Teknologi

Ketika Data Pribadi Kita Menjadi Komoditas: Refleksi di Era Digital yang Semakin Rentan

Di balik kemudahan teknologi, data pribadi kita menghadapi ancaman nyata. Bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam membangun benteng pertahanan digital?

Penulis:khoirunnisakia
15 Januari 2026
Ketika Data Pribadi Kita Menjadi Komoditas: Refleksi di Era Digital yang Semakin Rentan

Bayangkan ini: setiap kali Anda menggeser layar ponsel, mengklik tautan, atau sekadar membuka aplikasi media sosial, Anda sedang meninggalkan jejak digital. Jejak-jejak kecil ini, seperti remah roti di hutan, perlahan-lahan membentuk peta yang sangat detail tentang siapa Anda, apa yang Anda suka, bahkan apa yang mungkin Anda beli besok. Dalam beberapa tahun terakhir, kita bukan lagi sekadar pengguna teknologi; kita telah menjadi sumber data yang terus-menerus dieksploitasi. Cerita ini bukan fiksi ilmiah, melainkan realitas sehari-hari di dunia yang semakin terhubung.

Pernahkah Anda merasa iklan yang muncul di media sosial terlalu 'mengenal' Anda? Atau menerima telepon dari nomor tak dikenal yang menawarkan produk yang baru saja Anda cari di internet? Itu bukan kebetulan. Itu adalah bukti nyata bahwa data pribadi kita telah menjadi mata uang baru di era digital—komoditas yang diperjualbelikan, dianalisis, dan kadang-kadang, disalahgunakan. Di tengah arus besar transformasi digital ini, muncul pertanyaan mendesak: siapa yang sebenarnya bertanggung jawab menjaga harta karun informasi kita?

Landskap Ancaman Digital: Lebih Dari Sekadar Kebocoran Data

Ketika membicarakan keamanan data, banyak orang langsung membayangkan peretasan spektakuler seperti yang sering kita lihat di film. Namun, ancaman sebenarnya seringkali lebih halus dan tersebar. Menurut laporan Digital Trust Survey 2023 oleh sebuah lembaga riset global, sekitar 68% pelanggaran data di Asia Tenggara justru berasal dari kesalahan manusia internal dan praktik keamanan yang lemah, bukan dari serangan eksternal yang canggih. Artinya, celah terbesar seringkali ada pada bagaimana kita, sebagai pengguna, memperlakukan data kita sendiri.

Fenomena data brokerage atau perdagangan data juga semakin marak. Data demografis, preferensi belanja, riwayat kesehatan digital, bahkan pola perjalanan kita dikumpulkan, dikemas, dan dijual ke pihak ketiga—seringkali tanpa persetujuan eksplisit kita. Ini menciptakan ekosistem di mana privasi menjadi barang mewah, sementara eksposur menjadi harga yang harus dibayar untuk kemudahan.

Respons Pemerintah: Dari Regulasi Reaktif Menuju Arsitektur Keamanan Proaktif

Di sisi lain, pemerintah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, mulai menyadari bahwa pendekatan keamanan digital tidak bisa lagi bersifat tambal sulam. Selama ini, banyak kebijakan muncul sebagai respons setelah terjadi insiden—seperti menutup lubang setelah kebocoran terjadi. Namun, tren terbaru menunjukkan pergeseran menuju pembangunan arsitektur keamanan yang lebih integral dan proaktif.

Di Indonesia, upaya ini tidak hanya terfokus pada pembuatan undang-undang seperti UU PDP (Perlindungan Data Pribadi), tetapi juga pada penguatan infrastruktur kritis. Pembentukan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), misalnya, menunjukkan komitmen untuk memiliki lembaga khusus yang menangani ancaman digital secara holistik. Yang menarik, pendekatannya mulai bergeser dari sekadar 'melindungi' menjadi 'memberdayakan'—dengan edukasi publik yang masif tentang literasi digital.

Namun, ada opini yang berkembang di kalangan pengamat teknologi: regulasi saja tidak cukup. Sebuah penelitian dari Institut Teknologi Bandung (2023) menyebutkan bahwa efektivitas regulasi keamanan data sangat bergantung pada dua faktor: teknologi penegakan dan kesadaran kolektif masyarakat. Regulasi tanpa sistem pemantauan yang canggih ibarat hukum lalu lintas tanpa kamera tilang. Demikian pula, kesadaran masyarakat yang rendah akan membuat perlindungan terbaik sekalipun menjadi sia-sia.

Masyarakat Digital: Dari Korban Pasif Menjadi Garda Depan

Inilah paradoks era digital: kita menikmati kemudahan yang diberikan teknologi, tetapi seringkali abai terhadap tanggung jawab yang menyertainya. Banyak dari kita masih menggunakan kata sandi yang mudah ditebak, mengklik tautan mencurigakan, atau memberikan data pribadi secara gegabah pada formulir online. Padahal, dalam ekosistem keamanan digital, setiap individu sebenarnya adalah penjaga pertama data miliknya sendiri.

Beberapa praktik sederhana namun krusial sering terabaikan. Misalnya, hanya 23% pengguna internet Indonesia yang secara rutin memeriksa izin aplikasi pada ponsel mereka, berdasarkan survei Digital Habit 2023. Padahal, banyak aplikasi meminta akses yang tidak proporsional, seperti aplikasi kalkulator yang meminta akses ke kontak atau galeri foto. Kebiasaan kecil seperti membaca syarat dan ketentuan (meski membosankan) dan mengaktifkan autentikasi dua faktor bisa menjadi pembeda antara data yang aman dan data yang rentan.

Membangun Kultur Keamanan Digital: Sebuah Usaha Kolektif

Pada akhirnya, keamanan data digital bukanlah masalah teknis semata, melainkan masalah budaya. Kita perlu membangun kultur di mana menjaga data pribadi dianggap sebagai norma sosial, bukan beban. Ini mirip dengan bagaimana kita membudayakan cuci tangan atau menggunakan masker saat sakit—dimulai dari kesadaran, didukung oleh pengetahuan, dan diperkuat oleh kebiasaan.

Pemerintah bisa berperan sebagai fasilitator dengan membuat sistem yang ramah pengguna namun aman, sementara sektor swasta perlu mengadopsi prinsip privacy by design—mempertimbangkan keamanan data sejak awal pengembangan produk. Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memasukkan literasi digital ke dalam kurikulum, bukan sebagai pelajaran tambahan, tetapi sebagai keterampilan dasar abad ke-21.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: setiap kali kita dengan mudah menyerahkan data pribadi untuk mendapatkan diskon atau kemudahan, kita sedang melakukan pertukaran nilai. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar menyadari nilai data yang kita berikan? Dan apakah kita percaya bahwa pihak yang menerimanya akan menghargainya setara? Di era di mana data adalah kekuatan baru, menjadi bijak dalam mengelolanya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Mari mulai dari hal kecil: periksa pengaturan privasi di ponsel Anda hari ini, gunakan kata sandi yang unik, dan berpikirlah dua kali sebelum membagikan informasi. Karena dalam dunia digital, kewaspadaan adalah mata uang yang paling berharga.

Dipublikasikan: 15 Januari 2026, 03:47
Diperbarui: 21 Februari 2026, 08:31