar protokol. Itu adalah bahasa terakhir yang bisa diberikan negara kepada anak-anak terbaiknya. Itu adalah cara mengatakan, "Kami mengenang pengabdianmu." Dan ketika peti jenazah itu akhirnya tiba di rumah duka, di sanalah tugas negara berakhir dan tangisan keluarga dimulai.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk melakukan sesuatu yang sederhana: ingatlah nama mereka. Bukan hanya sebagai korban longsor, tetapi sebagai prajurit yang gugur dalam pengabdian. Dan untuk 19 prajurit yang masih dicari, mari kita doakan agar tim SAR diberikan kekuatan dan kejelian. Karena di balik setiap seragam militer, ada manusia dengan cerita yang layak dikenang.