Operasi Fajar di Caracas: Penangkapan Presiden Maduro oleh AS Picu Badai Diplomasi Global
Sebuah operasi militer AS yang mendadak dan dramatis di ibu kota Venezuela berhasil menahan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, memicu gelombang kecaman internasional yang mempertanyakan batas kedaulatan negara dan etika intervensi global.

Fajar di Caracas pada 3 Januari 2026 pecah bukan oleh matahari, melainkan oleh suara helikopter dan langkah-langkah pasukan khusus. Dalam sebuah operasi yang digambarkan sebagai misi penegakan hukum, Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak yang berujung pada penahanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Keduanya kemudian diterbangkan ke New York, meninggalkan Venezuela dalam kekosongan kekuasaan dan dunia dalam kehebohan diplomatik.
Gelombang Kecaman Menyapu Panggung Global
Reaksi internasional datang dengan cepat dan keras. Moskow, Beijing, dan Teheran memimpin suara-suara yang mengecam tindakan Washington sebagai sebuah bentuk agresi yang melanggar kedaulatan. Rusia bahkan menyebutnya sebagai "pembajakan negara" yang berbahaya, sementara China memperingatkan tentang ancaman terhadap tatanan hukum internasional. Kekhawatiran serupa bergema di koridor Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana banyak negara anggota melihat operasi ini sebagai preseden yang mengkhawatirkan—sebuah tindakan unilateral yang dapat membuka pintu bagi konflik antarnegara di masa depan.
Venezuela Merespons: Transisi Kekuasaan di Tengah Krisis
Di dalam negeri, Mahkamah Agung Venezuela bergerak cepat untuk mencegah kekosongan pemerintahan. Delcy Rodríguez, sang Wakil Presiden, diangkat sebagai pemimpin sementara. Pemerintahan transisi ini langsung melancarkan tuntutan pembebasan segera bagi Maduro dan istrinya, sambil berusaha menjaga stabilitas negara yang kini berada di ambang ketidakpastian politik yang lebih dalam. Situasi ini juga memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi ketegangan di kawasan Amerika Latin, di mana sentimen anti-intervensi AS selalu kuat.
Pembenaran Washington dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Pemerintah AS, melalui pernyataan resmi, membingkai operasi ini sebagai tindakan hukum yang diperlukan untuk mempertanggungjawabkan dugaan kejahatan besar yang melibatkan Presiden Maduro. Namun, klaim ini justru memantik lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Para ahli hukum internasional dari berbagai belahan dunia mempertanyakan dasar konstitusional dan mandat hukum untuk sebuah operasi militer lintas batas yang menargetkan kepala negara berdaulat. Mereka memperingatkan bahwa tanpa kerangka hukum multilateral yang jelas, tindakan semacam ini dapat mengikis fondasi diplomasi global dan menggantikan hukum dengan kekuatan.
Insiden ini bukan sekadar berita tentang penangkapan seorang presiden; ia adalah cerita tentang batas yang kabur antara penegakan hukum dan pelanggaran kedaulatan, tentang kekuatan unilateral di dunia yang semakin multipolar, dan tentang masa depan hubungan internasional di mana preseden hari ini mungkin menjadi norma esok hari.