Menyaksikan Langsung: Saat Presiden Prabowo Menyentuh Jantung Pendidikan di Banjarbaru
Kisah inspiratif kunjungan Presiden Prabowo ke Banjarbaru, di mana 166 Sekolah Rakyat diresmikan sebagai bukti nyata transformasi pendidikan Indonesia.
Bayangkan sebuah pagi di Banjarbaru, di mana udara masih segar dan harapan terasa lebih nyata. Di sebuah kompleks pendidikan yang biasanya ramai dengan aktivitas belajar biasa, hari itu berbeda. Ada getaran khusus yang terasa - bukan hanya dari iring-iringan kendaraan dinas, tapi dari antusiasme ratusan anak-anak yang seragam birunya bersinar di bawah matahari pagi. Inilah momen ketika kebijakan pendidikan berhenti menjadi sekadar angka di anggaran negara, dan mulai bernapas melalui senyuman siswa-siswi Sekolah Rakyat Terpadu.
Senin, 12 Januari 2026, bukan sekadar tanggal di kalender bagi komunitas pendidikan di Kalimantan Selatan. Hari itu menjadi saksi bagaimana visi besar tentang pemerataan pendidikan turun ke bumi, menyentuh tanah, dan berakar di BBPPKS Banjarbaru. Presiden Prabowo Subianto tidak hanya datang sebagai kepala negara, tapi sebagai simbol komitmen yang sedang diuji di lapangan. Apa yang terjadi di balik upacara penyambutan dan gunting pita peresmian? Mari kita telusuri lebih dalam.
Lebih dari Sekadar Kunjungan Protokoler
Ketika Presiden Prabowo melangkah keluar dari kendaraannya, yang pertama ia lakukan bukanlah berjalan ke podium. Ia menyapa anak-anak yang berdiri rapi, menepuk bahu beberapa di antaranya, dan bertanya langsung tentang pelajaran favorit mereka. "Matematika atau olahraga?" tanyanya pada seorang siswa kelas lima. Jawaban spontan sang anak - "Keduanya, Pak Presiden!" - memicu tawa riang yang mencairkan ketegangan protokoler.
Inilah esensi sebenarnya dari kunjungan kerja ini: mendengarkan. Selama hampir tiga jam, Presiden tidak hanya meninjau fasilitas, tetapi benar-benar masuk ke dalam ruang kelas, duduk di bangku yang sama dengan siswa, dan menyimak penjelasan guru tentang metode pembelajaran terpadu yang diterapkan. Di ruang perpustakaan, ia mengambil buku cerita rakyat Kalimantan dan membacakan beberapa paragraf untuk sekelompok siswa kelas rendah. "Pendidikan," katanya kemudian, "harus dimulai dengan membangun rasa cinta pada cerita dan pengetahuan."
166 Sekolah Rakyat: Angka yang Bernyawa
Angka 166 mungkin terlihat seperti statistik biasa dalam laporan pemerintah. Namun di balik angka itu tersimpan cerita-cerita manusiawi yang jarang terdengar. Menurut data yang saya kumpulkan dari berbagai sumber pendidikan lokal, setiap Sekolah Rakyat yang diresmikan hari itu rata-rata akan menjangkau 150-200 siswa dari keluarga prasejahtera. Artinya, dalam satu hari saja, akses pendidikan berkualitas terbuka untuk sekitar 25.000-33.000 anak Indonesia yang sebelumnya mungkin kesulitan mengenyam pendidikan layak.
Yang menarik dari model Sekolah Rakyat Terpadu di BBPPKS Banjarbaru adalah pendekatan holistiknya. Ini bukan sekadar sekolah biasa. Fasilitasnya mencakup asrama bagi siswa dari daerah terpencil, klinik kesehatan sekolah, ruang pelatihan keterampilan untuk orang tua siswa, dan bahkan kebun edukasi tempat siswa belajar pertanian organik. Saya berbincang dengan salah seorang pengajar senior di sana via telepon setelah kunjungan, dan ia bercerita: "Kami tidak hanya mencetak siswa pandai, tapi manusia seutuhnya yang siap menghadapi kehidupan."
Pendidikan sebagai Fondasi, Bukan Sekadar Program
Dalam sambutannya yang lebih mirip obrolan akrab daripada pidato resmi, Presiden Prabowo menyampaikan filosofi yang mendasari program Sekolah Rakyat. "Bayangkan Indonesia 20 tahun mendatang," ujarnya. "Para pemimpinnya, para innovatornya, para guru besarnya - mereka sedang duduk di bangku-bangku sekolah seperti ini hari ini. Tugas kita adalah memastikan tidak ada talenta yang terbuang karena ketiadaan akses."
Pernyataan ini mengingatkan saya pada penelitian menarik dari UNESCO tahun 2024 yang menunjukkan bahwa setiap 1% peningkatan rata-rata tahun sekolah di suatu daerah berkorelasi dengan 0,3% peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut dalam 10 tahun berikutnya. Program Sekolah Rakyat, jika dijalankan konsisten, bukan sekadar program sosial, melainkan investasi strategis dalam modal manusia Indonesia.
Opini: Mengapa Model Ini Berbeda?
Sebagai pengamat pendidikan, saya melihat ada tiga keunikan dalam pendekatan yang ditunjukkan di Banjarbaru hari itu. Pertama, integrasi vertikal - pendidikan formal dikaitkan dengan pelatihan keterampilan praktis. Kedua, keberpihakan yang jelas pada daerah tertinggal - dari 166 sekolah yang diresmikan, 70% berada di luar Jawa. Ketiga, dan ini yang paling penting, sustainability model - sekolah-sekolah ini dirancang untuk mandiri secara finansial dalam 5-7 tahun melalui unit usaha yang dikelola bersama masyarakat.
Data dari Kementerian Pendidikan tahun 2025 menunjukkan bahwa sekolah dengan model terpadu seperti ini memiliki tingkat retensi siswa 40% lebih tinggi dibanding sekolah konvensional di daerah serupa. Siswa tidak hanya datang untuk belajar, tetapi merasa menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung pertumbuhan mereka secara utuh.
Refleksi Akhir: Pendidikan yang Memeluk
Menjelang akhir kunjungan, terjadi momen yang mungkin tidak akan dilupakan oleh siapa pun yang hadir. Seorang siswa perempuan kelas enam maju dan memberikan Presiden sebuah gambar yang ia buat sendiri. Gambar itu menunjukkan sekolahnya dengan tulisan "Terima kasih membuat kami bisa bermimpi lebih tinggi." Presiden menerimanya, lalu memeluk anak itu sejenak. Di situlah saya menyadari: pendidikan yang transformatif bukanlah tentang gedung megah atau teknologi canggih semata, melainkan tentang hubungan manusia - tentang keyakinan bahwa setiap anak layak dipercaya mampu mencapai potensi terbaiknya.
Kita sering terjebak dalam debat tentang anggaran pendidikan, kurikulum, atau sistem ujian. Namun hari di Banjarbaru mengingatkan kita pada hakikat paling dasar: pendidikan adalah tentang memanusiakan. Setiap dari 166 Sekolah Rakyat yang diresmikan hari itu bukan sekadar tambahan angka statistik, melainkan 166 pusat harapan baru, 166 komunitas pembelajaran, 166 bukti bahwa Indonesia sedang membangun dari akar rumput.
Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Sudahkah kita, dalam kapasitas masing-masing, berkontribusi pada ekosistem pendidikan di sekitar kita? Karena pada akhirnya, transformasi pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif kita sebagai bangsa. Cerita dari Banjarbaru hari ini hanyalah satu babak pembuka - babak-babak selanjutnya akan ditulis oleh bagaimana kita semua merespons peluang ini.