Kuliner

Ketika Rasa Nenek Moyang Bertemu Instagram: Kisah Hidup Kembali Makanan Tradisional

Makanan tradisional tak lagi sekadar warisan. Melalui kreativitas anak muda, ia berubah jadi tren yang viral dan bernilai ekonomi tinggi di era digital.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
3 Februari 2026
Ketika Rasa Nenek Moyang Bertemu Instagram: Kisah Hidup Kembali Makanan Tradisional

Bayangkan secangkir wedang jahe yang biasa dinikmati kakek di teras rumah, kini disajikan dalam gelas estetik dengan taburan edible flower, difoto dengan latar kafe minimalis, dan viral di TikTok. Ini bukan mimpi, tapi realitas yang sedang terjadi. Di tengah gempuran burger, pizza, dan boba tea, ada gelombang diam-diam yang justru membangkitkan kembali cita rasa yang hampir terlupakan. Bukan dengan mempertahankannya dalam bentuk yang kaku, tapi justru dengan membiarkannya berevolusi, berkolaborasi, dan bercerita dengan cara baru.

Perjalanan kuliner tradisional di Indonesia mirip dengan sebuah cerita epik. Ia pernah menjadi raja, lalu sempat tersingkir oleh kedatangan makanan cepat saji yang dianggap lebih 'kekinian'. Namun, data menarik dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2023 menunjukkan bahwa bisnis kuliner berbasis makanan tradisional yang diinovasi tumbuh 35% lebih cepat dibandingkan bisnis kuliner konvensional. Angka ini bukan kebetulan. Ia adalah bukti bahwa ada ruang hati yang kosong—kerinduan akan identitas dan cerita—yang hanya bisa diisi oleh sepiring nasi liwet, semangkuk soto, atau sepotong kue lapis yang dihidangkan dengan narasi baru.

Bukan Sekadar Mengubah Rasa, Tapi Merangkai Ulang Cerita

Jika dulu pelestarian berarti menjaga resep tetap sama persis seperti catatan tua yang lusuh, kini filosofinya bergeser. Inovasi bukan pengkhianatan, melainkan bentuk adaptasi yang cerdas. Ambil contoh 'Soto Betawi Rempah', yang awalnya hanya dikenal di pinggiran Jakarta. Seorang chef muda mengolahnya dengan teknik slow cooking, menyajikannya dalam mangkuk keramik modern, dan menambahkan sentuhan microgreens. Hasilnya? Soto itu tidak kehilangan jiwanya—kaldu susu dan rempahnya tetap menjadi bintang—tapi penampilan dan pengalaman menyantapnya menjadi sesuatu yang layak dibagikan di media sosial. Ini adalah strategi bertahan hidup: mempertahankan inti (rasa dan filosofi) sambil mengubah kulitnya (penyajian dan konteks).

Generasi Z: Dari Penonton Menjadi Kreator Utama

Fenomena yang paling menggembirakan adalah peran anak muda sebagai agen perubahan. Mereka adalah digital native yang justru menemukan nilai nostalgia dan keunikan dalam makanan tradisional. Banyak dari mereka yang memulai bisnis dari dapur rumah, mempromosikan lewat Instagram Reels atau TikTok, dengan storytelling yang kuat. "Ini resep nenek saya, tapi saya kurangi gulanya karena aware kesehatan," begitu kira-kira narasi yang sering muncul. Mereka berhasil menjembatani dua dunia: menghormati warisan sekaligus memahami kebutuhan pasar modern akan kesehatan, kepraktisan, dan estetika. Opini saya, inilah kekuatan terbesar kebangkitan ini: ia didorong oleh passion, bukan sekadar kewajiban melestarikan.

Kemasan dan Platform: Senjata Baru di Era Digital

Pertarungan di era sekarang tidak hanya terjadi di atas kompor, tapi juga di layar ponsel dan di rak-rak toko. Makanan tradisional seperti jenang, dodol, atau keripik mustopa kini hadir dalam kemasan vacuum seal yang stylish dengan label bilingual. Ini bukan sekadar soal tampilan, tapi tentang memperpanjang umur simpan, memudahkan distribusi, dan meningkatkan perceived value. Platform seperti GoFood, ShopeeFood, atau aplikasi khusus kuliner tradisional menjadi gerbang utama untuk menjangkau konsumen urban yang sibuk. Satu klik, dan rendang Padang autentik bisa sampai di meja kerja mereka. Aksesibilitas ini menghilangkan jarak dan mengubah makanan lokal menjadi komoditas nasional, bahkan global.

Data yang Memberi Harapan: Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Sebuah laporan dari Badan Ekonomi Kreatif tahun 2022 mengungkap fakta menarik. Subsektor kuliner yang secara aktif mengangkat dan menginovasi produk tradisional menyumbang peningkatan hingga 40% terhadap nilai ekonomi kreatif daerah. Artinya, inovasi kuliner tradisional tidak hanya menyelamatkan warisan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mendongkrak pariwisata, dan menguatkan brand daerah. Kota seperti Solo dengan Sate Buntel-nya, atau Bandung dengan Surabi Modern-nya, adalah bukti nyata bagaimana satu jenis makanan bisa menjadi ikon dan penggerak ekonomi yang tangguh.

Tantangan di Balik Peluang: Menjaga Autentisitas vs Mengejar Tren

Tentu, jalan ini tidak selalu mulus. Ada risiko besar ketika inovasi kelewat jauh hingga menghilangkan roh asli makanan tersebut. Ketika getuk digoreng dan diberi topping keju cheddar, sampai di titik mana ia masih bisa disebut getuk? Di sinilah diperlukan kearifan. Inovasi yang baik adalah yang memahami 'jiwa' makanan itu—apakah itu terletak pada bahan utama, teknik memasak, atau makna budayanya—lalu berkreasi di sekitar jiwa tersebut, bukan menghancurkannya. Peran komunitas, ahli kuliner, dan bahkan konsumen yang kritis sangat penting untuk menjaga keseimbangan ini.

Jadi, apa masa depan kuliner tradisional kita? Melihat gelagat yang ada, masa depannya justru cerah. Ia tidak akan mati, melainkan berubah wujud. Dari sesuatu yang mungkin dianggap kuno, menjadi simbol identitas yang cool, fleksibel, dan relevan. Setiap gigitan pada onde-onde rasa matcha atau es cendol kekinian sebenarnya adalah sebuah percakapan antara masa lalu dan masa kini.

Mungkin, inilah pelestarian yang paling masuk akal untuk zaman sekarang: membuat generasi muda jatuh cinta dulu, dengan cara mereka sendiri. Ketika cinta itu sudah tumbuh, rasa ingin tahu tentang versi asli, sejarah, dan filosofi di baliknya akan datang dengan sendirinya. Bagaimana dengan Anda? Makanan tradisional apa yang pernah Anda coba dalam bentuk yang diinovasi? Atau, adakah resep keluarga yang Anda think bisa 'dihidupkan kembali' dengan sentuhan kekinian? Coba eksplorasi. Siapa tahu, dari dapur Anda lah, lahir kisah kuliner tradisional generasi berikutnya.

Dipublikasikan: 3 Februari 2026, 03:16
Diperbarui: 20 Februari 2026, 08:31