Internasional

Venezuela vs AS: Ketika Klaim 'Kepatuhan' Justru Memantik Api Perlawanan

Di tengah klaim Washington soal kesiapan kerja sama, sekutu Maduro justru mengeluarkan pernyataan penolakan paling keras. Ini bukan sekadar bantahan diplomatik, melainkan cerminan pertarungan geopolitik yang semakin panas di awal 2026.

Penulis:khoirunnisakia
7 Januari 2026
Venezuela vs AS: Ketika Klaim 'Kepatuhan' Justru Memantik Api Perlawanan

Bayangkan sebuah panggung sandiwara internasional di mana satu pihak mengklaim lawannya sudah siap menyerah, sementara pihak yang disebut justru berdiri tegak sambil mengacungkan tinju. Itulah gambaran kasar dari dinamika panas antara Venezuela dan Amerika Serikat yang kembali memanas di awal tahun 2026. Klaim dari Washington yang terdengar begitu yakin—seolah Caracas akan patuh pada kemauannya—langsung dibalas dengan penolakan yang lebih keras dari batu.

Berita ini membuka rubrik Dunia Hari Ini edisi Senin, 5 Januari 2026, dan langsung menyita perhatian. Bukan tanpa alasan. Pernyataan dari sekutu Presiden Nicolás Maduro ini bukan sekadar sanggahan protokoler, melainkan tamparan diplomatik yang sengaja dikeraskan volumenya. Mereka menegaskan, Venezuela tidak akan tunduk pada tekanan atau kebijakan apa pun dari Washington. Ini adalah soal kedaulatan, dan bagi mereka, kedaulatan itu harga mati.

Sikap keras ini muncul sebagai respons langsung atas narasi yang dibangun pihak AS, yang mengisyaratkan peluang kerja sama dengan pemerintahan sementara Venezuela pimpinan Delcy Rodríguez. Narasi itu bahkan diperkuat oleh pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump. Namun, di Caracas, klaim tersebut dianggap sebagai ilusi atau bahkan strategi tekanan psikologis. Kubu pemerintah dengan tegas membantah, menegaskan bahwa kebijakan nasional mereka akan tetap ditentukan secara mandiri, tanpa intervensi asing.

Pemerintah Venezuela melihat pernyataan AS itu bukan sebagai ajakan bekerja sama, melainkan sebagai bentuk tekanan politik klasik yang berusaha mencampuri urusan dalam negeri. Bagi banyak pengamat, ini adalah pola yang berulang dalam hubungan kedua negara yang sudah puluhan tahun diwarnai ketegangan. Menariknya, data dari Council on Foreign Relations menunjukkan bahwa sejak 2019, lebih dari 80% pernyataan resmi pemerintah Venezuela terhadap AS bernada penolakan atau konfrontasi, menunjukkan konsistensi sikap yang jarang goyah meski di bawah tekanan sanksi ekonomi yang berat.

Di balik semua retorika ini, ada opini yang patut dipertimbangkan: konfrontasi ini mungkin bukan sekadar adu klaim. Ini adalah pertunjukan kekuatan untuk konsumsi domestik dan regional. Bagi Maduro, menunjukkan ketegasan melawan AS adalah cara untuk memperkuat legitimasi di mata pendukungnya yang mengidolakan sikap anti-imperialis almarhum Hugo Chávez. Sementara bagi sebagian kalangan di AS, menciptakan narasi ‘Venezuela yang patuh’ bisa jadi adalah upaya untuk membangun persepsi keberhasilan diplomasi, terlepas dari kenyataan di lapangan.

Pada akhirnya, episode ini mengajarkan satu hal: dalam politik internasional, yang terlihat di permukaan seringkali hanya puncak gunung es. Klaim dan bantahan yang saling silang ini adalah bahasa dari sebuah permainan yang lebih besar—permainan pengaruh, kedaulatan, dan survival. Sebelum kita serta-merta mempercayai narasi ‘kepatuhan’ atau ‘penolakan’, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: siapa yang paling diuntungkan dari cerita ini? Dan yang lebih penting, di tengah hiruk-pikuk perang kata-kata, suara rakyat Venezuela yang menghadapi tantangan ekonomi sehari-hari, jangan-jangan justru tenggelam tak terdengar.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 07:56
Diperbarui: 22 Januari 2026, 00:33