musibah

Setelah Air Surut, Semangat Belajar Kembali Mengalir: Kisah Sumatra Bangkit dari Banjir

Lebih dari sekadar pemulihan infrastruktur, geliat pendidikan di Sumatra pascabanjir mengajarkan kita tentang ketangguhan. Ribuan sekolah yang terendam kini kembali bergema dengan tawa dan semangat belajar anak-anak, meski tantangan pemulihan masih panjang.

Penulis:khoirunnisakia
7 Januari 2026
Setelah Air Surut, Semangat Belajar Kembali Mengalir: Kisah Sumatra Bangkit dari Banjir

Bayangkan ruang kelas yang kemarin masih terendam air keruh setinggi pinggang, hari ini sudah kembali dipenuhi celoteh riang dan semangat belajar. Itulah pemandangan yang perlahan-lahan mulai terlihat di seantero Sumatra, setelah hujan deras dan banjir bandang menguji ketangguhan wilayah ini. Bencana itu bukan hanya meninggalkan lumpur dan kerusakan, tapi juga cerita tentang bagaimana pendidikan menjadi salah satu prioritas pertama yang harus bangkit. Di tengah kondisi darurat yang belum sepenuhnya pulih, ada sesuatu yang lebih kuat dari arus banjir: tekad untuk terus belajar.

Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan, dari ribuan sekolah yang terdampak, lebih dari 80% telah mampu membuka kembali pintu mereka untuk kegiatan belajar mengajar. Angka ini luar biasa jika kita melihat fakta bahwa banyak fasilitas—seperti perpustakaan, laboratorium, dan lapangan olahraga—masih dalam proses rehabilitasi intensif. Proses pemulihan ini seperti metafora yang hidup: sebelum listrik di seluruh desa pulih, sebelum jalan-jalan utama benar-benar kering, lampu-lampu kelas sudah lebih dulu menyala. Menurut pengamatan saya, ini menunjukkan sebuah pergeseran mindset yang penting. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai urusan 'nanti' setelah kebutuhan dasar terpenuhi, melainkan sebagai kebutuhan dasar itu sendiri—sebuah fondasi psikologis dan sosial untuk membangun kembali harapan.

Kunjungan langsung Wakil Menteri Pendidikan ke lokasi bencana bukan sekadar seremoni. Ia menyampaikan pesan yang dalam: "Jangan biarkan banjir menggenangi semangat kalian." Pesan ini kemudian diterjemahkan menjadi aksi nyata. Di beberapa sekolah, guru-guru dengan kreatif mengubah ruang kelas yang masih lembab menjadi ruang belajar di teras atau di bawah tenda darurat. Buku-buku pelajaran yang basah dijemur, dan materi ajar disesuaikan sementara dengan kondisi yang ada. Proses belajar mengajar berjalan meski dengan segala keterbatasan, membuktikan bahwa bencana bisa merendam bangunan, tapi tidak semangat.

Sementara itu, di balik layar, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk mempercepat pemulihan layanan dasar. Transportasi yang sempat lumpuh perlahan dipulihkan agar siswa dan guru bisa kembali ke sekolah. Tim kesehatan bergerak untuk memastikan lingkungan belajar aman dari pascabanjir. Rehabilitasi fasilitas pendidikan menjadi bagian dari respons pemulihan yang terintegrasi, menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana harus holistik—tidak bisa parsial.

Di balik angka dan laporan resmi, ada cerita-cerita kecil yang menginspirasi. Seperti di sebuah SD di daerah terdampak, di mana para siswa justru menjadikan pengalaman mereka selama banjir sebagai bahan pelajaran tentang mitigasi bencana dan solidaritas. Atau guru-guru yang rela datang lebih awal untuk membersihkan kelas, bukan karena perintah, tapi karena rasa tanggung jawab. Inilah yang sering luput dari pemberitaan: bencana, dalam sisi tertentu, justru mempertajam nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong di ruang pendidikan.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari geliat Sumatra bangkit dari banjir? Pertama, ketangguhan sebuah masyarakat tidak diukur saat semuanya baik-baik saja, tapi justru ketika dihantam ujian terberat. Kedua, pemulihan pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda. Anak-anak yang hari ini kita bantu untuk kembali ke sekolah, adalah generasi yang akan membangun kembali daerah mereka esok hari. Mari kita jaga semangat ini tetap mengalir, bahkan setelah semua genangan air benar-benar surut. Karena pada akhirnya, banjir bisa merendam banyak hal, tapi selama semangat belajar tetap menyala, harapan untuk pulih dan tumbuh lebih kuat selalu ada.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 06:26
Diperbarui: 21 Januari 2026, 03:39