musibah

Ketika Bumi Semakin Murka: Bagaimana Kita Harus Menyiapkan Diri Menghadapi Era Bencana Baru?

Perubahan iklim mengubah wajah bencana. Artikel ini mengajak kita melihat strategi baru yang lebih manusiawi dan cerdas untuk menghadapi era ketidakpastian ini.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
4 Februari 2026
Ketika Bumi Semakin Murka: Bagaimana Kita Harus Menyiapkan Diri Menghadapi Era Bencana Baru?

Bayangkan ini: sebuah desa kecil di pesisir yang tenang tiba-tiba diterjang gelombang setinggi tiga meter, padahal tidak ada peringatan tsunami. Atau, kota metropolitan yang biasanya hanya mengalami hujan sedang, kini dilanda banjir bandang yang menyapu kendaraan seperti mainan. Ini bukan adegan dari film apokaliptik, melainkan potret nyata yang semakin sering kita saksikan. Bencana alam, teman-teman, sedang berubah wajah. Dan perubahan itu terjadi lebih cepat dari yang kita kira.

Dulu, kita mengenal pola musim dan bencana yang relatif bisa diprediksi. Tapi sekarang? Batas-batas itu kabur. Perubahan iklim bukan lagi teori di buku teks, melainkan realitas yang mengubah peta risiko di depan mata kita. Yang membuat saya merenung adalah ini: sistem penanganan bencana kita masih banyak yang dirancang untuk menghadapi 'musuh lama', sementara 'musuh baru' sudah mengetuk pintu dengan intensitas dan karakter yang berbeda sama sekali.

Dari Reaktif ke Proaktif: Pergeseran Paradigma yang Tak Terhindarkan

Selama puluhan tahun, pendekatan kita terhadap bencana cenderung reaktif. Bencana terjadi, kita bergerak. Korban berjatuhan, kita mengevakuasi. Rumah hancur, kita membangun kembali. Siklus ini terus berulang seperti ritual tahunan. Tapi di tengah perubahan global yang semakin tak terduga, pendekatan seperti ini ibarat membawa gayung kecil untuk memadamkan kebakaran hutan.

Data dari UN Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan: antara tahun 2000 hingga 2019, terjadi peningkatan 74% bencana terkait iklim dibandingkan dua dekade sebelumnya. Yang lebih mencengangkan, 91% dari semua bencana besar di periode tersebut terkait cuaca ekstrem. Angka-angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah alarm yang berdering keras, memanggil kita untuk berubah.

Tiga Pilar Utama yang Harus Diperkuat

Menurut pengamatan saya setelah mempelajari berbagai kasus di berbagai belahan dunia, ada tiga fondasi utama yang perlu kita bangun dengan lebih kokoh:

1. Kecerdasan Komunitas yang Terhubung Digital

Cerita menarik datang dari sebuah desa di Jepang. Di sana, setiap warga—dari anak sekolah hingga lansia—tahu persis jalur evakuasi, titik kumpul, dan bahkan memiliki 'tas siaga bencana' pribadi. Tapi yang membuatnya istimewa adalah bagaimana mereka mengintegrasikan teknologi sederhana: grup chat WhatsApp untuk koordinasi real-time, peta digital yang bisa diakses semua warga, dan sistem peringatan berbasis sensor murah yang mereka kembangkan sendiri. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak harus mahal atau canggih—yang penting tepat guna dan mudah diakses.

Di Indonesia, kita punya modal sosial yang luar biasa: gotong royong. Bayangkan jika semangat ini dipadukan dengan platform digital yang memungkinkan sharing informasi tentang titik rawan, ketersediaan logistik, atau kebutuhan medis secara real-time. Komunitas yang terhubung adalah komunitas yang tangguh.

2. Pendidikan Bencana yang Menjadi Bagian DNA Budaya

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana anak-anak di Jepang tidak panik saat terjadi gempa? Itu hasil dari pendidikan bencana yang dimasukkan ke dalam kurikulum sejak dini, bahkan melalui permainan dan simulasi yang menyenangkan. Mereka tidak diajari untuk takut, tetapi untuk siap.

Pendapat pribadi saya: pendidikan bencana seharusnya tidak hanya diajarkan di sekolah, tetapi menjadi bagian dari percakapan keluarga. Bagaimana kita membicarakan cuaca ekstrem dengan anak-anak? Bagaimana kita menyiapkan rencana darurat keluarga? Ini harus menjadi budaya, bukan sekadar program pemerintah. Saya pernah membaca penelitian menarik dari University of Colorado yang menunjukkan bahwa keluarga yang memiliki 'hari persiapan bencana' tahunan—di mana mereka mengecek tas siaga, mempraktikkan evakuasi, dan berdiskusi—memiliki tingkat ketahanan psikologis yang lebih tinggi saat bencana benar-benar terjadi.

3. Kolaborasi yang Melampaui Batas Administratif

Bencana tidak mengenal batas provinsi, apalagi negara. Banjir di hulu akan mempengaruhi daerah hilir. Asap kebakaran hutan bisa melintasi lautan. Tapi sayangnya, respons kita sering masih terkotak-kotak dalam sekat birokrasi.

Contoh yang inspiratif datang dari Uni Eropa dengan mekanisme Civil Protectionnya. Ketika suatu negara anggota mengalami bencana besar, negara lain langsung mengerahkan bantuan—mulai dari tim penyelamat, tenda darurat, hingga pemurni air—tanpa birokrasi rumit. Sistem ini bekerja karena ada protokol standar yang disepakati bersama dan latihan gabungan rutin. Di tingkat regional ASEAN, kita sudah memiliki ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER), tapi menurut saya, implementasinya masih bisa lebih diperkuat, terutama dalam hal respons cepat dan sharing sumber daya.

Teknologi sebagai Mitra, Bukan Pengganti Manusia

Di sini saya ingin menyampaikan opini yang mungkin kontroversial: jangan terjebak pada fetisisme teknologi. Drone, AI, big data—semua itu alat yang hebat, tetapi tidak akan berarti tanpa manusia yang mengoperasikannya dengan bijak dan komunitas yang memahami bagaimana memanfaatkannya.

Saya teringat pada kasus banjir di sebuah kota di India tahun lalu. Pemerintah setempat telah memasang sistem peringatan dini canggih bernilai miliaran rupiah. Tapi ketika sistem itu berbunyi, banyak warga yang mengabaikannya karena tidak paham apa arti bunyi tersebut, atau karena tidak pernah dilatih bagaimana meresponsnya. Teknologi yang mahal menjadi sia-sia karena tidak disertai dengan pendidikan yang memadai.

Justru, teknologi yang paling efektif seringkali adalah yang paling sederhana. Di Filipina, komunitas pesisir menggunakan sistem 'tali dan kaleng' tradisional yang dimodifikasi dengan sensor murah untuk mendeteksi kenaikan permukaan air secara dini. Murah, mudah diperbaiki oleh warga sendiri, dan yang terpenting—dipahami oleh semua orang.

Menyiapkan Mental untuk Ketidakpastian

Aspek yang sering terlupakan dalam diskusi penanganan bencana adalah persiapan mental. Kita bisa membangun infrastruktur terkuat, tetapi jika mentalitas kita masih berpikir "ah, tidak akan terjadi di sini" atau "itu urusan pemerintah", maka semua persiapan fisik menjadi kurang berarti.

Psikolog bencana dari University of Melbourne, Dr. Rob Gordon, dalam sebuah wawancara yang saya baca, menyebutkan bahwa ketahanan mental masyarakat terhadap bencana dibangun melalui tiga hal: pengetahuan (tahu apa yang harus dilakukan), kepercayaan (percaya pada sistem dan sesama), dan rasa memiliki (merasa bagian dari solusi). Ketiga elemen ini harus dibangun secara simultan dan berkelanjutan.

Di sini, peran media dan influencer lokal menjadi krusial. Daripada hanya memberitakan bencana ketika sudah terjadi, media bisa lebih proaktif menyebarkan informasi pencegahan, kisah sukses komunitas yang tangguh, atau tutorial sederhana tentang persiapan bencana dalam format yang mudah dicerna.

Penutup: Bukan Tentar Menunggu Badai, Tapi Membangun Kapal yang Tangguh

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang tetua adat dari masyarakat yang hidup di daerah rawan gempa. Katanya, nenek moyang mereka punya pepatah: "Kita tidak bisa menghentikan angin, tapi kita bisa belajar mengatur layar." Kalimat sederhana itu menyimpan kebijaban yang dalam untuk konteks kita hari ini.

Perubahan global memang sedang mengubah angin, membuatnya lebih kencang dan tak terduga. Tapi kita bukan tanpa daya. Dengan memperkuat kecerdasan kolektif komunitas, menjadikan kewaspadaan sebagai budaya, dan membangun kolaborasi yang tulus melampaui batas-batas artifisial, kita bisa mengatur layar peradaban kita untuk menghadapi tantangan ini.

Masa depan penanganan musibah bukan lagi tentang siapa yang paling siap secara teknis, tetapi tentang siapa yang paling adaptif, paling kolaboratif, dan paling manusiawi dalam responsnya. Karena pada akhirnya, yang kita selamatkan bukan hanya nyawa dan harta benda, tetapi juga martabat dan harapan sebagai manusia yang bisa belajar, berubah, dan tumbuh bersama tantangan.

Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Hari ini, apa satu langkah kecil yang bisa Anda ambil—di tingkat keluarga, komunitas, atau profesional—untuk ikut membangun ketangguhan ini? Karena seperti kata pepatah lain yang saya sukai: "Bencana besar dimulai dengan kegagalan kecil dalam persiapan." Mari kita pastikan kita tidak termasuk dalam kategori itu.

Dipublikasikan: 4 Februari 2026, 04:33
Diperbarui: 21 Februari 2026, 08:31