Internasional

Ketika Seorang Penjual Koran Keliling Menjadi Simbol Kehidupan Sosial Paris yang Mulai Pudar

Kisah Ali Akbar, penjual koran terakhir Paris yang mendapat penghargaan tertinggi Prancis, mengingatkan kita tentang nilai interaksi manusia di era digital.

Penulis:adit
2 Februari 2026
Ketika Seorang Penjual Koran Keliling Menjadi Simbol Kehidupan Sosial Paris yang Mulai Pudar

Suara Pagi yang Hampir Punah di Trotoar Paris

Bayangkan ini: setiap pagi selama 50 tahun terakhir, di sudut-sudut Saint-Germain-des-Prés yang terkenal, terdengar suara yang sama—suara lembut seorang pria menawarkan koran, diselingi sapaan hangat, canda tentang berita hari itu, dan tanya kabar kepada pelanggan setianya. Ini bukan sekadar transaksi jual-beli, melainkan ritual sosial yang telah menjadi bagian dari DNA kehidupan kota Paris. Dan kini, ritual itu hampir punah, tersisih oleh gempuran berita digital dan kehidupan yang semakin individualistis.

Ali Akbar, pria 73 tahun asal Pakistan yang telah menjadi penjual koran keliling sejak 1970-an, mungkin tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi penjaga terakhir sebuah tradisi urban. Bukan hanya menjual kertas berisi berita, tapi ia menjual interaksi manusia—sesuatu yang semakin langka di kota-kota besar dunia. Menurut data Asosiasi Penjual Koran Prancis, jumlah penjual koran keliling telah menyusut drastis dari ribuan di tahun 1980-an menjadi kurang dari 50 orang di seluruh Prancis saat ini. Ali diyakini sebagai yang terakhir di Paris.

Penghargaan untuk Lebih dari Sekadar Pekerjaan

Pada 28 Januari 2026, di Istana Élysée yang megah, terjadi sesuatu yang luar biasa. Di ruangan yang biasanya dipenuhi politisi, diplomat, dan tokoh ternama, berdiri seorang pria sederhana dengan jaket yang sudah usang namun rapi. Presiden Emmanuel Macron tidak hanya memberikan penghargaan—ia memberikan pengakuan atas sebuah cara hidup yang hampir hilang. Gelar ksatria Ordo Nasional Kehormatan, salah satu penghargaan sipil tertinggi di Prancis, diberikan bukan karena Ali menjual banyak koran, tapi karena selama setengah abad ia telah menjadi "jembatan sosial" di tengah masyarakat Paris.

"Anda adalah suara arrondissement keenam," ujar Macron dalam pidatonya yang penuh emosi, seperti dilaporkan Le Monde. "Tapi lebih dari itu, Anda adalah memori hidup kota ini. Setiap pagi, Anda mengingatkan kita bahwa teknologi tidak boleh menggantikan kemanusiaan." Kata-kata ini mengungkap sesuatu yang lebih dalam: dalam era di mana kita terhubung secara digital namun terputus secara sosial, peran seperti Ali justru menjadi semakin berharga.

Filosofi Sederhana di Balik Setengah Abad Pengabdian

Dalam wawancara eksklusif dengan media lokal beberapa bulan sebelum penghargaan diberikan, Ali membagikan filosofi hidupnya yang sederhana namun mendalam. "Banyak orang bertanya mengapa saya terus melakukan ini padahal koran fisik sudah jarang dibaca," katanya sambil tersenyum. "Jawabannya sederhana: saya tidak menjual koran, saya menjual percakapan. Setiap koran yang terjual adalah awal dari sebuah obrolan, sebuah cerita, sebuah hubungan."

Pelanggannya bukan hanya pembeli—mereka adalah teman. Ada profesor universitas yang telah membeli koran darinya sejak 1980-an, ada pemilik kafe yang selalu menyediakan kopi gratis untuknya, ada turis yang kembali setiap tahun khusus untuk menyapanya. Jaringan sosial yang dibangun Ali selama puluhan tahun ini adalah contoh nyata dari apa yang sosiolog sebut "modal sosial"—jaringan hubungan yang memperkaya kehidupan komunitas.

Yang menarik, meski berasal dari Pakistan, Ali justru dianggap sebagai "orang Prancis yang paling Prancis" oleh banyak warga lokal. Ini mengingatkan kita pada esensi sebenarnya dari integrasi—bukan sekadar dokumen kewarganegaraan, tapi kontribusi nyata terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Sebuah survei kecil yang dilakukan mahasiswa sosiologi di Sorbonne menemukan bahwa 89% responden di arrondissement keenam mengenal Ali secara personal, angka yang luar biasa untuk sebuah kota besar seperti Paris.

Era Digital vs Interaksi Manusia: Sebuah Refleksi

Di sini saya ingin berbagi sebuah pengamatan pribadi. Beberapa tahun lalu, saya tinggal sebentar di Paris dan setiap pagi membeli koran dari seorang penjual tua di dekat Luxembourg Garden. Transaksi 2 menit itu selalu menjadi highlight pagi saya—obrolan singkat tentang cuaca, rekomendasi kafe terdekat, atau sekadar senyuman. Kini, dengan semua berita tersedia di genggaman tangan, saya bertanya-tanya: apa yang hilang ketika kita kehilangan momen-momen kecil seperti itu?

Data dari Institut Prancis untuk Studi Sosial menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: interaksi sosial spontan di ruang publik telah menurun 40% dalam dua dekade terakhir. Kita lebih sering menatap layar daripada saling menyapa. Dalam konteks inilah, figure seperti Ali Akbar menjadi penting—ia adalah pengingat fisik bahwa teknologi seharusnya melengkapi, bukan menggantikan, interaksi manusia.

Warisan yang Lebih Berharga dari Penghargaan

Penghargaan dari Presiden Macron tentu merupakan momen bersejarah bagi Ali, tapi saya yakin warisan sebenarnya justru ada di trotoar Saint-Germain-des-Prés. Setiap pagi ketika ia berjalan dengan gerobak korannya, ia tidak hanya membawa berita—ia membawa pelajaran tentang ketekunan, tentang membangun komunitas, tentang menemukan makna dalam hal-hal sederhana.

Dalam dunia yang semakin cepat dan terdigitalisasi, kisah Ali mengajarkan kita untuk melambat sejenak. Mungkin kita tidak bisa semua menjadi penjual koran, tapi kita bisa belajar darinya: bahwa menyapa tetangga, mengobrol dengan pedagang lokal, atau sekadar tersenyum kepada orang asing di halte bus—semua itu adalah benang-benang yang menyusun kain sosial masyarakat kita.

Pertanyaan terakhir untuk kita renungkan bersama: jika Ali adalah penjual koran keliling terakhir di Paris, lalu siapa yang akan menjadi "penjaga interaksi sosial" berikutnya? Mungkin jawabannya ada pada kita semua—dalam pilihan kita untuk tetap terhubung secara manusiawi, meski dunia semakin digital. Mungkin, justru dalam era seperti inilah kita perlu lebih banyak "Ali Akbar" di setiap sudut kota, mengingatkan kita bahwa kemanusiaan tidak pernah ketinggalan zaman.

Lain kali Anda melewati pedagang kecil di jalan, cobalah berhenti sejenak. Bukan hanya untuk membeli sesuatu, tapi untuk berbicara. Karena seperti yang diajarkan Ali selama 50 tahun: terkadang, percakapan sederhana bisa menjadi hadiah terbesar yang kita berikan—dan terima—dalam kehidupan sehari-hari.

Dipublikasikan: 2 Februari 2026, 05:12
Diperbarui: 2 Februari 2026, 05:12