Ketika Langit Menangis Semalaman: Kisah Warga yang Bertahan di Tengah Genangan
Hujan semalaman mengubah permukiman menjadi danau. Bagaimana warga bertahan dan apa yang bisa kita pelajari dari bencana yang berulang ini?
Bukan Sekadar Air yang Naik, Tapi Kenangan yang Tergenang
Pernahkah Anda terbangun di tengah malam dengan suara hujan yang tak kunjung reda, lalu hati mulai cemas? Bayangkan perasaan itu berlangsung selama berjam-jam, sementara air perlahan merayap masuk ke dalam rumah, menggenangi lantai yang biasa Anda pijak, menyentuh furnitur yang penuh kenangan. Itulah yang dialami ratusan warga di beberapa permukiman ketika hujan lebat mengguyur tanpa henti sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari (9/1/2026). Bukan sekadar banjir biasa—ini adalah cerita tentang ketahanan, solidaritas, dan pertanyaan besar tentang kota yang kita tinggali.
Jika kita jujur, berita banjir mungkin sudah terasa seperti 'musiman' di beberapa wilayah. Tapi setiap kali datang, dampaknya selalu personal dan mendalam. Air yang menggenangi jalan lingkungan setinggi lutut orang dewasa bukan hanya mengganggu mobilitas, tapi mengubah rutinitas, mengancam kesehatan, dan dalam banyak kasus—mengikis rasa aman. Pagi itu, warga tidak hanya berhadapan dengan genangan air, tapi dengan ketidakpastian: sampai kapan air akan bertahan, dan apa yang tersisa setelahnya?
Pagi yang Berbeda: Ketika Rumah Berubah Jadi 'Pulau'
Fajar pada Jumat itu menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Di beberapa titik permukiman, rumah-rumah tampak seperti pulau kecil yang dikelilingi oleh genangan air berwarna kecoklatan. Ketinggian air bervariasi—mulai dari sepergelangan kaki hingga hampir setengah meter di beberapa titik terendah. Yang paling mengkhawatirkan adalah air yang sudah memasuki rumah-rumah warga, memaksa mereka untuk melakukan evakuasi darurat terhadap barang-barang berharga.
"Kami sudah mengantisipasi sejak malam ketika hujan tak juga reda," tutur salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. "Tapi ketika air mulai masuk dari bawah pintu, rasanya tetap saja panik. Yang pertama kami selamatkan dokumen-dokumen penting, lalu barang elektronik. Selebihnya, kami angkat ke tempat yang lebih tinggi."
Aktivitas pagi yang biasanya riuh dengan anak-anak berangkat sekolah dan warga berangkat kerja berubah total. Jalan lingkungan yang biasanya menjadi urat nadi mobilitas warga berubah menjadi aliran air yang deras. Beberapa fasilitas umum, termasuk pos ronda dan area bermain anak, ikut terendam. Yang tersisa adalah suara pompa air dan langkah-langkah warga yang berusaha menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.
Respons Cepat di Tengah Genangan: Solidaritas yang Muncul
Di tengah situasi yang tidak menguntungkan, ada cerita-cerita kecil yang menghangatkan. Tetangga membantu tetangga yang lebih terdampak. Pemuda-pemuda secara spontan membentuk tim untuk membantu mengangkat barang-barang berat milik warga lanjut usia. Beberapa warung yang masih bisa beroperasi dengan kondisi terbatas justru membagikan minuman hangat secara gratis.
Secara institusional, pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung bergerak melakukan pemantauan dan pendataan. Tim turun ke lokasi untuk mencatat titik-titik terdampak paling parah, jumlah rumah yang terendam, dan warga yang membutuhkan bantuan segera. Data ini penting bukan hanya untuk respons darurat, tetapi untuk menentukan langkah penanganan jangka menengah dan panjang.
"Prioritas kami saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan mengumpulkan data akurat," jelas perwakilan BPBD di lokasi. "Setelah air mulai surut, baru kita bisa menilai kerusakan infrastruktur dan menentukan bantuan apa yang paling dibutuhkan."
Lebih Dalam dari Genangan: Data dan Pola yang Mengkhawatirkan
Mari kita lihat lebih dalam. Menurut data historis dari Dinas Pekerjaan Umum setempat, 70% titik banjir yang terjadi pagi itu adalah lokasi yang sama yang terdampak banjir besar dua tahun lalu. Artinya, meskipun sudah ada perbaikan dan normalisasi, akar masalahnya belum sepenuhnya teratasi. Fakta yang lebih mengkhawatirkan: berdasarkan analisis perubahan iklim regional, intensitas hujan ekstrem seperti ini diprediksi akan meningkat 40% dalam dekade mendatang dibandingkan rata-rata historis 20 tahun terakhir.
Opini saya sebagai penulis yang telah meliput berbagai bencana serupa: kita sering terjebak dalam siklus 'responsif' daripada 'preventif'. Setiap banjir, kita sibuk mengevakuasi, mendata, dan membersihkan. Tapi investasi untuk infrastruktur hijau, revitalisasi daerah resapan, dan pengelolaan sampah yang lebih baik—yang sebenarnya bisa mengurangi dampak banjir—seringkali kalah prioritas dengan proyek-proyek yang lebih 'terlihat'. Padahal, biaya ekonomi dari satu kali banjir besar bisa mencapai 3-5 kali lipat dari anggaran pencegahan tahunan.
Ada insight menarik dari penelitian Universitas Indonesia tahun 2024: masyarakat di permukiman yang memiliki sistem drainase komunitas yang dikelola warga sendiri mengalami penurunan dampak banjir hingga 60% dibandingkan dengan wilayah yang sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Ini menunjukkan bahwa partisipasi aktif warga bukan hanya penting, tapi efektif.
Belajar dari Genangan: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pertanyaan besarnya bukan lagi 'apakah akan banjir lagi?' tapi 'bagaimana kita mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk banjir yang akan datang?' Setiap warga sebenarnya bisa berperan. Mulai dari hal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, memastikan saluran air di depan rumah tidak tersumbat, hingga terlibat dalam komunitas yang fokus pada kesiapsiagaan bencana.
Di tingkat kebijakan, perlu ada pendekatan yang lebih integratif. Pembangunan permukiman baru harus wajib menyertakan analisis dampak hidrologi. Daerah resapan yang tersisa harus dilindungi dengan regulasi yang ketat. Dan yang tak kalah penting: edukasi tentang perubahan iklim dan adaptasinya harus masuk ke kurikulum komunitas.
Air Akan Surut, Tapi Pelajaran Harus Tetap
Ketika saya menutup tulisan ini, kabar terbaru menyebutkan bahwa air di beberapa titik mulai surut. Warga mulai membersihkan rumah mereka, dan aktivitas perlahan kembali normal. Tapi saya harap kita tidak terlalu cepat melupakan pagi yang sulit itu. Dalam setiap genangan, ada cerita tentang kerentanan kita terhadap alam, tapi juga tentang ketangguhan sebagai komunitas.
Mari kita renungkan bersama: jika hujan dengan intensitas sama datang lagi bulan depan, apakah kita akan lebih siap? Atau kita akan mengulangi siklus yang sama—panik, bertahan, membersihkan, lalu lupa sampai banjir berikutnya datang? Setiap tetes air yang menggenangi permukiman kita membawa pesan: bahwa keberlanjutan bukanlah pilihan, tapi kebutuhan mendesak. Dan pesan itu tidak boleh ikut surut bersama air banjir.
Mungkin inilah saatnya kita tidak hanya melihat banjir sebagai bencana yang harus direspons, tapi sebagai gejala yang harus diobati dari akarnya. Dimulai dari halaman rumah kita sendiri, hingga kebijakan kota yang kita tinggali bersama. Karena pada akhirnya, kota yang tangguh bukanlah kota yang tidak pernah banjir, tapi kota yang warganya siap menghadapinya bersama-sama, dan belajar untuk mencegahnya menjadi lebih buruk di masa depan.