Ledakan Petasan dan Gas Air Mata: Ketika Jumat Sore di Manggarai Berubah Jadi Medan Pertempuran
Kolong Manggarai yang biasanya ramai dengan lalu lintas, mendadak berubah jadi zona merah Jumat sore kemarin. Aksi saling lempar batu dan ledakan petasan memaksa polisi turun tangan dengan gas air mata. Ini bukan kali pertama, dan mungkin bukan yang terakhir.
Bayangkan ini: Jumat sore, cuaca agak gerah, Anda baru saja melewati kolong Manggarai dengan harapan bisa cepat sampai rumah. Tiba-tiba, suara ledakan memekakkan telinga bukan dari knalpot modifikasi, tapi dari petasan. Batu-batu beterbangan, teriakan panik menggantikan klakson mobil. Itulah kenyataan pahit yang dialami warga dan pengendara di kawasan itu pada 2 Januari lalu. Kawasan yang seharusnya menjadi penghubung transportasi, mendadak berubah menjadi arena konflik yang mencekam.
Menurut pengakuan beberapa warga yang enggan disebutkan namanya, puluhan orang dari kelompok berbeda terlibat dalam aksi saling serang yang berlangsung cukup lama. "Suasana jadi seperti film perang," ujar seorang penjaga warung yang lokasinya hanya berjarak seratus meter dari lokasi kejadian. Ia dan tetangganya terpaksa mengunci pintu dan jendela, berusaha menjauh dari jendela kaca yang rentan pecah akibat lemparan benda keras. Aktivitas warga sekitar lumpuh total, sementara pengendara yang terjebak di lokasi hanya bisa pasrah menyaksikan kericuhan dari balik kaca mobil.
Aparat kepolisian dari Polsek dan Brimob akhirnya diterjunkan untuk meredakan situasi. Namun, upaya damai tampaknya tak membuahkan hasil. Massa yang sudah emosi sulit dikendalikan, memaksa petugas mengambil langkah tegas: menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Beberapa menit setelah gas air mata menyebar, situasi perlahan mulai bisa dikendalikan. Arus lalu lintas yang sempat macet total, akhirnya kembali bergerak meski dengan kepanikan yang masih tersisa di udara.
Secara resmi, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden ini. Tapi, ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar statistik korban: pola pengulangan. Data dari Lembaga Kajian Konflik Perkotaan mencatat, kawasan Manggarai dan sekitarnya telah menjadi lokasi bentrokan sebanyak 7 kali dalam 3 tahun terakhir. Artinya, rata-rata lebih dari dua kali tawuran terjadi setiap tahunnya di titik yang sama. Ini bukan lagi sekadar insiden sporadis, melainkan pola konflik yang sudah mengakar dan berulang seperti siklus yang tak putus.
Yang sering luput dari perbincangan adalah akar masalah sebenarnya. Sebagai kawasan padat dengan sejarah panjang sebagai daerah transit, Manggarai menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda. Tekanan ekonomi pascapandemi, persaingan ruang hidup, dan minimnya ruang dialog antar-generasi muda menciptakan bubuk mesiu yang siap meledak kapan saja. Pendekatan keamanan dengan gas air mata mungkin efektif untuk meredakan bentrokan hari itu, tapi sama sekali tidak menyentuh sumber konflik yang sebenarnya.
Pada akhirnya, kita semua harus bertanya: sampai kapan kita akan terus menyaksikan pemandangan yang sama? Gas air mata bisa membubarkan massa, tapi tidak bisa membubarkan kebencian yang sudah mengendap. Program pencegahan yang hanya reaktif—datang saat kerusuhan sudah terjadi—tidak akan pernah cukup. Yang dibutuhkan adalah pendekatan proaktif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, dari tokoh agama, pemuda, hingga lembaga pendidikan di tingkat RT/RW.
Mungkin inilah saatnya kita melihat tawuran bukan sekadar berita kriminal sesaat, melainkan cermin dari masalah sosial yang lebih besar. Setiap kali kita melewati Kolong Manggarai dengan tenang, ingatlah bahwa kedamaian itu rapuh. Mari kita mulai dari hal kecil: tidak menyebarkan ujaran kebencian, melaporkan potensi konflik sejak dini, dan terlibat aktif dalam kegiatan komunitas yang membangun persaudaraan. Karena sesungguhnya, keamanan bukan hanya tugas polisi—tapi tanggung jawab kita semua yang ingin hidup berdampingan dengan damai.