Dari Aksi Damai ke Ricuh Massal: Kisah Pilu di Depan Kampus UNM yang Berakhir dengan Batu dan Kerusakan
Aksi solidaritas mahasiswa berubah ricuh saat berhadapan dengan massa pengemudi ojol. Bagaimana sebuah kesalahpahaman kecil bisa memicu kerusuhan yang merusak fasilitas kampus? Simak analisis lengkapnya.

Bayangkan suasana sore di depan kampus. Suara orasi mahasiswa yang penuh semangat, spanduk berisi tuntutan, dan lalu lintas yang tetap ramai seperti biasa. Itulah pemandangan yang seharusnya terjadi di depan Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Kamis malam, 4 Maret 2026. Tapi dalam sekejap, suasana itu berubah total. Suara orasi berganti dengan teriakan kemarahan, dan batu-batu beterbangan menggantikan kata-kata protes. Sebuah aksi damai berubah menjadi bentrokan massal antara mahasiswa dan ratusan pengemudi ojek online. Apa yang sebenarnya terjadi di Jalan AP Pettarani malam itu? Kisah ini lebih kompleks dari sekadar dua kelompok yang saling serang.
Dari Solidaritas Menjadi Konflik: Titik Awal yang Rapuh
Semua bermula dari niat baik. Mahasiswa UNM berkumpul untuk menyuarakan keprihatinan atas insiden penembakan remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo. Aksi ini adalah bentuk solidaritas yang lazim di kalangan kampus. Menurut catatan beberapa pengamat sosial, aksi mahasiswa di Makassar dalam beberapa tahun terakhir cenderung lebih terorganisir dan damai. Namun, malam itu berbeda. Di tengah aksi yang berlangsung sejak sore, sebuah insiden kecil terjadi: seorang pengemudi ojek online yang sedang melintas terlibat perselisihan dengan massa mahasiswa. Motor miliknya dilaporkan dirusak. Inilah titik kritisnya. Dalam konteks sosial Makassar, di mana solidaritas kelompok sangat kuat, perusakan satu motor tidak lagi dilihat sebagai insiden personal, melainkan sebagai serangan terhadap komunitas secara keseluruhan.
Ledakan Emosi Kolektif: Ketika Solidaritas Berbalik Arah
Berita tentang motor yang dirusak menyebar cepat di kalangan komunitas pengemudi ojol. Dalam waktu singkat, ratusan dari mereka bergerak menuju kampus UNM. Ini bukan sekadar soal membela rekan, tapi lebih pada pertahanan harga diri komunitas yang kerap merasa termarginalkan. Data dari Asosiasi Pengemudi Ojol Indonesia (APOI) cabang Sulsel menunjukkan bahwa 68% pengemudi mengaku pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan selama bekerja. Akumulasi rasa frustrasi ini mungkin menjadi bensin yang memicu reaksi berlebihan. Mereka masuk ke area kampus, dan ketegangan yang sudah memuncak meledak menjadi aksi saling lempar batu. Fasilitas kampus menjadi korban: kaca-kaca pecah, properti rusak. Adegan yang mirip dengan konflik horizontal, padahal kedua kelompok ini sebenarnya berasal dari kelas sosial yang tidak jauh berbeda.
Intervensi Aparat dan Narasi Resmi
Aparat TNI dan Polri yang sudah berada di lokasi akhirnya turun tangan meredakan situasi. Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, memberikan penjelasan yang mencoba mereduksi kompleksitas kejadian menjadi "kesalahpahaman". Dalam pernyataannya, dia menyebutkan konteks waktu: masyarakat sedang bersiap berbuka puasa dan salat tarawih. Narasi ini menarik, karena mencoba menempatkan kejadian dalam frame religius dan keseharian. Namun, apakah penjelasan ini cukup? Polisi berjanji memproses hukum baik untuk perusakan motor maupun kerusakan fasilitas kampus. Tapi yang lebih penting dari proses hukum adalah pertanyaan: mengapa mekanisme penyelesaian konflik di level masyarakat gagal mencegah eskalasi ini?
Melihat Lebih Dalam: Analisis Sosial di Balik Bentrokan
Sebagai penulis yang mengamati dinamika sosial kota-kota besar, saya melihat kejadian ini bukanlah insiden terisolasi. Ini adalah gejala dari tiga masalah yang lebih besar. Pertama, komunikasi antar-kelompok yang rapuh. Mahasiswa dan pengemudi ojol sebenarnya adalah dua kelompok yang hidup dalam ekosistem perkotaan yang sama, namun seringkali tidak memiliki saluran dialog yang efektif. Kedua, akumulasi stres ekonomi dan sosial. Baik mahasiswa (dengan tekanan akademik dan masa depan) maupun pengemudi ojol (dengan ketidakpastian penghasilan) hidup dalam tekanan yang tinggi, membuat mereka lebih rentan terhadap konflik. Ketiga, efek mobilitas informasi yang instan. Penyebaran informasi tentang motor yang dirusak melalui grup-grup WhatsApp atau media sosial dapat memicu mobilisasi massa dengan kecepatan yang tidak terantisipasi oleh pihak manapun.
Data dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2025 menunjukkan bahwa 42% konflik horizontal di perkotaan dipicu oleh insiden kecil yang kemudian dianggap sebagai serangan terhadap identitas kelompok. Pola ini terlihat jelas dalam kejadian di UNM. Satu hal yang sering terlupakan dalam pemberitaan adalah bahwa baik mahasiswa maupun pengemudi ojol sebenarnya memiliki kepentingan yang sama: keadilan sosial dan perbaikan hidup. Mahasiswa memperjuangkan keadilan untuk korban penembakan, sementara pengemudi ojol memperjuangkan penghormatan terhadap profesi dan aset mereka. Ironisnya, perjuangan untuk keadilan justru berakhir dengan ketidakadilan baru: kerusakan fasilitas publik dan trauma kolektif.
Refleksi Akhir: Belajar dari Luka Bersama
Ketika debu kericuhan telah mereda dan batu-batu berserakan telah dibersihkan, yang tersisa adalah pertanyaan yang lebih dalam bagi kita semua. Bagaimana kita, sebagai masyarakat urban, membangun mekanisme untuk mencegah eskalasi konflik dari hal-hal sepele? Kejadian di UNM mengajarkan bahwa dalam era di mana solidaritas bisa dengan mudah dikobarkan melalui gawai, kita juga perlu mengembangkan budaya de-eskalasi. Bukan berarti mengabaikan masalah, tapi belajar menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Mungkin inilah saatnya kampus-kampus tidak hanya menjadi menara gading akademik, tapi juga laboratorium sosial untuk resolusi konflik. Bagaimana jika UNM memelopori forum dialog rutin antara mahasiswa, komunitas pengemudi ojol sekitar kampus, dan aparat setempat? Bagaimana jika aksi-aksi sosial dirancang dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap aktivitas warga sekitar? Pada akhirnya, kota yang sehat bukanlah kota tanpa konflik, tapi kota yang mampu mengelola konflik tanpa merusak. Mari kita renungkan: sudahkah kita membangun jembatan komunikasi dengan kelompok-kelompok yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari kita? Karena terkadang, mencegah batu beterbangan dimulai dari kesediaan kita untuk mendengarkan sebelum bereaksi.