InternasionalPolitik

Greenland Bukan Untuk Dijual: Ketika Ambisi Trump Membuka Luka Lama dan Perang Dingin Baru di Kutub Utara

Wacana Trump kuasai Greenland bukan sekadar lelucon. Ini adalah cerita tentang es yang mencair, ambisi geopolitik, dan perlawanan sebuah bangsa yang ingin menentukan nasibnya sendiri.

Penulis:adit
13 Januari 2026
Greenland Bukan Untuk Dijual: Ketika Ambisi Trump Membuka Luka Lama dan Perang Dingin Baru di Kutub Utara

Bayangkan sebuah pulau raksasa, hampir seukuran Meksiko, yang permukaannya sebagian besar tertutup es tebal berusia ribuan tahun. Di sana, matahari tengah malam bersinar di musim panas, dan aurora borealis menari di langit musim dingin. Ini adalah Greenland, rumah bagi sekitar 56.000 jiwa. Sekarang, bayangkan seseorang datang dan berkata, "Saya ingin membelinya." Bukan untuk sebagian kecil tanahnya, tapi untuk seluruh pulau beserta warisan budaya dan sejarahnya. Itulah tepatnya yang terjadi ketika Donald Trump, untuk kesekian kalinya, melemparkan wacana agar Amerika Serikat 'memiliki' Greenland. Bagi banyak orang, ini terdengar seperti plot film yang tidak masuk akal. Tapi di balik pernyataan yang sering dianggap gegabah itu, tersembunyi cerita yang jauh lebih kompleks tentang perubahan iklim, perebutan kekuasaan global abad ke-21, dan suara sebuah bangsa yang berjuang untuk didengar.

Bukan Sekedar Gagasan Spontan: Akar Sejarah yang Dalam

Wacana Amerika Serikat mengincar Greenland sebenarnya bukan hal baru. Ambisi ini berakar jauh ke tahun 1867, ketika Menteri Luar Negeri AS William H. Seward—yang sama yang membeli Alaska dari Rusia—sudah melirik pulau itu. Pada tahun 1946, Presiden Harry Truman bahkan secara resmi menawarkan $100 juta dalam emas kepada Denmark untuk Greenland. Tawaran itu ditolak. Jadi, ketika Trump mengulanginya, dia sebenarnya sedang menghidupkan kembali mimpi lama yang tertidur di arsip-arsip Departemen Luar Negeri AS. Bedanya, konteksnya sekarang telah berubah secara dramatis. Dulu, nilai strategis Greenland terletak pada posisinya sebagai pangkalan udara melintasi Atlantik. Hari ini, nilainya jauh lebih besar: ia adalah kunci menuju Arktik yang sedang 'mencair'—baik secara harfiah maupun metaforis.

Es yang Mencair, Ambisi yang Membeku: Nilai Strategis Arktik

Apa yang membuat sepotong tanah beku di ujung dunia begitu berharga? Jawabannya ada pada perubahan iklim. Menurut data dari NASA dan National Snow and Ice Data Center, es laut Arktik menyusut dengan laju sekitar 13% per dekade. Pencairan ini membuka dua hal yang sangat diinginkan oleh kekuatan global: jalur pelayaran baru dan akses ke sumber daya alam yang belum tersentuh.

Jalur Utara Laut (Northern Sea Route) di sepanjang pantai Rusia dan Jalur Barat Laut (Northwest Passage) di dekat Kanada kini lebih mudah dilayari. Rute-rute ini bisa memangkas waktu pengiriman dari Asia ke Eropa hingga berminggu-minggu, menghemat miliaran dolar dalam biaya logistik. Selain itu, Survei Geologi AS memperkirakan bahwa sekitar 30% gas alam dan 13% minyak bumi dunia yang belum ditemukan mungkin tersembunyi di bawah Arktik. Greenland sendiri diduga memiliki cadangan mineral langka yang sangat besar, seperti neodymium dan dysprosium, yang penting untuk teknologi hijau seperti turbin angin dan mobil listrik. Dalam satu ironi pahit perubahan iklim, bencana lingkungan justru membuka pintu bagi eksploitasi ekonomi masif.

Papan Catur Geopolitik: Rusia, China, dan Perlombaan Senyap

Di sinilah wacana Trump menjadi lebih dari sekadar omongan. Ini adalah respons terhadap gerakan-gerakan yang sudah dilakukan oleh pesaing AS. Rusia telah secara agresif membangun kembali pangkalan militernya di Arktik, meluncurkan kapal pemecah es bertenaga nuklir baru, dan mengklaim kedaulatan atas landas kontinen yang luas. China, meski bukan negara Arktik, mendeklarasikan dirinya sebagai "negara dekat kutub" dan telah menginvestasikan miliaran dolar dalam proyek-proyek infrastruktur di Greenland, termasuk bandara dan potensi tambang. Bagi Pentagon dan para pembuat kebijakan AS yang khawatir, kehilangan pengaruh di Greenland berarti memberikan Rusia dan China pijakan yang strategis tepat di depan pintu Amerika Utara. Dalam perspektif mereka, ini soal keamanan nasional, bukan real estate.

Suara Greenland: "Kami Bukan Barang yang Bisa Diperjualbelikan"

Namun, narasi yang sering terlupakan dalam analisis geopolitik yang dingin ini adalah suara orang Greenland sendiri. Reaksi pemerintah Greenland terhadap komentar Trump tegas dan penuh harga diri: "Greenland tidak dijual. Greenland bukan milik Denmark. Greenland milik orang Greenland." Pernyataan ini mencerminkan perjalanan panjang mereka menuju pemerintahan sendiri. Pada tahun 1979, Greenland mendapatkan pemerintahan dalam negeri (home rule) dari Denmark. Pada tahun 2009, ini ditingkatkan menjadi pemerintahan sendiri (self-rule), yang memberi mereka kendali lebih besar atas sumber daya alam dan keadilan. Langkah selanjutnya yang banyak didiskusikan adalah kemerdekaan penuh.

Banyak orang Greenland melihat eksploitasi sumber daya mineral sebagai tiket menuju kemandirian ekonomi dari subsidi tahunan Denmark. Namun, ada juga ketegangan internal antara keinginan untuk pembangunan ekonomi dan kekhawatiran akan kerusakan lingkungan serta erosi budaya Inuit mereka. Menjual atau menyerahkan kedaulatan kepada AS bukan hanya melanggar hukum internasional; itu adalah pengkhianatan terhadap perjuangan puluhan tahun untuk menentukan nasib sendiri. Seorang politisi Greenland pernah dengan sinis bertanya, "Apakah Trump juga ingin membeli sejarah dan identitas kami?"

Opini: Wacana yang Berbahaya dan Pelajaran yang Terlewat

Di sini, saya ingin menyampaikan sebuah opini: wacana Trump tentang Greenland, meski mungkin tidak akan pernah terwujud, berbahaya karena ia menormalkan logika kolonial abad ke-19 di abad ke-21. Ia mengabaikan prinsip dasar hubungan internasional modern: kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri. Gagasan bahwa wilayah dan orang-orang dapat dibeli seperti properti adalah penghinaan terhadap martabat bangsa.

Lebih dari itu, fokus pada perebutan teritorial justru mengalihkan perhatian dari masalah mendesak yang seharusnya mempersatukan semua pihak di Arktik: perubahan iklim. Alih-alih berkompetisi untuk mengeksploitasi sumber daya yang pencairannya justru dipercepat oleh ulah manusia, kekuatan dunia seharusnya berkolaborasi dalam penelitian ilmiah, penyelamatan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat adat. Perlombaan di Arktik saat ini ibarat berdebat tentang siapa yang memiliki kursi terbaik di atas kapal yang sedang tenggelam.

Penutup: Masa Depan yang Ditentukan Bersama

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari seluruh episode ini? Kisah Greenland dan ambisi Trump mengajarkan kita bahwa di era modern ini, kekuatan sejati bukan lagi tentang menguasai tanah seluas-luasnya, melainkan tentang membangun kemitraan yang saling menghormati. Dunia telah bergerak maju dari era di mana peta politik bisa diubah dengan tawaran uang atau ancaman militer.

Masa depan Arktik—dan Greenland di dalamnya—seharusnya tidak ditentukan di Washington, Moscow, atau Beijing semata. Masa depan itu harus dibentuk di Nuuk, ibu kota Greenland, melalui dialog yang setara dengan penduduknya yang tangguh. Mereka yang hidup di garis depan perubahan iklim, yang warisan budayanya terjalin dengan lanskap beku itu, memiliki hak paling sah untuk memutuskan jalan mereka sendiri. Sebelum kita semua terbuai oleh retorika geopolitik yang megah, mari kita ingat satu hal sederhana: beberapa hal di dunia ini, seperti harga diri sebuah bangsa dan es yang menstabilkan planet kita, tidak boleh dan tidak bisa diperjualbelikan. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita cukup bijak untuk memahami hal itu sebelum semuanya benar-benar mencair?

Dipublikasikan: 13 Januari 2026, 05:58
Diperbarui: 13 Januari 2026, 11:56