Satu Meter dari Bencana: Kisah Jalan Raya di Aceh yang Perlahan Ditelan Bumi
Tanah amblas di Aceh Tengah mengancam putusnya akses vital antar kabupaten. Sebuah fenomena geologi yang berlangsung 19 tahun kini berada di ambang krisis.

Satu Meter dari Bencana: Kisah Jalan Raya di Aceh yang Perlahan Ditelan Bumi
Bayangkan Anda mengemudi di jalan pegunungan yang indah, dikelilingi hamparan kebun kopi Gayo yang terkenal itu. Lalu, di sebelah kanan Anda, bumi seperti sedang membuka mulutnya perlahan-lahan. Itulah kenyataan harian yang dihadapi warga Desa Pondok Balik, Aceh Tengah. Bukan gempa bumi yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah proses yang lebih mengerikan karena terjadi secara perlahan, pasti, dan hampir mustahil dihentikan.
Fenomena tanah amblas di sini bukan sekadar berita sesaat. Ini adalah cerita panjang yang sudah berlangsung sejak 2006—hampir dua dekade bumi bergerak tanpa henti. Yang membuatnya semakin mencemaskan sekarang? Jarak antara tepi jalan raya penghubung Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan bibir jurang tanah amblas itu tinggal sekitar satu meter. Satu meter. Kurang dari panjang satu langkah dewasa. Itulah batas tipis yang memisahkan konektivitas ribuan orang dengan isolasi total.
Ketika Bumi Bergerak Lebih Cepat dari Penanganan
Data dari tim geologi Dinas ESDM Aceh membacanya seperti plot film bencana yang dipercepat. Pada 2011, luas area amblas tercatat 7.982 meter persegi. Bayangkan seluas lapangan sepak bola. Kini, di awal 2025, angka itu telah melonjak menjadi lebih dari 27.900 meter persegi—hampir empat kali lipatnya dalam 14 tahun. Yang mengkhawatirkan, laju perluasannya tampaknya tidak linear, melainkan semakin cepat.
"Ini seperti melihat rumah sendiri retak sedikit demi sedikit setiap hari," kata salah seorang warga lokal yang enggan disebutkan namanya. "Kita tahu suatu saat nanti akan runtuh, tapi tidak tahu kapan. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu dengan hati was-was." Perasaan ini menjadi-jadi saat musim hujan tiba. Setiap tetes air hujan seolah menjadi palu godam yang mempercepat proses keruntuhan.
Nadi Perekonomian yang Terancam Putus
Jalan Blang Mancung–Simpang Balik ini bukan sekadar aspal biasa. Ini adalah arteri vital yang memompa kehidupan ekonomi dua kabupaten. Melalui jalan inilah hasil bumi Gayo—kopi arabika terkenal, sayuran, dan produk pertanian lainnya—mengalir ke pasar. Melalui jalan ini pula kebutuhan pokok, obat-obatan, dan akses pendidikan-kesehatan sampai ke pelosok.
Jika kita berandai-andai jalan ini benar-benar putus, dampaknya akan berlapis seperti gelombang tsunami ekonomi. Pertama, biaya logistik akan melonjak drastis karena harus melalui jalur alternatif yang lebih panjang dan berliku. Kedua, produk segar seperti sayuran bisa busuk sebelum sampai pasar. Ketiga—dan ini yang paling menyedihkan—komunitas yang terisolasi seringkali menjadi yang terakhir mendapat perhatian dalam situasi darurat.
Pelajaran dari Retakan di Gayo Highlands
Di sini saya ingin menyisipkan sebuah opini yang mungkin kontroversial: fenomena di Pondok Balik ini bukanlah kejadian terisolasi, melainkan gejala dari pola yang lebih besar di kawasan pegunungan Gayo. Wilayah dengan topografi seperti ini secara alami rentan terhadap pergerakan tanah, terutama dengan perubahan pola curah hujan dan tekanan penggunaan lahan.
Yang unik dari kasus ini adalah durasinya. Sembilan belas tahun adalah waktu yang cukup untuk sebuah studi kasus komprehensif, namun sepertinya kita masih terjebak dalam pola responsif—menunggu sampai krisis terjadi baru bertindak. Padahal, data ekspansi tanah amblas yang tersedia seharusnya bisa menjadi dasar untuk model prediktif yang lebih baik.
Sebuah data menarik dari studi geologi serupa di wilayah lain menunjukkan bahwa intervensi dini—seperti sistem drainase yang tepat, penanaman vegetasi pengikat tanah, dan monitoring real-time—dapat mengurangi laju ekspansi tanah amblas hingga 40-60%. Pertanyaannya: apakah investasi semacam ini sudah menjadi prioritas?
Antara Mitigasi dan Realitas Anggaran
Warga sudah menyuarakan kekhawatiran mereka. Permintaan mereka sederhana namun kompleks dalam eksekusi: stabilisasi tanah, penanganan darurat, atau setidaknya penyediaan jalur alternatif yang layak. Namun di balik permintaan sederhana itu tersimpan pertanyaan besar tentang alokasi sumber daya dan perencanaan tata ruang jangka panjang.
Di satu sisi, membangun jalur alternatif permanen membutuhkan anggaran besar dan waktu lama. Di sisi lain, melakukan stabilisasi tanah di area seluas hampir 3 hektar yang terus bergerak ibarat membangun rumah di atas pasir hisap. Pilihan ketiga—membiarkan sampai putus lalu memperbaikinya—adalah yang paling berisiko secara sosial dan ekonomi.
Refleksi dari Bibir Jurang
Berada di tepi tanah amblas Pondok Balik mungkin akan memberikan perspektif yang berbeda tentang hubungan kita dengan bumi. Kita sering menganggap tanah sebagai sesuatu yang statis, padahal ia hidup dan bergerak. Kita membangun infrastruktur permanen di atas permukaan yang dinamis, lalu terkejut ketika terjadi ketidaksesuaian.
Fenomena ini mengajarkan kita tentang pentingnya mendengarkan bahasa bumi. Retakan-retakan kecil, pergerakan perlahan, perubahan pola drainase—semua itu adalah "kata-kata" peringatan yang sering kita abaikan sampai menjadi "teriakan" krisis. Pemantauan geologi berkelanjutan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar di wilayah rawan seperti Gayo Highlands.
Sebagai penutup, mari kita renungkan: ada banyak bencana yang datang tiba-tiba seperti gempa dan tsunami, tetapi ada juga bencana yang berjalan pelan—hampir tak terlihat—seperti tanah amblas di Aceh Tengah ini. Justru yang kedua inilah yang paling berbahaya, karena kita terbiasa dan mulai menerimanya sebagai "normalitas baru".
Nasib jalan raya yang tinggal satu meter dari jurang ini bukan hanya urusan pemerintah atau warga setempat. Ini adalah cermin bagaimana kita sebagai masyarakat menghargai konektivitas, merencanakan ketahanan infrastruktur, dan belajar beradaptasi dengan bumi yang tidak pernah benar-benar diam. Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah "kapan jalan ini akan putus", melainkan "pelajaran apa yang sudah kita ambil selama 19 tahun ini, dan bagaimana kita akan bertindak berbeda ke depan?".
Karena terkadang, ancaman terbesar bukanlah jurang yang terbuka lebar di depan mata, melainkan kebiasaan kita untuk menormalisasi bahaya yang bergerak perlahan.