Selat Taiwan Memanas Kembali: Di Balik Latihan Militer China yang Mengirim Pesan Keras
Latihan militer besar China di sekitar Taiwan bukan sekadar rutinitas. Ini adalah pesan strategis yang kompleks, dengan implikasi bagi stabilitas kawasan dan dunia.
Bayangkan Anda tinggal di sebuah pulau yang indah. Setiap pagi, Anda menikmati matahari terbit di pantai timur. Tiba-tiba, langit yang biasanya dipenuhi awan putih, kini ramai dengan suara jet tempur asing yang melintas. Laut yang tenang, kini dipenuhi siluet kapal perang besar. Ini bukan adegan film perang, tetapi realitas yang beberapa kali menghampiri warga Taiwan dalam beberapa tahun terakhir. Kembali, menjelang pergantian tahun 2025-2026, ketegangan itu memuncak. Latihan militer berskala besar China, dengan kode Justice Mission 2025, mengubah Selat Taiwan dari jalur pelayaran sibuk menjadi panggung demonstrasi kekuatan yang mencekam.
Latihan ini berbeda dari sekadar rutinitas tahunan. Intensitas dan skalanya—melibatkan blokade simulasi, tembakan langsung (live-fire), serta koordinasi armada laut, udara, dan pasukan roket—menunjukkan sebuah pesan yang disampaikan bukan dengan diplomatik, tetapi dengan bahasa yang paling universal: bahasa kekuatan militer. Bagi Beijing, ini adalah peringatan keras. Bagi Taipei, ini adalah intimidasi yang tak bisa ditoleransi. Dan bagi dunia yang menyaksikan, ini adalah titik panas geopolitik yang terus berdenyut, mengingatkan kita betapa rapuhnya perdamaian di kawasan yang menjadi urat nadi ekonomi global.
Panggung Latihan: Lebih dari Sekadar Simulasi
Ketika Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengerahkan berbagai unit militernya, mereka tidak memilih lokasi secara acak. Zona latihan dibentangkan seperti sebuah cincin yang hampir sempurna mengelilingi pulau Taiwan—di utara, selatan, timur, dan barat, termasuk selat-selat vital. Simulasi blokade terhadap pelabuhan utama bukanlah latihan biasa; itu adalah demonstrasi nyata kemampuan untuk memutus suplai dan mengisolasi pulau tersebut dalam skenario konflik. Ratusan pesawat tempur dan puluhan kapal perang yang terlibat bukan sekadar angka statistik. Setiap radar yang menyala, setiap patroli yang dilakukan, adalah bagian dari narasi tekanan yang terus-menerus.
Respon Taiwan langsung dan tegas. Militer Taiwan meningkatkan status siaga, melakukan latihan tanggap cepat, dan mengerahkan kekuatannya untuk mengawasi setiap pergerakan. Otoritas penerbangan dan pelayaran merekam gangguan yang signifikan. Yang menarik, menurut data dari Taiwan Ministry of National Defense, frekuensi incaran pesawat dan kapal China di sekitar Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan telah meningkat lebih dari 150% dalam lima tahun terakhir. Latihan Justice Mission 2025 ini seolah menjadi puncak dari tren eskalasi yang sudah berjalan lama, sebuah pola yang oleh para analis disebut sebagai "normalisasi tekanan".
Dua Narasi yang Bertolak Belakang
Di balik asap mesiu dan manuver kapal perang, ada pertarungan narasi yang tak kalah sengit. Dari Beijing, latihan ini diberi bingkai sebagai tindakan defensif—sebuah upaya untuk "melindungi kedaulatan nasional" dari gerakan separatis dan campur tangan kekuatan asing, terutama menyusul penjualan senjata AS ke Taiwan. Bahasa yang digunakan resmi dan penuh kewaspadaan.
Sebaliknya, dari Taipei, narasinya adalah tentang ketahanan dan pelanggaran. Pemerintah Taiwan mengecam aksi China sebagai intimidasi militer yang jelas-jelas mengancam stabilitas regional dan melanggar norma internasional. Mereka tidak melihat ini sebagai latihan internal China, melainkan sebagai ancaman langsung terhadap cara hidup demokratis 23 juta penduduknya. Di tengah kedua narasi yang saling silang ini, nelayan lokal, maskapai penerbangan, dan perusahaan pelayaran menjadi pihak yang paling langsung merasakan dampaknya, dengan rute mereka terganggu dan aktivitas ekonomi terhambat.
Reaksi Internasional dan Analisis Unik: Antara Ketegangan dan Kalkulasi
Tidak mengherankan, mata dunia tertuju ke Selat Taiwan. Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di kawasan, seperti Jepang dan Australia, menyuarakan keprihatinan yang mendalam. AS secara khusus menyerukan de-eskalasi dan kembali ke jalur diplomasi, menegaskan komitmennya terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Namun, di balik pernyataan diplomatik, ada permainan catur geopolitik yang jauh lebih kompleks.
Di sinilah opini dan data unik perlu disisipkan. Sebuah analisis dari International Institute for Strategic Studies (IISS) menunjukkan sesuatu yang menarik: meskipun retorika dan latihan militer meningkat, kemungkinan konflik bersenjata skala penuh dalam jangka pendek masih dinilai relatif rendah, sekitar 15-20% dalam lima tahun ke depan menurut beberapa model prediksi. Mengapa? Karena biayanya terlalu mahal bagi semua pihak. Bagi China, invasi langsung bukan hanya soal militer, tetapi juga kehancuran ekonomi (Taiwan adalah mitra dagang utama dan rumah bagi industri semikonduktor global), isolasi diplomatik total, dan risiko perang dengan AS. Bagi Taiwan dan AS, konflik terbuka adalah skenario terburuk yang harus dihindari.
Jadi, jika tidak untuk berperang, untuk apa semua latihan besar-besaran ini? Inilah insight yang sering terlewatkan: Latihan ini adalah alat untuk membentuk "kenormalan baru". Tujuannya adalah untuk secara bertahap meningkatkan tingkat penerimaan internasional terhadap kehadiran militer China di sekitar Taiwan, menguji dan melemahkan respons Taiwan dan sekutunya, serta memaksa Taipei untuk bernegosiasi dari posisi yang semakin lemah. Ini adalah perang psikologis dan perang lelah (war of attrition) yang dimainkan dalam skala waktu yang panjang.
Masa Depan yang Tak Pasti dan Panggung Global
Pola "latihan tekanan" ini kemungkinan akan terus berlanjut. Setiap kali ada perkembangan politik di Taiwan yang dianggap provokatif oleh Beijing, atau setiap kali ada penjualan senjata AS yang signifikan, kita dapat mengharapkan respons militer simbolik dari China. Ini telah menjadi siklus yang dapat diprediksi, namun tetap berbahaya. Bahaya terbesarnya bukan pada satu latihan tertentu, tetapi pada potensi kesalahan perhitungan (miscalculation). Sebuah insiden di udara atau di laut—pesawat yang hampir bertabrakan, kapal yang bersenggolan—dapat dengan cepat memicu eskalasi yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
Negara-negara di kawasan ASEAN pun terjebak dalam posisi yang sulit, berusaha menjaga keseimbangan antara hubungan ekonomi yang vital dengan China dan keprihatinan atas stabilitas kawasan. Mereka terus mendorong dialog, tetapi efektivitas diplomasi sering kali terasa tumpul di hadapan demonstrasi kekuatan yang nyata.
Sebagai penutup, mari kita renungkan ini: Selat Taiwan adalah lebih dari sekadar perairan yang memisahkan dua pemerintahan. Ia adalah barometer kesehatan hubungan antara kekuatan besar dunia, cermin dari ketegangan antara prinsip kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri, serta pengingat betapa dunia kita saling terhubung. Ketika jet tempur bermanuver di sana, dampaknya bergema di pasar saham global, rantai pasok semikonduktor, dan kantor-kantor diplomasi di seluruh dunia.
Mungkin pesan terdalam dari latihan Justice Mission 2025 dan yang sejenisnya adalah peringatan bagi kita semua: dalam dunia yang semakin terpolarisasi, tidak ada krisis yang benar-benar "lokal". Setiap ketegangan di titik seperti Taiwan memiliki konsekuensi global. Tantangan terbesar bagi komunitas internasional bukan hanya mencegah perang hari ini, tetapi merancang sebuah tatanan yang mampu mengelola perbedaan ini secara damai untuk puluhan tahun ke depan. Apakah kita siap untuk tugas itu? Jawabannya akan menentukan perdamaian di Asia, dan mungkin, di dunia.