cuacaNasional

Ketika Langit Kemayoran Mengamuk: Kisah Atap GOR Serdang yang Tak Bertahan dari Terpaan Angin

Hujan dan angin ekstrem di Kemayoran bukan hanya sekadar cuaca buruk. Ia menguji ketangguhan infrastruktur kota dan meninggalkan cerita tentang 11 motor yang tertimpa reruntuhan.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
26 Januari 2026
Ketika Langit Kemayoran Mengamuk: Kisah Atap GOR Serdang yang Tak Bertahan dari Terpaan Angin

Bayangkan Anda sedang bersiap pulang kerja pada Jumat malam yang gerimis. Hujan deras baru saja reda, digantikan oleh desiran angin yang menderu-deru di luar jendela. Itulah suasana yang dirasakan warga sekitar Gelanggang Olahraga Serdang di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada tanggal 23 Januari 2026. Namun, malam itu bukan malam biasa. Desiran angin itu berubah menjadi amukan yang cukup kuat untuk merobohkan struktur atap sebuah bangunan olahraga publik. Dalam hitungan menit, area parkir yang biasanya ramai dengan kendaraan pengunjung berubah menjadi tumpukan besi, seng, dan motor yang tertindih. Ini bukan sekadar laporan cuaca buruk; ini adalah cerita tentang bagaimana elemen alam yang tak terduga bisa menguji batas ketahanan infrastruktur di jantung ibu kota.

Detik-Detik Kritis yang Terekam dan Dampaknya

Menurut rekaman CCTV yang kemudian beredar, peristiwa itu terjadi tepat pukul 21.19 WIB. Atap GOR Serdang yang luas itu, tiba-tiba bergoyang hebat sebelum akhirnya ambruk ke arah area parkir. Suara gemuruh reruntuhan memecah kesunyian malam. Yang membuat ngeri, di bawahnya terparkir puluhan kendaraan milik warga dan pengunjung. Hasilnya? Sebelas sepeda motor harus menerima nasib menjadi korban pertama dari amukan angin malam itu. Sebuah mobil ambulans yang kebetulan sedang berada di lokasi juga ikut tertimpa, meski untungnya dalam kondisi kosong. Lurah Serdang, Suci Asliyati, langsung mengkoordinasikan penanganan darurat, memastikan tidak ada korban jiwa yang berjatuhan di tengah kekacauan material yang mencapai kerugian estimatif Rp500 juta.

Respons Cepat dan Penutupan Jalan: Upaya Mengamankan Warga

Pihak berwenang bergerak cepat. Police line segera dipasang mengelilingi lokasi kejadian, mengubah sudut Jalan Serdang Baru Raya itu menjadi zona terlarang sementara. Akses jalan ditutup total, memaksa warga yang biasa melintas mencari alternatif rute lain. Langkah ini bukan tanpa alasan. Selain untuk mengamankan proses evakuasi kendaraan dan pembersihan puing, penutupan juga bertujuan mencegah risiko tambahan jika ada bagian struktur lain yang belum stabil. Petugas keamanan dan pengelola GOR pun dimintai keterangan mendalam. Pertanyaan besar yang mengemuka: apakah ini murni akibat kekuatan angin yang luar biasa, atau ada faktor lain seperti usia bangunan, material, atau prosedur perawatan yang perlu dievaluasi?

Melihat Lebih Dalam: Di Balik Kerusakan Infrastruktur Akibat Cuaca Ekstrem

Insiden di GOR Serdang ini seolah menjadi pengingat yang nyata. Jakarta, dengan topografi dan iklimnya, semakin sering dihadapkan pada fenomena cuaca ekstrem. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan peningkatan frekuensi kejadian angin kencang dan puting beliung di wilayah Jabodetabek dalam lima tahun terakhir. Angin dengan kecepatan di atas 50 km/jam, seperti yang diduga menerjang Kemayoran malam itu, bukan lagi fenomena langka. Pertanyaannya, sudah sejauh mana infrastruktur publik kita, terutama yang dibangun bertahun-tahun lalu, didesain dan dirawat untuk menghadapi 'normal baru' cuaca ini? Sebuah opini yang berkembang di kalangan praktisi konstruksi adalah perlunya audit berkala yang tidak hanya melihat kerusakan fisik, tetapi juga kesesuaian spesifikasi bangunan lama dengan data iklim terkini yang mungkin sudah berubah.

Refleksi di Tengah Reruntuhan: Ketangguhan Kota dan Kesiapsiagaan Warga

Di balik tumpukan seng yang menggunting dan motor yang ringsek, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik. Pertama, tentang ketangguhan (resilience) sebuah kota. Sebuah kota yang tangguh bukan hanya tentang gedung pencakar langit dan jalan tol, tetapi tentang bagaimana infrastruktur dasar seperti GOR, sekolah, dan puskesmas bisa bertahan dari gangguan. Kedua, ini tentang pola pikir kesiapsiagaan. Di mana kita memarkir kendaraan saat cuaca ekstrim? Apakah di bawah struktur besar yang rentan? Kejadian ini mengajak kita untuk lebih waspada secara personal. Pihak pengelola fasilitas publik juga ditantang untuk memiliki protokol cuaca ekstrem yang jelas, termasuk larangan parkir di zona rawan saat peringatan dini dikeluarkan.

Malam itu di Kemayoran, angin mungkin telah merobohkan sebuah atap. Tapi, ia juga membuka mata kita. Ia menyodorkan pertanyaan tentang bagaimana kita membangun, merawat, dan berinteraksi dengan ruang kota di tengah tantangan iklim yang kian tak pasti. Kerugian material, meski besar, bisa diganti. Namun, peluang untuk belajar dari insiden ini dan membangun sistem yang lebih tangguh jangan sampai kita lewatkan. Lain kali, bisa jadi bukan hanya atap GOR, atau sebelas motor. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik untuk mengevaluasi, bukan dengan rasa takut, tetapi dengan tekad untuk mempersiapkan yang lebih baik. Bagaimana pendapat Anda? Sudahkah lingkungan tempat tinggal atau kerja Anda memiliki mitigasi risiko untuk kejadian serupa?

Dipublikasikan: 26 Januari 2026, 06:32
Diperbarui: 26 Januari 2026, 06:32