Ekonomi

Mimpi Kesejahteraan Bersama: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Harus Menyentuh Semua Lapisan

Mengapa angka pertumbuhan ekonomi seringkali tak sejalan dengan kehidupan sehari-hari? Temukan strategi nyata membangun kesejahteraan yang benar-benar merata.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
14 Januari 2026
Mimpi Kesejahteraan Bersama: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Harus Menyentuh Semua Lapisan

Pembuka: Cerita Dua Sisi Koin yang Sama

Pernahkah Anda melihat berita tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5%, lalu bertanya-tanya, "Kok, di sekitar saya rasanya tidak seperti itu?" Anda tidak sendirian. Ada sebuah cerita yang sering terlewat di balik angka-angka statistik yang megah itu. Di satu sisi, kita melihat gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan mewah bermunculan. Di sisi lain, di sudut kota yang sama, seorang ibu masih harus memilih antara membeli buku anaknya atau lauk untuk makan malam.

Inilah paradoks pembangunan ekonomi yang kita hadapi bersama. Bukan sekadar tentang mengejar angka pertumbuhan yang tinggi, melainkan tentang memastikan bahwa setiap kenaikan angka itu terasa hingga ke dapur rumah tangga paling sederhana. Pembangunan yang sejati bukanlah lomba cepat menuju kemakmuran segelintir orang, melainkan perjalanan bersama menuju kesejahteraan yang bisa dinikmati oleh semua. Mari kita telusuri bagaimana mimpi besar ini bisa kita wujudkan, bukan sebagai teori di atas kertas, tetapi sebagai kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih Dari Sekadar Angka: Memaknai Ulang Tujuan Pembangunan

Selama ini, kita sering terjebak pada ukuran-ukuran kuantitatif. Padahal, pembangunan ekonomi yang bermakna harus menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar: Apakah pendapatan keluarga meningkat dan stabil? Apakah akses terhadap pendidikan berkualitas terbuka lebar? Apakah layanan kesehatan terjangkau oleh semua kalangan?

  • Peningkatan Pendapatan yang Berkelanjutan: Bukan sekadar gaji naik, tetapi tentang daya beli yang benar-benar meningkat dan ketahanan finansial keluarga.
  • Pengurangan Kemiskinan yang Tuntas: Bukan sekadar angka kemiskinan turun, tetapi tentang memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.
  • Penciptaan Lapangan Kerja yang Bermartabat: Bukan sekadar lowongan tersedia, tetapi tentang pekerjaan yang memberikan kepastian dan perlindungan.

Indikator Kesejahteraan: Melihat Melampaui PDB

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meski PDB tumbuh, rasio gini Indonesia masih bertengger di angka sekitar 0,38. Angka ini mengisyaratkan bahwa ketimpangan masih menjadi tantangan nyata. Karena itu, kita perlu melihat indikator yang lebih manusiawi:

  • Pendapatan per Kapita yang Tersebar Merata: Bukan hanya rata-rata nasional yang tinggi, tetapi distribusi yang adil antar wilayah dan kelompok masyarakat.
  • Akses Pendidikan yang Setara: Dari kota besar hingga pelosok desa, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan berkualitas yang sama.
  • Kesehatan Masyarakat yang Terjangkau: Sistem kesehatan yang tidak membedakan antara si kaya dan si miskin.

Opini Unik: Menurut saya, kita sering lupa bahwa indikator terpenting sebenarnya adalah "kebahagiaan dan ketenangan hidup" yang sulit diukur dengan angka. Sebuah keluarga dengan pendapatan pas-pasan tetapi memiliki akses kesehatan dan pendidikan yang baik, serta lingkungan yang aman, mungkin jauh lebih sejahtera secara hakiki dibandingkan keluarga berpenghasilan tinggi yang hidup dalam kecemasan akan masa depan. Pembangunan harus mulai memasukkan parameter-parameter kualitatif ini ke dalam kebijakan.

Strategi Nyata: Dari Kebijakan Hingga Aksi di Lapangan

Teori tanpa implementasi hanyalah wacana. Berikut adalah beberapa strategi yang menurut pengamatan saya mulai menunjukkan hasil, meski masih perlu konsistensi:

  • Pemberdayaan UMKM sebagai Pilar Utama: Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa UMKM menyerap 97% tenaga kerja. Memberdayakan mereka dengan akses modal, teknologi, dan pasar bukan pilihan, melainkan keharusan. Program digitalisasi UMKM selama pandemi adalah contoh baik yang harus dilanjutkan.
  • Pengembangan SDM yang Adaptif: Di era disrupsi teknologi, pendidikan dan pelatihan vokasi harus selaras dengan kebutuhan industri masa depan. Bukan lagi tentang gelar, tetapi tentang kompetensi.
  • Pembangunan Wilayah yang Inklusif: Menghentikan sentralisasi di Jawa dengan membangun pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa. Infrastruktur konektivitas seperti tol laut dan trans-Sumatera adalah langkah awal yang tepat.

Tantangan yang Harus Diakui dengan Jujur

Kita tidak boleh menutup mata pada rintangan yang ada. Ketimpangan antara Jawa dan luar Jawa masih nyata. Kesenjangan antara mereka yang melek digital dan yang tidak, semakin melebar. Akses ekonomi bagi kelompok marginal, seperti penyandang disabilitas atau masyarakat adat, masih sering terabaikan.

Data Unik: Sebuah studi yang dilakukan oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan bahwa "pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif dapat meningkatkan ketegangan sosial dan mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi". Ini adalah peringatan keras bahwa pemerataan bukan hanya masalah keadilan, tetapi juga stabilitas nasional jangka panjang.

Penutup: Kesejahteraan adalah Pilihan Kolektif Kita

Pada akhirnya, membangun ekonomi yang adil dan merata bukanlah tugas pemerintah semata. Ini adalah proyek bersama yang melibatkan kita semua. Sebagai pelaku usaha, bisakah kita membayar upah yang layak? Sebagai konsumen, bisakah kita lebih memilih produk lokal? Sebagai masyarakat, bisakah kita mendukung kebijakan yang mungkin tidak menguntungkan kita secara instan, tetapi baik untuk kemaslahatan bersama dalam jangka panjang?

Pembangunan ekonomi inklusif adalah jalan panjang yang penuh kompromi dan kerja keras. Ia tidak akan terwujud dalam satu periode kepemimpinan. Ia membutuhkan konsistensi visi dari semua pihak. Mari kita bayangkan Indonesia di masa depan: bukan hanya sebagai negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia, tetapi sebagai negara di mana setiap anak bangun pagi dengan keyakinan bahwa hari ini akan lebih baik dari kemarin, di mana setiap orang tua tidur nyenyak tanpa khawatir tentang biaya sekolah anaknya esok hari.

Itulah kesejahteraan sejati. Dan itu dimulai dari keputusan kecil kita hari ini. Apa yang bisa Anda lakukan, dari posisi Anda sekarang, untuk ikut mendorong pemerataan ini? Mari kita mulai dari yang paling dekat, dari lingkaran pengaruh kita masing-masing. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

Dipublikasikan: 14 Januari 2026, 05:06
Diperbarui: 14 Januari 2026, 11:56