Kuliner

Ketika Aroma Sate dan Nasi Liwet Menjadi Soundtrack Pergantian Tahun: Mengapa Kuliner Tradisional Kembali Jadi Primadona

Jelang 2026, kuliner tradisional justru booming. Ini bukan sekadar tren, tapi cerita tentang identitas, kenyamanan, dan ekonomi kreatif yang bertahan.

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
Ketika Aroma Sate dan Nasi Liwet Menjadi Soundtrack Pergantian Tahun: Mengapa Kuliner Tradisional Kembali Jadi Primadona

Lebih Dari Sekadar Makanan: Nostalgia yang Dihidangkan di Atas Piring

Pernahkah Anda memperhatikan, di tengah derasnya arus kuliner kekinian dengan plating instagramable dan nama-nama yang sulit diucapkan, justru aroma sate yang dibakar atau kuah bakso yang mengepul yang paling membuat hati tenang? Menjelang akhir 2025, sebuah fenomena menarik terjadi. Bukan restoran fine dining atau kafe aesthetic yang antreannya mengular, melainkan lapak-lapak dan warung yang setia menghidangkan cita rasa Nusantara. Di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya, lonjakan penjualan kuliner tradisional jelang pergantian tahun ke 2026 bukanlah angka statistik biasa. Ini adalah sebuah cerita tentang pencarian kita akan "rumah", tentang kenyamanan yang ditemukan dalam setiap suapan, dalam momen transisi menuju sesuatu yang baru.

Bayangkan suasana: lampu-lampu kota berkelap-kelip, resolusi tahun baru mulai disusun, namun di tengah keramaian itu, pilihan menu untuk berkumpul keluarga justru mengerucut pada sesuatu yang klasik. Nasi liwet komplet, sate dengan bumbu kacang yang legit, bakso kuah bening hangat, atau aneka jajanan pasar seperti klepon dan putu. Seolah ada kesepakatan kolektif yang tak terucap: untuk menyambut masa depan, kita perlu berakar lebih dalam pada masa lalu—setidaknya, lewat lidah.

Dari Warung Kaki Lima ke Meja Makan: Demam Rasa Lokal yang Terjadi di Mana-mana

Jika Anda jalan-jalan ke pusat kuliner atau bahkan sekadar melihat feed media sosial, buktinya nyata. Pedagang sate Madura melaporkan omsetnya bisa naik hingga 70-80% di minggu-minggu terakhir tahun. Penjual nasi liwet di daerah seperti Solo dan Bandung harus memasak berkaleng-kaleng beras sejak pagi. Yang menarik, peningkatan ini tidak hanya terjadi di segmen harga murah. Banyak usaha rumahan (home industry) yang mengemas makanan tradisional dengan lebih modern, seperti nasi liwet dalam kemasan praktis untuk acara atau sate yang sudah dimarinate dan siap panggan, juga kebanjiran order.

Lalu, apa sebenarnya yang mendorong fenomena ini? Pertama, soal harga yang bersahabat. Di tengah ketidakpastian ekonomi, kuliner tradisional menawarkan nilai yang jelas: kenyang, enak, dan harganya terjangkau untuk porsi kelompok. Kedua, adalah faktor rasa yang sudah teruji oleh waktu dan generasi. Cita rasa lokal seperti gurihnya santan, pedasnya sambal, atau manisnya gula jawa, adalah "bahasa" rasa yang sudah dipahami semua orang dalam keluarga, dari kakek-nenek sampai cucu. Tidak perlu penjelasan rumit, hanya perlu menikmati.

Opini: Ini Bukan Hanya Tentang Makan, Tapi Tentang Membangun Narasi Bersama

Di sini, izinkan saya menyampaikan sebuah opini. Lonjakan ini, menurut saya, adalah bentuk soft resistance atau perlawanan halus terhadap homogenisasi budaya global. Ketika dunia terasa semakin cepat dan seragam, memilih rendang ketimbang steak untuk makan malam tahun baru adalah sebuah pernyataan. Itu adalah cara kita mengatakan, "Ini identitas kami. Ini yang membuat kami merasa menjadi bagian dari sesuatu." Makanan tradisional dalam momen spesial menjadi jangkar emosional. Ia mengingatkan kita pada perayaan serupa di masa kecil, pada keluarga, pada rasa aman.

Data dari Asosiasi Kuliner Nusantara (2025) menunjukkan pola yang konsisten: permintaan bahan baku lokal seperti rempah-rempah (lengkuas, kunyit, serai), daging lokal, dan beras kualitas khusus untuk hidangan tradisional meningkat signifikan setiap kuartal IV. Ini bukan lagi sekadar musiman, tapi sudah menjadi siklus budaya yang dapat diprediksi dan memiliki dampak ekonomi riil bagi rantai pasok lokal.

Peran Penting yang Sering Terlupa: Dukungan Nyata Bagi Para Pelaku UMKM

Di balik kesuksesan ini, ada perjuangan para pelaku UMKM kuliner yang patut diapresiasi. Pemerintah daerah, seperti yang disebutkan, memang mendorong peningkatan kualitas dan kebersihan. Namun, menurut pengamatan di lapangan, inisiatif terbaik justru sering datang dari komunitas. Banyak kelompok pedagang yang secara mandiri membuat standar operasional bersama, berbagi tips pengemasan yang baik untuk pesanan besar, bahkan membuat sistem pre-order online agar produksi tidak mubazir.

Dukungan kita sebagai konsumen juga crucial. Memilih membeli sate dari abang-abang langganan ketimbang makanan beku impor, atau memesan nasi tumpeng untuk acara kantor dari usaha rumahan, adalah keputusan kecil yang dampaknya besar. Uang kita berputar di ekosistem lokal, membuka lapangan kerja, dan yang terpenting, menjaga sebuah warisan agar tetap hidup dan relevan.

Menutup Tahun dengan Rasa: Sebuah Refleksi untuk Dibawa ke 2026

Jadi, ketika Anda duduk bersama keluarga nanti, menikmati hidangan tradisional jelang detik-detik pergantian tahun, coba sempatkan untuk merenung sejenak. Di balik kelezatan sate atau hangatnya kuah bakso, ada cerita yang lebih panjang. Ada tentang petani rempah, tentang pedagang di pasar, tentang ibu-ibu yang dengan sabar mengulek bumbu, dan tentang warisan rasa yang diturunkan dari generasi ke generasi. Setiap suapan adalah sebuah afirmasi: bahwa di dunia yang terus berubah, ada hal-hal yang patut kita pertahankan.

Fenomena lonjakan penjualan ini memberi kita pesan yang jelas: nostalgia itu produktif, tradisi itu punya nilai ekonomi, dan identitas itu ternyata enak rasanya. Mari kita sambut tahun 2026 bukan hanya dengan harapan baru di atas kertas, tapi juga dengan komitmen untuk terus mencintai dan mendukung kekayaan lokal kita, dimulai dari hal yang paling mendasar: piring makan kita. Siapa tahu, resolusi terbaik tahun depan adalah berjanji untuk lebih sering menjelajahi dan menikmati kekayaan kuliner Nusantara, tidak hanya saat tahun baru, tetapi di setiap kesempatan yang kita miliki. Bagaimana menurut Anda, hidangan tradisional apa yang paling membuat Anda merasa seperti "pulang"?

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 16:53
Diperbarui: 7 Januari 2026, 16:53