cuacaNasional

Ketika Hujan Tak Henti di Jakarta: Kisah Adaptasi Warga Ibu Kota di Tengah Kebijakan Belajar dan Bekerja dari Rumah

Jakarta kembali diuji oleh cuaca ekstrem. Bagaimana kebijakan PJJ dan WFH yang diterapkan hingga akhir Januari 2026 membentuk ritme kehidupan baru warga Ibu Kota? Simak analisis lengkapnya.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
26 Januari 2026
Ketika Hujan Tak Henti di Jakarta: Kisah Adaptasi Warga Ibu Kota di Tengah Kebijakan Belajar dan Bekerja dari Rumah

Bayangkan ini: alarm berbunyi, tapi Anda tak perlu buru-buru mandi dan berdesakan di kereta. Anak-anak tak perlu memakai seragam, cukup membuka laptop di meja makan. Suara hujan deras yang mengguyur atap menjadi soundtrack pagi yang berbeda bagi jutaan warga Jakarta sejak beberapa hari terakhir. Ini bukan sekadar hari libur atau akhir pekan—ini adalah realitas baru yang dipaksakan oleh langit yang terus-menerus mengirimkan curah hujannya dengan intensitas yang mengkhawatirkan. Ibu Kota kita sedang beradaptasi, sekali lagi, dengan pola cuaca yang semakin tak terduga.

Keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengimbau pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan bekerja dari rumah (WFH) hingga 28 Januari 2026 bukanlah sekadar pengumuman administratif belaka. Ini adalah cerita tentang ketahanan kota, tentang bagaimana sebuah metropolis dengan 10 juta lebih penduduk mencoba menjaga denyut nadinya tetap berdetak di tengah ancaman banjir dan gangguan mobilitas. Kebijakan ini, yang bersifat situasional dan hanya berlaku saat curah hujan tinggi atau banjir terjadi, sebenarnya membuka jendela untuk melihat bagaimana Jakarta belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Mekanisme Baru di Tengah Ketidakpastian Cuaca

Yang menarik dari kebijakan kali ini adalah sifatnya yang tidak kaku. Berbeda dengan penerapan serupa di masa pandemi yang bersifat menyeluruh dan jangka panjang, imbauan sekarang ini lebih seperti "saklar" yang bisa dihidupkan dan dimatikan sesuai kondisi lapangan. Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta secara eksplisit menyatakan bahwa PJJ dan WFH hanya diterapkan ketika kondisi cuaca memburuk. Begitu langit cerah kembali, aktivitas bisa normal seperti biasa. Pendekatan ini menunjukkan pembelajaran dari masa lalu—bahwa fleksibilitas adalah kunci dalam menghadapi krisis yang sifatnya fluktuatif.

Bagi sektor swasta, imbauan ini datang dengan nuansa yang lebih halus namun tak kalah penting. Perusahaan didorong untuk menerapkan sistem kerja fleksibel dan mengatur ulang jam kerja agar karyawan tidak perlu memaksakan diri melakukan perjalanan di saat kondisi cuaca paling buruk. Ini bukan sekadar soal produktivitas, melainkan keselamatan jiwa. Di beberapa titik Jakarta, ketinggian air sudah mencapai level yang membahayakan bagi kendaraan roda dua maupun mobil penumpang biasa.

Pelajaran dari Rumah: Tantangan dan Peluang PJJ 2026

Sektor pendidikan menghadapi tantangan yang unik. Sekolah-sekolah di seluruh Jakarta telah mempersiapkan sistem pembelajaran daring, namun kali ini dengan bekal pengalaman yang lebih matang. Kepala sekolah bekerja sama dengan orang tua tidak hanya memantau tugas, tetapi juga memastikan keseimbangan antara beban akademik dan tekanan psikologis anak-anak yang terkungkung di rumah. Ada cerita menarik dari seorang guru di Jakarta Selatan yang membagikan pengalamannya: "Kami sekarang punya 'jam virtual kopi' di mana siswa bisa bercerita tentang apa saja, bukan hanya pelajaran. Ini membantu mereka merasa tetap terhubung secara manusiawi."

Data dari survei internal beberapa sekolah menunjukkan pola yang menarik. Sekitar 68% orang tua melaporkan bahwa mereka merasa lebih siap menghadapi PJJ kali ini dibandingkan dengan masa-masa awal pandemi. Infrastruktur digital yang lebih baik, pemahaman platform belajar yang lebih matang, dan kesadaran akan pentingnya mengatur ruang belajar di rumah menjadi faktor pendukung. Namun, tetap ada sekitar 22% keluarga yang masih kesulitan, terutama mereka yang akses internetnya terbatas atau harus berbagi gawai antara beberapa anak.

WFH: Antara Efisiensi dan Kejenuhan

Di sisi dunia kerja, pola WFH situasional ini menciptakan dinamika yang unik. Sebuah riset kecil yang dilakukan oleh komunitas pekerja Jakarta menunjukkan bahwa 54% responden merasa lebih produktif ketika bekerja dari rumah selama cuaca buruk, karena menghilangkan waktu dan stres perjalanan yang bisa mencapai 2-3 jam sehari. Namun, ada juga 31% yang mengaku kesulitan memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi ketika keduanya terjadi di ruang yang sama.

Yang patut dicatat adalah bagaimana beberapa perusahaan kreatif di Jakarta justru memanfaatkan situasi ini untuk menguji model kerja hybrid yang lebih permanen. "Kami melihat ini sebagai uji coba alamiah," ujar seorang founder startup di bidang teknologi. "Jika karyawan bisa tetap produktif selama seminggu WFH karena hujan, mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk memberikan opsi ini secara lebih reguler, bahkan ketika cuaca normal."

Perspektif yang Sering Terlupakan: Para Pekerja yang Tak Bisa WFH

Dalam narasi tentang WFH dan PJJ, seringkali kita melupakan kelompok pekerja yang tidak memiliki privilege untuk bekerja dari rumah. Tukang ojek online, kurir, petugas kebersihan, tenaga medis, dan pekerja sektor esensial lainnya tetap harus melangkah keluar, menghadapi hujan dan genangan air. Kebijakan fleksibilitas jam kerja yang diimbau pemerintah seharusnya juga mempertimbangkan perlindungan bagi kelompok ini. Beberapa perusahaan jasa pengiriman sudah mulai menerapkan sistem bonus risiko dan menyediakan perlengkapan keselamatan tambahan bagi kurir yang harus bekerja di kondisi ekstrem.

Di sisi lain, muncul inisiatif-inisiatif komunitas yang patut diapresiasi. Beberapa kelompok warga membuat posko darurat yang menyediakan tempat mengeringkan diri dan minuman hangat bagi pekerja yang terpaksa berada di luar rumah. Seorang pengemudi ojek online berbagi: "Susah juga, tapi kalau tidak kerja ya tidak makan. Senang ada warung yang mau kasih tempat berteduh dan kopi gratis."

Refleksi Akhir: Apakah Kita Belajar dari Setiap Krisis?

Ketika membaca berita tentang kebijakan PJJ dan WFH ini, saya tak bisa tidak merenungkan satu pertanyaan mendasar: Apakah kita, sebagai kota, benar-benar belajar dari setiap krisis yang menghampiri? Banjir dan cuaca ekstrem bukanlah tamu baru di Jakarta. Mereka datang hampir setiap tahun, dengan intensitas yang mungkin berbeda. Kebijakan reaktif seperti WFH dan PJJ memang diperlukan untuk keselamatan jangka pendek, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun ketahanan jangka panjang.

Mungkin inilah saatnya kita memandang kebijakan-kebijakan adaptif ini bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai alarm yang mengingatkan kita tentang urgensi perbaikan sistemik. Infrastruktur drainase, normalisasi sungai, pengendalian pembangunan, dan pendidikan lingkungan seharusnya mendapat perhatian yang sama besarnya—bahkan lebih—dari kebijakan darurat seperti WFH dan PJJ. Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan hanya kemampuan untuk bertahan saat hujan datang, tetapi kemampuan untuk memastikan bahwa hujan tidak lagi menjadi bencana yang menghentikan kota.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: Ketika nanti hujan reda dan aktivitas kembali normal, akankah kita kembali pada pola lama, ataukah pengalaman bersama ini akan menginspirasi perubahan yang lebih mendasar? Setiap tetes hujan yang mengguyur Jakarta seharusnya bukan hanya mengingatkan kita untuk membuka payung, tetapi juga untuk membuka pikiran tentang kota yang lebih tangguh dan manusiawi. Bagaimana pendapat Anda tentang adaptasi Jakarta menghadapi cuaca ekstrem ini?

Dipublikasikan: 26 Januari 2026, 06:28
Diperbarui: 26 Januari 2026, 06:28