Kuliner

Kisah Ironi Kuliner: Saat Secangkir Kopi Lebih Berharga Dibanding Warisan Rasa Nusantara

Mengapa kita rela merogoh kocek dalam-dalam untuk kopi kekinian, tapi enggan mencicipi kekayaan kuliner tradisional yang justru menyimpan identitas kita?

Penulis:salsa maelani
15 Januari 2026
Kisah Ironi Kuliner: Saat Secangkir Kopi Lebih Berharga Dibanding Warisan Rasa Nusantara

Bayangkan ini: Anda sedang berdiri di sebuah kafe modern dengan interior minimalis, menyeruput latte seharga Rp 75.000 sambil memandangi laptop. Tak jauh dari sana, seorang penjual getuk lindri dengan gerobak kayunya berjalan pelan, menawarkan warisan rasa yang sudah bertahan puluhan tahun dengan harga tak lebih dari Rp 15.000 per porsi. Ada sesuatu yang tak beres dalam gambar ini—sebuah paradoks budaya yang sedang kita hidupi sehari-hari.

Fenomena ini bukan sekadar tentang selera atau tren semata. Ini adalah cerita tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat urban, secara tidak sadar sedang menciptakan hierarki nilai baru dalam dunia kuliner. Kopi—yang dulu hanya minuman biasa—kini telah bertransformasi menjadi simbol status, gaya hidup, dan bahkan identitas sosial. Sementara itu, makanan tradisional kita perlahan-lahan tersingkir ke pinggiran, dianggap sebagai pilihan "nostalgia" ketimbang sesuatu yang relevan dengan kehidupan modern.

Ekonomi Emosional di Balik Secangkir Kopi

Apa sebenarnya yang kita beli ketika membayar mahal untuk secangkir kopi? Menurut penelitian dari Indonesian Consumer Behavior Institute (2025), 68% konsumen muda mengaku bahwa pengalaman di kafe—mulai dari estetika tempat, pelayanan barista, hingga kesempatan untuk berfoto—sama pentingnya dengan rasa kopi itu sendiri. Kopi telah menjadi medium sosial, ruang ketiga antara rumah dan kantor, sekaligus kanvas untuk mengekspresikan identitas digital melalui konten media sosial.

Data menarik lainnya menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran bulanan untuk kopi kekinian di kalangan milenial perkotaan mencapai Rp 600.000-800.000. Angka ini cukup untuk membeli 40-50 porsi makanan tradisional dengan variasi yang berbeda setiap hari. Namun, ketika ditanya tentang alokasi anggaran khusus untuk menjelajahi kuliner tradisional, hanya 23% yang mengaku memiliki budget terencana untuk itu.

Makanan Tradisional: Korban dari Krisis Narasi

Di sinilah letak masalah mendasarnya: makanan tradisional kita mengalami krisis narasi. Sementara kopi memiliki cerita tentang single origin, proses roasting, dan metode brewing yang dipromosikan dengan apik, banyak makanan tradisional hanya dikenal sebagai "makanan nenek moyang" tanpa konteks yang menarik bagi generasi sekarang.

Padahal, setiap hidangan tradisional menyimpan cerita yang jauh lebih kaya. Ambil contoh serabi—bukan sekadar pancake tradisional, tapi merupakan hasil akulturasi budaya India dan Jawa yang sudah berlangsung sejak abad ke-15. Atau papeda dari Papua, yang bukan hanya makanan pokok, tapi juga simbol persatuan komunitas dalam proses pembuatannya yang melibatkan banyak orang.

Opini: Kita Sedang Kehilangan "Rasa Rumah"

Di sini saya ingin berbagi pandangan pribadi: sebagai seseorang yang tumbuh dengan aroma rempah-rempah dari dapur nenek, saya merasa kita sedang kehilangan sesuatu yang fundamental. Bukan sekadar resep atau teknik memasak, tapi apa yang saya sebut sebagai "rasa rumah"—rasa yang mengikat kita dengan akar, dengan memori kolektif, dan dengan identitas sebagai bangsa.

Ironisnya, justru di era globalisasi ini, negara-negara lain dengan bangga mempromosikan kuliner tradisional mereka. Jepang dengan washoku-nya yang diakui UNESCO, Korea dengan kimchi-nya yang menjadi fenomena global, atau Meksiko dengan street food-nya yang justru menjadi daya tarik utama wisatawan. Sementara kita? Kita sibuk mengimpor tren kuliner dari luar, sementara kekayaan kita sendiri terbengkalai.

Revolusi yang Bisa Kita Mulai dari Piring Kita Sendiri

Perubahan tidak harus datang dari kebijakan pemerintah atau kampanye besar-besaran. Revolusi bisa dimulai dari pilihan-pilihan kecil sehari-hari. Cobalah alokasikan satu hari dalam seminggu sebagai "Hari Kuliner Tradisional"—jelajahi pasar tradisional, cari penjual makanan lokal, atau bahkan belajar memasak satu resep turun-temurun dari keluarga.

Beberapa komunitas muda sudah mulai bergerak. Ada kelompok yang membuat tur kuliner tradisional dengan pendekatan storytelling, mengemas sejarah dan budaya dalam setiap gigitan. Ada pula startup yang menghubungkan pembuat makanan tradisional dengan konsumen urban melalui platform digital, memberikan mereka akses ke pasar yang lebih luas tanpa kehilangan keaslian rasanya.

Penutup: Menemukan Kembali Rasa yang Menghubungkan

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengajak Anda melakukan eksperimen kecil. Minggu depan, alih-alih menghabiskan Rp 75.000 untuk secangkir kopi di kafe ternama, cobalah alokasikan dana yang sama untuk menjelajahi tiga atau empat jenis makanan tradisional yang belum pernah Anda coba. Rasakan bukan hanya lidahnya, tapi dengarkan cerita di baliknya—dari penjualnya, dari proses pembuatannya, dari sejarahnya.

Mungkin Anda akan menemukan bahwa di balik sederhananya getuk lindri atau kue putu, tersimpan kompleksitas rasa dan warisan budaya yang tak kalah bernilai dengan kopi single origin manapun. Karena pada akhirnya, kuliner bukan sekadar tentang mengisi perut atau mengikuti tren. Ini tentang menjaga cerita-cerita yang membuat kita tetap terhubung dengan siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi sebagai sebuah bangsa.

Pertanyaan terakhir untuk direnungkan: jika kita tidak mulai menghargai warisan kuliner kita sendiri sekarang, cerita rasa apa yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya? Mungkin sudah waktunya kita menulis ulang narasi tersebut—satu gigitan, satu suapan, pada satu waktu.

Dipublikasikan: 15 Januari 2026, 03:42
Diperbarui: 16 Januari 2026, 11:39