Sejarah

Pikiran yang Membentuk Dunia: Perjalanan Evolusi Cara Berpikir Manusia dari Mitos hingga Digital

Bagaimana cara berpikir manusia berevolusi dari mitos ke rasionalitas? Simak perjalanan mentalitas yang membentuk peradaban dan tantangannya di era digital.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
8 Januari 2026
Pikiran yang Membentuk Dunia: Perjalanan Evolusi Cara Berpikir Manusia dari Mitos hingga Digital

Pembuka: Dari Api Unggun ke Layar Ponsel, Satu Pertanyaan yang Sama

Bayangkan nenek moyang kita duduk mengelilingi api unggun ribuan tahun lalu, menatap langit berbintang dan bertanya-tanya: dari mana datangnya petir, atau mengapa musim berganti. Sekarang, bayangkan diri Anda sendiri, mungkin sedang membaca ini dari layar ponsel, dengan pertanyaan yang tak kalah kompleks: bagaimana algoritma media sosial memengaruhi opini kita, atau apa dampak AI bagi masa depan pekerjaan. Meski teknologinya berbeda jauh, benang merahnya sama: kita adalah makhluk yang terus-menerus berusaha memahami realitas di sekitar kita. Perbedaannya bukan pada pertanyaannya, melainkan pada cara kita mencari jawabannya. Inilah inti dari evolusi mentalitas—perlahan namun pasti, cara berpikir kolektif manusia berubah, dan perubahan itulah yang sesungguhnya menggerakkan roda sejarah, jauh lebih dalam daripada sekadar penemuan alat atau pergantian penguasa.

Sejarah sering kita baca sebagai kronologi perang, penemuan, atau kepemimpinan tokoh-tokoh besar. Tapi ada narasi yang lebih dalam dan personal: narasi tentang bagaimana manusia, sebagai sebuah spesies, belajar berpikir. Dari mengaitkan guntur dengan kemarahan dewa, hingga memahami hukum fisika di baliknya. Perjalanan ini bukanlah garis lurus yang mulus, melainkan lika-liku penuh lompatan, kemunduran, dan pergulatan ide. Dan memahami perjalanan ini, menurut saya, adalah kunci untuk tidak hanya mengenal masa lalu, tetapi juga untuk lebih cerdas menghadapi kompleksitas masa kini.


Mengapa Perlu Melihat Sejarah dari Kacamata Mentalitas?

Sejarah mentalitas adalah pendekatan yang fokus pada 'perangkat lunak' peradaban: keyakinan, nilai, emosi kolektif, dan cara masyarakat memaknai dunia mereka. Ini berbeda dengan sejarah politik yang melihat 'perangkat keras' seperti kebijakan atau pertempuran. Bayangkan Revolusi Prancis. Ya, kita tahu tentang Bastille dan Robespierre. Tapi apa yang mendorong ribuan orang biasa untuk menggulingkan sistem yang telah berjalan berabad-abad? Jawabannya ada pada pergeseran mentalitas—munculnya gagasan tentang hak asasi, kedaulatan rakyat, dan penolakan terhadap otoritas ilahi raja, yang telah mengkristal jauh sebelum tembakan pertama dilepaskan.

Ciri khas sejarah mentalitas adalah sifatnya yang lambat dan bertahan lama. Pola pikir bisa tetap sama selama berabad-abad sebelum akhirnya bergeser. Ia juga bersifat kolektif; ini tentang arus bawah pemikiran masyarakat luas, bukan hanya ide brilian segelintir filsuf. Dengan mempelajarinya, kita seperti mendapat peta untuk memahami mengapa suatu masyarakat bereaksi dengan cara tertentu terhadap perubahan.


Zaman Mitos: Ketika Dunia Penuh Jiwa dan Cerita

Pada awal peradaban, manusia memahami dunia melalui lensa mitos dan magis. Pikiran mereka bersifat partisipatif—mereka merasa menjadi bagian dari alam yang hidup dan bernyawa. Pohon, sungai, dan bintang bukanlah benda mati, melainkan entitas yang memiliki kehendak dan kekuatan. Gagasan tentang sebab-akibat yang rasional dan mekanistik belum ada. Jika terjadi wabah, penjelasannya adalah karena dewa murka atau ada yang melanggar tabu, bukan karena bakteri.

Cara berpikir ini bukanlah tanda kebodohan, melainkan adaptasi logis terhadap dunia yang belum terpetakan. Mitos memberikan kerangka koheren untuk menjelaskan yang tak terjelaskan, menciptakan keteraturan dari chaos, dan mengikat komunitas dengan cerita bersama. Pengetahuan ditransmisikan secara lisan, melalui dongeng dan ritual, membuat kebijaksanaan bersifat intuitif dan kontekstual.


Lompatan Besar: Lahirnya Logika dan Rasionalitas

Perubahan signifikan mulai terjadi di peradaban kuno seperti Yunani, India, dan Tiongkok. Di sinilah manusia mulai mencoba memisahkan penjelasan alam dari kehendak dewa-dewa. Thales dari Miletus, misalnya, mengusulkan bahwa air adalah prinsip dasar segala sesuatu—sebuah penjelasan naturalistik, bukan teologis. Ini adalah momen pivotal: alam mulai dilihat sebagai sesuatu yang beroperasi berdasarkan prinsipnya sendiri, yang bisa dipelajari dan dipahami melalui observasi dan nalar (logos).

Penemuan tulisan mempercepat revolusi ini. Dengan tulisan, pemikiran bisa direkam, dikritik, dan dibangun oleh generasi berikutnya secara lebih sistematis. Filsafat lahir sebagai disiplin yang secara eksplisit menanyakan hakikat realitas, pengetahuan, dan etika. Meski mitos tidak hilang, ia mulai berbagi ruang dengan logika.


Dominasi Wahyu dan Tatanan Ilahi

Era berikutnya di banyak belahan dunia ditandai dengan menguatnya mentalitas religius yang terstruktur. Agama-agama besar seperti Kristen, Islam, dan Buddha menawarkan kerangka makna yang komprehensif. Dunia dipahami sebagai ciptaan yang memiliki tujuan ilahi, sejarah adalah narasi keselamatan atau ujian, dan moralitas bersumber mutlak dari wahyu.

Mentalitas ini menciptakan stabilitas sosial dan kohesi yang luar biasa selama berabad-abad. Otoritas—baik agama maupun sekuler—sering kali legitimasinya bersumber dari yang transenden. Sebuah data menarik dari sejarawan seperti Jacques Le Goff menunjukkan bahwa konsep waktu pun berubah; waktu 'duniawi' dianggap kurang bernilai dibanding waktu 'ilahi', yang memengaruhi segala hal mulai dari jadwal kerja hingga seni. Dunia dipandang sebagai buku yang ditulis oleh Tuhan, dan tugas manusia adalah membacanya, bukan menantangnya.


Revolusi Sains dan Pencerahan: Akal Naik Takhta

Jika ada satu periode yang paling dramatis mengubah mentalitas manusia, itu adalah Revolusi Sains (abad 16-17) dan Era Pencerahan (abad 18). Copernicus, Galileo, dan Newton menunjukkan bahwa alam semesta berjalan menurut hukum matematis yang dapat diprediksi, bukan menurut kehendak yang berubah-ubah. Ini meruntuhkan pandangan antroposentris (manusia sebagai pusat) dan teosentris (Tuhan sebagai pusat) sekaligus.

Pencerahan kemudian membawa nilai-nilai itu ke ranah sosial. Akal budi (reason) diagungkan sebagai pemandu utama kehidupan manusia, menggantikan tradisi dan otoritas buta. Gagasan tentang hak asasi, kemajuan, kebebasan individu, dan kedaulatan rakyat mengkristal. Immanuel Kant dengan terkenal mendefinisikan Pencerahan sebagai "keberanian untuk menggunakan akal budimu sendiri". Mentalitas baru ini menjadi mesin penggerak demokrasi modern, kapitalisme, dan ledakan inovasi teknologi.


Mentalitas Modern: Efisiensi, Individu, dan Kecepatan

Revolusi Industri dan kapitalisme melahirkan mentalitas baru yang berpusat pada efisiensi, produktivitas, dan kemajuan linier. Waktu bukan lagi siklus alamiah atau persiapan menuju akhirat, melainkan sumber daya yang harus dioptimalkan ("time is money"). Individualisme menguat—identitas seseorang semakin dilepaskan dari komunitas atau kelas tradisional.

Di abad ke-20, kita melihat fragmentasi lebih lanjut. Psikoanalisis Freud menyelami alam bawah sadar, merelativisasi kendali akal. Dua perang dunia mengguncang keyakinan naif tentang kemajuan otomatis menuju kebaikan. Mentalitas modern menjadi kompleks: penuh percaya diri pada teknologi, tetapi juga diwarnai keraguan eksistensial, kritik terhadap narasi besar, dan apresiasi terhadap subjektivitas.


Era Digital: Tantangan Mentalitas di Tengah Banjir Informasi

Dan kini, kita hidup dalam lompatan mentalitas mungkin yang tercepat dalam sejarah: era digital. Otak kita yang berevolusi selama ratusan ribu tahun untuk memproses informasi dari lingkungan terbatas, kini dibombardir oleh aliran data yang tak pernah berhenti dari seluruh dunia. Ini menciptakan paradoks.

Di satu sisi, kita lebih terhubung dan memiliki akses pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, menurut penelitian seperti yang dari MIT, algoritma media sosial sering memperkuat bias konfirmasi dan menciptakan "ruang gema" yang mempolarisasi pandangan. Kedalaman berpikir terancam oleh budaya scroll yang instan. Opini pribadi: Saya khawatir kita mengembangkan "mentalitas klik"—keinginan untuk kepastian dan kepuasan instan, yang bertolak belakang dengan mentalitas ilmiah yang sabar, penuh keraguan, dan terbuka pada revisi. Kebenaran sering dikalahkan oleh viralitas.


Penutup: Lalu, Ke Mana Arah Pikiran Kita Selanjutnya?

Melihat perjalanan panjang ini, satu hal yang jelas: mentalitas kita tidak pernah statis. Ia adalah sungai yang terus mengalir, dibentuk oleh teknologi, pengalaman kolektif, dan pergulatan ide. Jika dulu evolusi berlangsung selama berabad-abad, kini ia bisa terjadi dalam hitungan dekade, bahkan tahun, berkat kecepatan disrupsi digital dan ilmiah.

Jadi, tantangan terbesar kita di abad ke-21 ini mungkin bukan menciptakan teknologi yang lebih canggih, melainkan mengembangkan mentalitas yang cukup bijak untuk mengelolanya. Kita perlu merajut kembali kedalaman berpikir di era yang serba cepat. Kita perlu menyandingkan kekuatan logika algoritmik dengan kebijaksanaan empati manusiawi. Kita perlu belajar dari sejarah bahwa setiap mentalitas dominan membawa berkah dan blind spot-nya sendiri.

Pada akhirnya, mempelajari evolusi cara berpikir ini mengajarkan kita kerendahan hati. Gagasan yang kita pegang teguh hari ini, suatu saat nanti mungkin akan dilihat oleh cucu-cicit kita sebagaimana kita memandang kepercayaan magis nenek moyang. Bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memahami bahwa kita semua adalah bagian dari proses belajar yang tiada henti. Mungkin, pertanyaan terpenting untuk kita renungkan bersama adalah: mentalitas seperti apa yang ingin kita wariskan untuk membentuk dunia 100 tahun mendatang? Jawabannya, dimulai dari bagaimana kita memilih untuk berpikir hari ini.

Dipublikasikan: 8 Januari 2026, 05:50
Diperbarui: 8 Januari 2026, 09:38