viralmusibah

Ketika Niat Baik di Gunung Berubah Jadi Misteri: Kisah Syafiq yang Hilang di Slamet

Sebuah keputusan heroik untuk mencari bantuan justru membuat Syafiq menghilang di Gunung Slamet. Di balik operasi SAR besar-besaran, tersimpan pelajaran mendalam tentang risiko pendakian solo dan pentingnya persiapan ekstra.

Penulis:adit
7 Januari 2026
Ketika Niat Baik di Gunung Berubah Jadi Misteri: Kisah Syafiq yang Hilang di Slamet

Gunung Slamet bukan sekadar puncak tertinggi di Jawa Tengah. Ia adalah raksasa yang diam-diam menyimpan cerita—kadang tentang keindahan, sering tentang tantangan, dan terkadang tentang misteri yang membuat kita merenung. Seperti yang terjadi pekan ini, ketika niat baik seorang pendaki bernama Syafiq untuk menolong rekannya yang cedera justru berubah menjadi kisah hilang yang mengharu-biru. Bayangkan: Anda memutuskan turun duluan mencari pertolongan, tapi kemudian jejak Anda menghilang ditelan kabut dan hutan lebat. Apa yang sebenarnya terjadi setelah itu?

Ceritanya bermula dari pendakian dua sahabat melalui jalur Dipajaya di Pemalang. Saat rekannya mengalami cedera kaki dan tak bisa turun, Syafiq Ridhan Ali Razan memilih turun lebih dulu untuk mencari bantuan. Keputusan yang tampaknya logis, tapi di Gunung Slamet—dengan medannya yang ekstrem dan cuaca yang bisa berubah dalam hitungan menit—logika seringkali harus berhadapan dengan realitas yang tak terduga. Sejak saat itu, kontak dengan Syafiq terputus. Rekannya berhasil diselamatkan tim SAR, tapi Syafiq tetap hilang, seolah ditelan oleh gunung yang ia coba taklukkan.

Operasi pencarian pun digelar besar-besaran. Basarnas mengerahkan puluhan personel gabungan dari TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat. Mereka menyisir setiap jalur pendakian, lembah, dan titik-titik rawan. Tapi tantangannya luar biasa: cuaca tak menentu, kabut tebal yang bisa mengurangi visibilitas hingga nol meter, ditambah medan curam yang berbahaya bahkan bagi pencari yang berpengalaman.

Di sini ada data menarik yang sering luput dari perhatian: berdasarkan catatan Basarnas Jawa Tengah, sekitar 60% kasus pendaki hilang di gunung terjadi justru ketika mereka berpisah dari kelompoknya—persis seperti yang dialami Syafiq. Faktor utamanya? Bukan hanya tersesat secara fisik, tapi juga kepanikan psikologis yang membuat pengambilan keputusan menjadi tidak optimal. Gunung Slamet sendiri, meski populer, memiliki tingkat kesulitan teknis yang sering diremehkan pendaki pemula. Ketinggian 3.428 mdpl-nya bukan main-main—perubahan suhu bisa mencapai 15 derajat Celcius antara siang dan malam.

Keluarga Syafiq terus berharap, sambil mengapresiasi kerja keras tim SAR yang tak kenal lelah. Tapi di balik harapan itu, ada pertanyaan besar yang menggantung: apakah kita sebagai komunitas pendaki sudah cukup belajar dari kejadian-kejadian serupa? Atau kita masih menganggap pendakian sebagai aktivitas biasa yang tak perlu persiapan matang?

Sebagai penutup, mari kita renungkan ini: setiap gunung punya bahasanya sendiri. Slamet mungkin sedang mengingatkan kita bahwa keberanian saja tidak cukup—perlu kecerdasan, persiapan, dan yang paling penting: kesadaran bahwa kita hanyalah tamu di alamnya. Kepada Syafiq, doa kami menyertai. Kepada para pendaki, izinkan saya beropini: mungkin sudah saatnya kita tidak hanya mempersiapkan fisik dan peralatan, tapi juga mental untuk skenario terburuk. Karena di gunung, keputusan terbaik seringkali adalah keputusan yang paling tidak heroik—tetap bersama kelompok, menunggu bantuan, dan tidak menjadikan diri sendiri sebagai korban kedua.

Pencarian masih berlangsung saat artikel ini ditulis. Tapi terlepas dari hasilnya, cerita Syafiq sudah mengajarkan kita sesuatu. Mungkin lain kali, sebelum mendaki, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya siap jika harus memilih antara menjadi pahlawan atau tetap selamat?" Karena di alam bebas, menjadi bijak seringkali lebih penting daripada menjadi berani.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 06:14
Diperbarui: 20 Januari 2026, 21:39