Internasional

Peta Baru Dunia: Bagaimana Panggung Global Akan Berubah dalam 10 Tahun ke Depan?

Dari AI hingga krisis iklim, eksplorasi mendalam tentang wajah baru hubungan internasional dan peran kita di dalamnya. Bukan sekadar teori.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
13 Januari 2026
Peta Baru Dunia: Bagaimana Panggung Global Akan Berubah dalam 10 Tahun ke Depan?

Panggung Dunia yang Tak Pernah Diam

Bayangkan panggung sandiwara raksasa. Lampu sorot tiba-tiba bergeser, pemain baru muncul dari balik tirai, dan naskah cerita yang kita hafal tiba-tiba direvisi. Kira-kira seperti itulah perasaan kita menyaksikan dinamika hubungan internasional saat ini. Bukan lagi sekadar soal diplomasi antarnegara adidaya di ruang ber-AC, tapi tentang bagaimana seorang petani di Jawa bisa terdampak keputusan di Brussels, atau bagaimana startup di Bandung bersaing dengan raksasa teknologi di Silicon Valley. Dunia kita sedang mengalami remix ulang yang masif, dan pertanyaannya bukan lagi apakah akan berubah, tapi bagaimana kita akan menavigasi perubahan itu bersama-sama.

Perubahan ini terasa begitu personal. Ingat ketika pandemi melanda? Itu adalah pelajaran mahal bahwa virus tidak peduli paspor atau perbatasan. Sekarang, bayangkan tantangan yang jauh lebih kompleks—dari algoritma yang membentuk opini publik global hingga krisis iklim yang mengancam ketahanan pangan nasional. Hubungan internasional telah keluar dari buku teks dan masuk ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Ini tentang masa depan pekerjaan, keamanan data pribadi, hingga udara yang kita hirup. Lalu, di tengah pusaran perubahan ini, seperti apa sebenarnya peta kekuatan dan kerja sama global dalam satu dekade mendatang?

Tiga Penggerak Utama yang Mengocok Ulang Peta Dunia

Jika kita ingin memahami arah angin, kita harus kenali kekuatan yang mendorongnya. Setidaknya ada tiga kekuatan besar yang sedang membentuk ulang panggung global.

Pertama, revolusi teknologi yang bergerak eksponensial. Ini bukan lagi soal siapa yang punya senjata paling canggih, tapi siapa yang menguasai teknologi kritis seperti kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan bioteknologi. Menurut laporan Stanford Institute for Human-Centered AI, investasi global dalam AI swasta melonjak menjadi nearly $100 miliar pada 2023. Negara atau blok yang memimpin inovasi ini akan menulis aturan main baru, bukan hanya di dunia digital, tapi juga di ekonomi dan keamanan konvensional. Bayangkan geopolitik data—di mana kedaulatan data menjadi isu sepenting kedaulatan teritorial.

Kedua, pergeseran pusat gravitasi ekonomi dan politik. Narasi dominasi Barat yang berlangsung berabad-abad sedang mendapatkan penyeimbang yang signifikan. Ekonomi Asia, dipimpin oleh Tiongkok dan India, terus tumbuh. ASEAN pun muncul sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis dan populasi muda yang besar. Ini bukan tentang pergantian kekuasaan secara simplistik, melainkan tentang dunia yang menjadi multipolar. Kekuasaan menjadi lebih tersebar, dan ini berarti lebih banyak pemain yang memiliki suara—dan tanggung jawab—di meja global.

Ketiga, tantangan eksistensial yang memaksa kolaborasi. Perubahan iklim adalah contoh sempurna. Laporan IPCC menyebutkan bahwa untuk membatasi pemanasan global hingga 1.5°C, emisi global harus turun 45% pada 2030. Target ini mustahil dicapai oleh satu atau dua negara saja. Demikian pula dengan ancaman pandemi berikutnya atau krisis keuangan yang menyebar cepat. Tantangan semacam ini adalah "pemaksa kerja sama" yang potensial, karena mengancam semua pihak, terlepas dari ideologi atau tingkat pembangunannya.

Rintangan di Jalan Menuju Tata Dunia Baru

Namun, jalan menuju kerja sama yang lebih baik dipenuhi duri. Konflik geopolitik, seperti ketegangan di Laut China Selatan atau perang di Ukraina, menunjukkan betapa rapuhnya tatanan internasional. Nasionalisme sempit dan persaingan zero-sum (di mana kemenangan satu pihak berarti kekalahan pihak lain) masih sering mengalahkan semangat kolaborasi.

Selain itu, kesenjangan ekonomi dan teknologi justru bisa melebar. Negara-negara dengan infrastruktur digital dan modal manusia yang maju akan melesat lebih cepat dalam ekonomi berbasis pengetahuan, sementara yang tertinggal berisiko semakin terpinggirkan. Ketimpangan ini bukan hanya tidak adil, tapi juga menjadi sumber ketidakstabilan global yang baru.

Di sini, menurut pandangan saya, letak paradoks terbesar masa depan hubungan internasional: di satu sisi, kita sangat membutuhkan multilateralisme yang kuat untuk mengatasi masalah bersama. Di sisi lain, kepercayaan terhadap institusi multilateral justru sedang tererosi di banyak tempat. Keberhasilan kita akan sangat ditentukan oleh kemampuan untuk membangun kembali kepercayaan itu, bukan melalui retorika, tapi melalui aksi nyata yang memberikan hasil nyata bagi masyarakat.

Peluang Emas: Kolaborasi di Era Ketergantungan Timbal Balik

Di balik semua tantangan, justru terbuka peluang yang mungkin lebih besar dari era mana pun. Karena saling ketergantungan kita begitu dalam, kerja sama menjadi satu-satunya pilihan yang rasional.

Peluang pertama ada di kolaborasi hijau. Transisi energi bukan lagi beban, melainkan ladang investasi dan inovasi raksasa. Negara-negara dengan sumber daya energi terbarukan yang melimpah, seperti angin dan matahari, bisa menjadi pemain kunci baru. Kerja sama transfer teknologi hijau dari negara maju ke negara berkembang bisa menjadi win-win solution yang mempercepat transisi global sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

Kedua, diplomasi kesehatan dan sains. Pengalaman pandemi membuktikan bahwa berbagi data genomik virus dan kolaborasi riset vaksin dapat menyelamatkan nyawa. Kerangka kerja sama seperti ini perlu dilembagakan dan diperluas untuk ancaman kesehatan global di masa depan, membuktikan bahwa kemanusiaan bisa mengalahkan politik dalam keadaan darurat.

Ketiga, diplomasi digital dan tata kelola teknologi. Inilah frontier baru hubungan internasional. Bagaimana kita membuat aturan bersama tentang etika AI, perlindungan privasi data lintas batas, atau memerangi disinformasi? Negara-negara dengan populasi digital native yang besar, termasuk Indonesia, memiliki kepentingan sekaligus peluang untuk aktif membentuk norma-norma baru ini, memastikan teknologi berkembang untuk kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Di Mana Posisi Kita? Peran Strategis Negara Berkembang dan Masyarakat

Ini bukan pertunjukan yang hanya dimainkan oleh negara-negara besar. Negara berkembang dan masyarakat sipil justru memiliki peran krusial sebagai bridge builder (pembangun jembatan) dan agenda setter (penentu agenda).

Negara seperti Indonesia, dengan diplomasi yang aktif dan posisi non-blok yang dihormati, bisa menjadi mediator dalam konflik, penyambung lidah antara Global North dan South, serta pengusul isu-isu yang sering terabaikan seperti keadilan iklim atau pengelolaan migrasi. Kekuatannya terletak pada soft power—budaya, nilai-nilai toleransi, dan kemampuan untuk berjejaring dengan semua pihak.

Yang tak kalah penting, aktor non-negara—mulai dari perusahaan multinasional, LSM internasional, hingga komunitas ilmiah—memiliki pengaruh yang semakin besar. Mereka sering kali bisa bergerak lebih lincah melintasi batas-batas negara untuk menggerakkan aksi kolektif. Masa depan hubungan internasional akan semakin bersifat networked, di mana negara tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya pemain.

Menutup dengan Refleksi: Panggung Itu Milik Kita Semua

Jadi, seperti apa wajah hubungan internasional sepuluh tahun lagi? Ia akan jauh lebih rumit, lebih cepat, dan lebih terhubung daripada yang bisa kita bayangkan. Ia akan diwarnai oleh persaingan yang ketat, tetapi juga dipaksa oleh keadaan untuk berkolaborasi. Panggungnya tidak lagi hanya di ibu kota negara-negara besar, tetapi juga di lab penelitian, di ruang server data center, di konferensi iklim, dan bahkan di ruang obrolan media sosial kita.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan terletak pada pemerintah atau diplomat saja. Tapi pada kita semua. Sebagai warga global yang terhubung, setiap pilihan kita—dari produk yang kita beli, informasi yang kita sebarkan, hingga suara yang kita dukung—ikut membentuk nada diplomasi global. Masa depan hubungan internasional akan ditentukan oleh apakah kita memilih ketakutan dan penarikan diri, atau keberanian untuk terlibat dan membangun jembatan. Dunia baru sedang lahir. Dan kita semua diundang untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penulis naskahnya. Sudah siapkah kita menerima pena itu?

Dipublikasikan: 13 Januari 2026, 04:45
Diperbarui: 13 Januari 2026, 11:56