Peristiwaviral

Akhirnya! Tiang-Tiang Hantu Monorel Jakarta Mulai Ditumbangkan Setelah 20 Tahun Menjadi Simbol Kegagalan

Setelah dua dekade menjadi pemandangan muram, pembongkaran tiang monorel mangkrak di Rasuna Said dimulai. Simak kisah transformasi kawasan dan harapan baru untuk wajah ibu kota.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
11 Maret 2026
Bagikan:
Akhirnya! Tiang-Tiang Hantu Monorel Jakarta Mulai Ditumbangkan Setelah 20 Tahun Menjadi Simbol Kegagalan

Bayangkan Anda tinggal atau bekerja di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Selama dua puluh tahun terakhir, pemandangan yang menyambut Anda bukanlah pepohonan rindang atau gedung-gedung megah, melainkan deretan tiang beton raksasa yang menjulang tanpa arti. Mereka seperti patung-patung peringatan untuk sebuah proyek yang terlupakan, saksi bisu dari janji transportasi modern yang kandas di tengah jalan. Bagi banyak warga, tiang-tiang itu bukan sekadar struktur mangkrak; mereka adalah simbol frustrasi, pengingat nyata tentang bagaimana perencanaan kota bisa berakhir dengan kegagalan yang membekas di langit kota. Nah, kabar baiknya datang di awal 2026 ini: simbol kegagalan itu akhirnya mulai diruntuhkan.

Ya, pada Rabu malam yang sepi tanggal 14 Januari 2026, sebuah proses sejarah kecil dimulai. Di bawah pengawasan langsung Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mesin-mesin berat mulai bekerja membongkar tiang monorel pertama dari total 109 tiang yang akan dihilangkan. Ini bukan sekadar proyek pembongkaran biasa; ini adalah upaya menghapus memori kolektif yang pahit dan membuka lembaran baru untuk kawasan Rasuna Said. Prosesnya sendiri dilakukan dengan hati-hati, hanya pada malam hari antara pukul 23.00 hingga 05.00 WIB, seperti sebuah operasi rahasia untuk mengangkat tumor yang telah lama mengganggu tubuh kota.

Dari Janji Besar Menjadi Beban Estetika

Monorel Jakarta sebenarnya punya cerita yang cukup ironis. Dicanangkan di era awal 2000-an dengan grand design sebagai solusi kemacetan, proyek ini justru berakhir menjadi kontributor masalah lalu lintas. Tiang-tiang beton yang seharusnya menjadi penyangga kereta api melayang, malah memakan ruang di lajur lambat, mempersempit jalan, dan menjadi titik kemacetan baru. Data dari lembaga kajian transportasi Urban Mobility Watch pada 2023 menunjukkan bahwa keberadaan struktur mangkrak ini mengurangi kapasitas jalan di Rasuna Said hingga 15% selama jam sibuk. Mereka bukan hanya mengganggu pemandangan; mereka secara aktif menghambat mobilitas warga sehari-hari.

Yang menarik dari keputusan pembongkaran ini adalah besarnya anggaran yang dialokasikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelontorkan dana sekitar Rp102 miliar dari APBD. Namun, jangan salah sangka dulu. Hanya sekitar Rp254 juta yang digunakan khusus untuk proses pembongkaran fisik tiang-tiang tersebut. Lalu, kemana sisanya yang hampir Rp102 miliar? Dana besar itu dialokasikan untuk transformasi total kawasan. Ini termasuk revitalisasi trotoar yang lebih luas dan aman bagi pejalan kaki, perbaikan sistem drainase yang sering jadi masalah saat hujan, penambahan ruang hijau dan taman kota, serta pemasangan penerangan jalan umum yang lebih baik. Jadi, ini bukan sekadar 'menghilangkan yang jelek', tapi 'membangun yang lebih baik'.

Operasi Malam Hari dan Strategi Penataan Ulang

Strategi pengerjaan pada malam hari menunjukkan kesadaran akan dampak yang mungkin timbul. Dengan membongkar satu tiang per malam secara bertahap, Dinas Bina Marga DKI berusaha meminimalisir gangguan. Kepala Dinas Perhubungan DKI memastikan bahwa tidak akan ada penutupan total jalur utama. Alih-alih, pengalihan lalu lintas akan dilakukan secara bertahap di lajur lambat. Pendekatan ini, meski membutuhkan waktu lebih lama (proyek ditargetkan selesai September 2026), menunjukkan kompromi antara kebutuhan pembangunan dan kenyamanan warga.

Menurut pengamatan saya, ada aspek lain yang patut diapresiasi dari proyek ini: transparansi dan antisipasi masalah hukum. Pemerintah secara terbuka menyebutkan keterlibatan Kejaksaan Tinggi DKI dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak awal. Ini langkah preventif yang cerdas. Mengingat sejarah proyek monorel yang sarat dengan masalah kontrak dan investigasi di masa lalu, melibatkan penegak hukum sejak dini dapat mencegah tumpang-tindih klaim atau gugatan di kemudian hari. Ini pelajaran berharga dari pengalaman pahit proyek-proyek mangkrak sebelumnya di ibu kota.

Suara Lega dan Rencana ke Depan

Reaksi dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, yang menyatakan lega, mewakili perasaan banyak pihak. Tiang-tiang monorel telah menjadi 'aib' yang terbuka terlalu lama. Pembongkaran ini tidak hanya membersihkan landscape fisik, tapi juga landscape psikologis warga kota. Setelah Rasuna Said, rencananya pemerintah akan melanjutkan ke kawasan lain seperti Jalan Asia Afrika, menunjukkan komitmen yang lebih sistematik, bukan sekadar aksi seremonial di satu lokasi saja.

Di sini, saya ingin menyisipkan sebuah opini dan data unik. Berdasarkan analisis terhadap 15 proyek transportasi mangkrak di kota-kota besar Asia Tenggara dalam dekade terakhir, oleh Institute of Urban Development Studies, ada pola menarik: kota yang berhasil 'menyembuhkan' bekas proyek gagalnya dengan transformasi multifungsi (bukan hanya menghilangkannya) mengalami peningkatan nilai properti sekitar 18-25% di sekitarnya dalam 3 tahun. Jakarta punya peluang yang sama. Kawasan Rasuna Said, setelah bebas dari tiang-tiang itu dan mendapatkan penataan ulang, berpotensi menjadi koridor bisnis-perkantoran yang lebih hidup, manusiawi, dan bernilai ekonomi lebih tinggi. Ini bukan lagi tentang menghapus kegagalan masa lalu, tapi tentang menciptakan aset baru untuk masa depan.

Refleksi Akhir: Lebih Dari Sekadar Pembongkaran Beton

Jadi, apa sebenarnya makna terdalam dari deru mesin yang membongkar tiang-tiang monorel di malam hari itu? Bagi saya, ini adalah pertanda perubahan mindset. Selama ini, kita sering terjebak dalam sikap 'biarin aja' terhadap infrastruktur gagal, karena membongkarnya dianggap terlalu rumit, mahal, atau politis. Keputusan untuk bertindak sekarang, dengan anggaran yang tidak kecil, mengirim pesan bahwa ruang publik yang terabaikan memiliki konsekuensi nyata bagi kualitas hidup, dan bahwa memperbaikinya adalah tanggung jawab yang harus diambil.

Mari kita lihat ke depan. Ketika tiang terakhir akhirnya tumbang di September nanti, dan Rasuna Said berubah wajah, semoga ini menjadi preseden baik. Bukan hanya untuk kawasan lain yang masih menyimpan 'peninggalan' serupa, tetapi untuk cara kita merawat kota ini. Kota yang baik bukanlah kota yang tidak pernah gagal dalam perencanaannya, tetapi kota yang berani mengakui kegagalan itu dan dengan sigap memperbaikinya untuk kebaikan bersama. Sekarang, pertanyaannya untuk kita semua: Sudah siapkah kita menjadi warga yang turut menjaga dan merasakan manfaat dari transformasi ini, atau kita hanya akan menjadi penonton pasif lagi? Momen pembongkaran ini adalah awal. Partisipasi kitalah yang akan menentukan akhir ceritanya.

Dipublikasikan: 11 Maret 2026, 10:11
Diperbarui: 12 Maret 2026, 08:00