Langit Masih Murung: Kenapa Cuaca Ekstrem Tak Kunjung Reda di Indonesia?
BMKG kembali mengingatkan ancaman cuaca ekstrem yang belum berakhir. Tapi ada yang lebih menarik dari sekadar peringatan biasa—ini tentang pola yang berubah dan bagaimana kita harus beradaptasi.
Pernahkah Anda merasa langit akhir-akhir ini seperti punya mood swing yang parah? Satu hari terik menyengat, keesokan harinya hujan seolah mau menenggelamkan bumi. BMKG baru saja mengonfirmasi perasaan kita itu bukan sekadar khayalan—potensi cuaca ekstrem masih akan terus menghantui berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan. Dan ini bukan sekadar 'hujan biasa', melainkan fenomena yang bisa memicu banjir bandang hingga tanah longsor yang mengancam nyawa.
Menariknya, data BMKG menunjukkan peningkatan frekuensi kejadian ekstrem ini hampir 30% dalam lima tahun terakhir di beberapa daerah. Seorang analis iklim yang saya ajak bicara menyebut ini sebagai 'new normal' yang harus kita hadapi—bukan lagi kejadian langka, tapi rutinitas yang menuntut kewaspadaan ekstra. Wilayah dengan kontur perbukitan dan daerah aliran sungai, seperti beberapa bagian Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan, menjadi panggung utama pertunjukan alam yang mencemaskan ini.
Namun di balik semua peringatan itu, ada cerita lain yang jarang disinggung: seberapa siapkah infrastruktur kita menghadapi intensitas hujan yang semakin tak terduga? Pengalaman banjir besar awal tahun lalu di Kalimantan Selatan seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa sistem drainase dan tata ruang kita masih banyak yang 'kewalahan' menghadapi curah hujan tinggi. BMKG memang terus memantau dan mengeluarkan peringatan dini, tapi respons di lapangan seringkali masih seperti lomba lari estafet dengan tongkat yang kerap terjatuh.
Di sisi lain, pemerintah daerah mulai bergerak dengan menyiagakan tim tanggap darurat dan memperkuat koordinasi antarinstansi. Ini langkah yang patut diapresiasi, tapi saya pribadi merasa kita perlu melangkah lebih jauh. Kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan memiliki tim reaksi—kita butuh budaya pencegahan yang tertanam di setiap level masyarakat. Mulai dari bagaimana kita membuang sampah, memilih lokasi tinggal, hingga merespons peringatan dini dengan serius.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu? Pertama, jadilah 'detektif cuaca' untuk diri sendiri dan keluarga. Rutinlah memantau informasi resmi dari BMKG melalui aplikasi atau media sosial mereka—jangan hanya mengandalkan kabar dari grup WhatsApp yang seringkali tidak akurat. Kedua, jika Anda tinggal di daerah rawan, buatlah rencana darurat keluarga: titik kumpul, kontak penting, dan tas siaga bencana. Dan yang paling penting: dengarkan naluri Anda. Jika langit sudah terlalu kelam dan hati merasa tidak nyaman, lebih baik menunda aktivitas di luar ruangan.
Pada akhirnya, menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering ini bukanlah perlombaan siapa paling kuat, tapi ujian seberapa bijak kita beradaptasi dengan perubahan alam. BMKG telah melakukan bagian mereka dengan memberikan peringatan—sekarang giliran kita untuk merespons dengan tindakan nyata. Mari kita mulai dari hal kecil: lebih peka terhadap lingkungan sekitar, lebih menghargai peringatan, dan lebih peduli pada tetangga yang mungkin lebih rentan. Karena di tengah ketidakpastian cuaca, satu hal yang pasti: keselamatan kita adalah tanggung jawab bersama.