Sosial & Budaya

Suara dari Jalanan: Ketika Tuntutan Hidup Layak Bergema di Tengah Kota

Aksi buruh bukan sekadar demonstrasi, tapi cerminan perjuangan sehari-hari untuk hidup yang lebih bermartabat di tengah tekanan ekonomi yang kian berat.

Penulis:khoirunnisakia
15 Januari 2026
Suara dari Jalanan: Ketika Tuntutan Hidup Layak Bergema di Tengah Kota

Cerita di Balik Spanduk dan Teriakan

Bayangkan ini: pagi-pagi sekali, sebelum matahari sepenuhnya terbit, seorang bapak sudah bersiap meninggalkan rumahnya di pinggiran kota. Tas berisi bekal sederhana di tangan kiri, helm di tangan kanan, dan di kepalanya berkecamuk perhitungan: apakah gaji bulan ini cukup untuk biaya sekolah anak, cicilan rumah sakit ibunya, dan masih tersisa untuk belanja sembako? Ini bukan fiksi. Ini realitas yang dihadapi jutaan pekerja Indonesia setiap harinya. Dan pada 15 Januari 2026, realitas itu memenuhi jalanan di depan Gedung DPR, bukan sebagai keluhan pribadi, tapi sebagai tuntutan kolektif yang tak bisa lagi diabaikan.

Apa yang sebenarnya terjadi ketika ribuan orang memilih meninggalkan pekerjaan mereka sehari-hari untuk berdiri di bawah terik matahari? Ini lebih dari sekadar 'unjuk rasa' seperti yang sering diberitakan secara dangkal. Ini adalah puncak gunung es dari akumulasi ketidakpuasan yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Menurut data Badan Pusat Statistik terakhir, daya beli masyarakat menurun signifikan seiring inflasi yang terus menggerus nilai upah. Sementara harga kebutuhan pokok naik rata-rata 8-12% per tahun, penyesuaian upah minimum seringkali tak sampai separuhnya. Celah inilah yang membuat banyak keluarga pekerja terjepit dalam siklus ekonomi yang semakin sulit.

Lebih dari Sekadar Angka: Makna di Balik Tuntutan

Jika kita mendengar tuntutan 'kenaikan upah', seringkali yang terbayang adalah permintaan tambahan nominal semata. Padahal, bagi para buruh yang turun ke jalan, ini adalah soal keberlangsungan hidup yang sangat mendasar. Seorang pekerja di sektor manufaktur yang saya wawancarai secara informal menjelaskan: "Ini bukan soal mau kaya. Ini soal bisa hidup layak tanpa harus berhutang setiap akhir bulan." Kata 'layak' di sini punya makna konkret: bisa membeli makanan bergizi untuk keluarga, menyekolahkan anak tanpa harus memilih yang termurah, dan memiliki akses kesehatan yang memadai.

Yang menarik dari aksi kali ini adalah konsolidasi yang lebih solid antar berbagai sektor. Tidak seperti demonstrasi buruh sebelumnya yang sering terfragmentasi berdasarkan serikat atau industri, aksi 15 Januari menunjukkan persatuan yang lebih luas. Pekerja dari pabrik garmen berdampingan dengan karyawan retail, buruh konstruksi bersama dengan pekerja logistik. Mereka menyadari bahwa meskipun industri berbeda, tekanan ekonomi yang dihadapi sama: biaya hidup yang melambung jauh lebih cepat daripada peningkatan pendapatan.

Kebijakan vs Realita: Jurang yang Semakin Melebar

Di sisi lain, pemerintah memiliki argumentasinya sendiri. Mekanisme penyesuaian upah minimum yang berlaku saat ini memang dirancang dengan mempertimbangkan banyak faktor: pertumbuhan ekonomi, produktivitas, dan kemampuan perusahaan. Namun, menurut analisis ekonom independen, ada kesenjangan metodologis yang serius. Perhitungan kebutuhan hidup layak (KHL) yang menjadi dasar penentuan upah minimum seringkang menggunakan data yang sudah kedaluwarsa dan tidak mencerminkan realita harga di pasar. Contoh konkret: harga telur ayam dalam perhitungan resmi mungkin Rp 28.000 per kilogram, tapi di pasar tradisional harga bisa mencapai Rp 35.000-Rp 40.000. Akumulasi perbedaan kecil seperti ini dari puluhan komponen KHL menciptakan jurang antara angka di atas kertas dan realita di meja makan.

Opini pribadi saya sebagai pengamat ketenagakerjaan: sistem pengupahan kita saat ini seperti mencoba memperbaiki rumah yang bocor dengan menambal satu bagian sambil mengabaikan atap yang hampir roboh. Masalahnya sistemik. Tidak cukup hanya menaikkan upah minimum tanpa memperbaiki akses terhadap perumahan terjangkau, transportasi umum yang efisien, dan layanan kesehatan yang terjangkau. Upah yang lebih tinggi akan sia-sia jika 30%-nya harus dikeluarkan untuk transportasi karena tempat tinggal jauh dari tempat kerja, atau jika sakit ringan saja menghabiskan gaji sebulan karena tidak ada asuransi yang memadai.

Dialog atau Monolog? Dinamika Komunikasi yang Rumit

Pernyataan pemerintah tentang 'membuka ruang dialog' setelah aksi unjuk rasa selalu muncul seperti ritual. Tapi pertanyaannya: dialog seperti apa yang benar-benar terjadi? Dari pengamatan terhadap beberapa pertemuan tripartit sebelumnya, seringkali yang terjadi lebih mirip monolog berbalas. Pemerintah dan pengusaha datang dengan data dan argumentasi yang sudah disiapkan, sementara perwakilan buruh datang dengan pengalaman nyata yang sulit diukur dengan angka-angka. Dua bahasa yang berbeda ini jarang menemukan titik temu yang substantif.

Data unik yang patut dipertimbangkan: berdasarkan penelitian Lembaga Demografi Universitas Indonesia, produktivitas pekerja Indonesia sebenarnya meningkat rata-rata 4,2% per tahun dalam lima tahun terakhir. Namun, peningkatan upah riil hanya sekitar 1,8% per tahun. Artinya, ada gap antara kontribusi pekerja terhadap pertumbuhan ekonomi dan imbalan yang mereka terima. Ini bukan sekadar tuntutan 'lebih banyak', tapi tuntutan 'keadilan distributif' - agar hasil kerja mereka yang semakin produktif juga dinikmati secara lebih adil.

Masa Depan Pekerjaan dan Makna Kesejahteraan

Kita hidup di era di mana konsep 'pekerjaan' sendiri sedang berubah drastis. Otomatisasi, ekonomi gig, dan perubahan pola konsumsi mengubah lanskap ketenagakerjaan. Dalam konteks ini, tuntutan buruh hari ini mungkin perlu dilihat lebih luas lagi. Bukan hanya tentang upah minimum untuk pekerja formal, tapi tentang sistem perlindungan sosial yang inklusif yang mencakup semua jenis pekerja. Bagaimana dengan driver ojek online yang bekerja 12 jam sehari tanpa jaminan kesehatan? Atau pekerja kreatif freelance yang pendapatannya fluktuatif tanpa ada kepastian?

Yang menjadi pertanyaan mendasar: apakah model hubungan industrial kita yang sekarang masih relevan? Sistem yang memisahkan begitu tajam antara 'pemberi kerja' dan 'pekerja', antara 'manajemen' dan 'buruh', mungkin perlu ditinjau ulang. Beberapa perusahaan progresif sudah mulai menerapkan model kemitraan dimana pekerja memiliki saham dalam perusahaan, atau sistem bonus yang terkait langsung dengan kinerja kolektif. Pendekatan seperti ini tidak menghilangkan konflik kepentingan, tapi mengubah dinamikanya dari konfrontasi menjadi kolaborasi.

Refleksi Akhir: Bukan Hanya Urusan Mereka

Ketika kita melihat berita tentang aksi buruh, mudah sekali untuk merasa ini adalah 'urusan mereka' - para pekerja di pabrik dan sektor formal. Tapi mari kita renungkan sejenak: setiap barang yang kita konsumsi, setiap layanan yang kita nikmati, melibatkan kerja seseorang. Dari makanan di piring kita sampai pakaian yang kita kenakan, dari transportasi yang kita gunakan sampai gadget di tangan kita - semuanya adalah hasil kerja. Ketika para pekerja menuntut kehidupan yang lebih layak, sebenarnya mereka sedang memperjuangkan hak dasar manusia yang seharusnya kita semua dukung: hak untuk tidak hidup dalam kekhawatiran ekonomi terus-menerus, hak untuk memberi keluarga masa depan yang lebih baik, hak untuk bekerja dengan martabat.

Penutup aksi di depan Gedung DPR mungkin sudah dibubarkan, aparat keamanan mungkin sudah ditarik, dan jalanan mungkin sudah kembali normal. Tapi pertanyaan yang diajukan oleh ribuan orang di hari itu tetap menggantung: bagaimana kita membangun ekonomi yang tidak hanya tumbuh secara angka, tapi juga memanusiakan mereka yang menjadi tulang punggung pertumbuhan tersebut? Jawabannya tidak akan datang dari satu kebijakan atau satu perundingan. Tapi dari kesadaran kolektif bahwa kesejahteraan pekerja bukanlah biaya yang harus diminimalkan, melainkan investasi fundamental untuk masyarakat yang lebih sehat, stabil, dan berkeadilan. Lain kali ketika Anda mendengar tentang aksi buruh, cobalah melihat di balik spanduk dan teriakan - lihatlah cerita manusia yang berjuang untuk hidup yang lebih bermartabat. Karena pada akhirnya, itu adalah perjuangan kita semua.

Dipublikasikan: 15 Januari 2026, 03:46
Diperbarui: 26 Januari 2026, 10:13