Di Balik Kunci dan Gerbang: Mengapa Rasa Aman Bukan Sekadar Benda Mati, Tapi Cermin Jiwa Manusia
Mengupas rasa aman bukan dari kunci atau kamera, tapi dari sudut pandang filosofis. Bagaimana keamanan membentuk peradaban dan menjadi tolok ukur kematangan kita sebagai manusia?
Mengapa Kita Membangun Pagar? Sebuah Pertanyaan yang Lebih Dalam dari yang Kita Kira
Bayangkan nenek moyang kita puluhan ribu tahun lalu. Saat malam tiba, mereka berkumpul di sekitar api unggun. Bukan hanya untuk menghangatkan badan, tapi juga untuk menciptakan sebuah lingkaran cahaya—sebuah batas simbolis antara yang 'aman' di dalam dan yang 'mengancam' di luar kegelapan. Ritual itu, yang mungkin terlihat sederhana, sebenarnya adalah fondasi pertama dari sebuah konsep yang hingga hari ini masih kita perjuangkan: rasa aman. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri—apa sebenarnya yang kita cari ketika kita mengunci pintu, memasang alarm, atau merasa lega melihat polisi berpatroli? Apakah ini sekadar soal bertahan hidup, atau ada sesuatu yang lebih mendalam, sesuatu yang mendefinisikan apa artinya menjadi manusia yang beradab?
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering terjebak pada keamanan sebagai produk—sesuatu yang bisa dibeli, dipasang, dan dikendalikan. Padahal, jika kita menyelaminya lebih dalam, keamanan adalah sebuah narasi. Ia adalah cerita yang kita tulis bersama tentang bagaimana kita ingin hidup, siapa yang kita lindungi, dan nilai-nilai apa yang kita anggap paling berharga untuk dipertahankan. Artikel ini mengajak Anda melampaui diskusi teknis tentang sistem keamanan, dan menyelami makna filosofisnya: mengapa rasa aman adalah kebutuhan jiwa, fondasi masyarakat, dan cermin yang paling jujur dari kematangan peradaban kita.
Lebih dari Sekadar Selamat: Keamanan sebagai Sandaran Eksistensi
Filsuf eksistensialis seperti Søren Kierkegaard dan Martin Heidegger mungkin tidak membahas CCTV atau password, tetapi mereka sangat paham tentang 'kecemasan'. Bagi mereka, rasa tidak aman adalah pengalaman mendasar manusia. Tanpa rasa aman yang minimal, kita terjebak dalam mode 'survive'—seluruh energi mental dan emosional terkuras hanya untuk waspada, sehingga tidak ada ruang untuk berpikir, berkarya, mencintai, atau sekadar 'menjadi'.
Coba kita lihat data menarik dari World Happiness Report 2023. Dalam laporan tersebut, faktor 'rasa aman' dan 'bebas dari ketakutan' berkorelasi kuat dengan tingkat kebahagiaan dan produktivitas suatu masyarakat, bahkan lebih kuat daripada pendapatan per kapita di beberapa negara. Ini bukan kebetulan. Rasa aman memberikan kita 'psychological safety net'—jaring pengaman psikologis yang memungkinkan kita untuk:
- Bermimpi dan Berinovasi: Otak kita baru bisa masuk ke mode kreatif ketika ancaman mendasar sudah teratasi.
- Membangun Kepercayaan: Hubungan sosial yang dalam hanya bisa tumbuh di tanah subur yang bebas dari kecurigaan konstan.
- Mencari Makna: Pertanyaan-pertanyaan besar tentang hidup hanya muncul ketika kita tidak lagi sibuk mempertanyakan apakah besok masih akan ada.
Dengan kata lain, keamanan bukan titik akhir, tetapi landasan pacu. Ia adalah izin yang kita berikan pada diri sendiri untuk benar-benar hidup, bukan hanya ada.
Kontrak Tak Tertulis: Ketika Keamanan Menjadi Perekat Sosial
Thomas Hobbes, dalam bukunya Leviathan, menggambarkan kehidupan tanpa otoritas dan keamanan sebagai 'solitary, poor, nasty, brutish, and short'—sendiri, miskin, buruk, kasar, dan pendek. Gambaran suram ini mendorong kita pada kesimpulan: kita rela menyerahkan sebagian kebebasan individu kita kepada sebuah otoritas (negara) sebagai imbalan atas perlindungan dan ketertiban. Inilah 'kontrak sosial' klasik.
Namun, ketertiban yang dibangun di atas rasa takut akan hukuman adalah ketertiban yang rapuh. Ia seperti kaca—kaku dan mudah pecah. Keamanan yang sesungguhnya, menurut pandangan saya, lahir dari ketertiban yang disepakati bersama, yang tumbuh dari:
- Rasa Memiliki: Aturan bukanlah sesuatu yang 'diberlakukan pada' kita, tetapi sesuatu yang 'kita buat bersama'.
- Keadilan Prosedural: Keyakinan bahwa sistem berjalan adil, meski hasilnya tidak selalu menguntungkan kita.
- Solidaritas: Perasaan bahwa keamanan tetangga adalah juga tanggung jawab dan kepentingan saya.
Di sinilah letak dilemanya. Sistem keamanan modern seringkali teralienasi—menjadi urusan polisi, satpam, atau aplikasi. Kita lupa bahwa sistem terbaik pun akan gagal tanpa partisipasi aktif dan rasa tanggung jawab kolektif dari setiap individu di dalamnya.
Tarian Abadi: Mencari Keseimbangan antara Aman dan Merdeka
Ini mungkin paradoks terbesar dalam peradaban: kita menginginkan keamanan, tetapi kita juga mendambakan kebebasan. Keduanya sering tampak seperti dua ujung tali yang ditarik berlawanan. Peningkatan pengawasan massal pasca peristiwa tertentu adalah contoh nyata. Kita merasa lebih aman, tetapi dengan harga privatasi yang terkikis.
Filsuf Isaiah Berlin membedakan antara 'kebebasan negatif' (bebas dari campur tangan) dan 'kebebasan positif' (bebas untuk mengaktualisasikan diri). Opini saya di sini adalah: Keamanan yang sehat seharusnya tidak membunuh kedua jenis kebebasan itu. Ia harus menjadi 'panggung', bukan 'kandang'. Panggung yang cukup kokoh untuk membuat penari merasa percaya diri, tetapi cukup luas untuk ia bergerak dan mengekspresikan diri.
Sebuah masyarakat yang terlalu menekankan keamanan hingga mengorbankan kebebasan akan menjadi masyarakat yang steril, penuh ketakutan, dan tidak inovatif. Sebaliknya, kebebasan tanpa batas keamanan akan berujung pada hukum rimba. Kematangan sebuah masyarakat justru diukur dari kemampuannya untuk terus-menerus merundingkan ulang keseimbangan sensitif ini melalui dialog, bukan paksaan.
Ujian Sebenarnya: Bagaimana Kita Melindungi yang Paling Rentan?
Di sini, filosofi keamanan bertemu dengan etika. Bukanlah sebuah prestasi besar jika sebuah istana dijaga ketat oleh seratus prajurit. Prestasi yang sesungguhnya adalah ketika sebuah masyarakat mampu melindungi orang asing, minoritas, anak-anak, dan mereka yang tidak memiliki daya tawar. Cara kita memperlakukan kelompok yang paling rentan adalah barometer sejati dari 'keamanan' kita sebagai peradaban.
Data dari UNHCR menunjukkan bahwa negara-negara dengan indeks pembangunan manusia tinggi belum tentu menjadi yang terbaik dalam memberikan rasa aman bagi pengungsi atau pencari suaka. Ini mengindikasikan bahwa keamanan sering kali bersifat eksklusif—hanya untuk 'kita', bukan untuk 'mereka'. Keamanan filosofis menantang konsep ini. Ia bertanya: Dapatkah kita benar-benar merasa aman jika di dalam sistem kita, masih ada orang yang hidup dalam ketakutan?
Keamanan yang beretika adalah keamanan inklusif. Ia dibangun di atas prinsip bahwa martabat manusia adalah universal. Ia mengenali bahwa penindasan terhadap satu kelompok, pada akhirnya, mengikis rasa aman seluruh masyarakat karena menormalisasi ketidakadilan.
Lalu, Ke Mana Kita Melangkah? Masa Depan yang Manusiawi
Dunia kita semakin kompleks. Ancaman tidak lagi hanya fisik, tetapi juga siber, psikologis, dan lingkungan. Teknologi seperti AI dan biometrik menawarkan keamanan yang belum pernah terbayangkan, tetapi juga membawa risiko pengawasan dan manipulasi yang masif. Di tengah kompleksitas ini, refleksi filosofis bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan.
Kita membutuhkan 'keamanan yang berpusat pada manusia'. Bukan sistem yang melihat manusia sebagai titik data atau potensi ancaman, tetapi sistem yang dirancang untuk melindungi dan memungkinkan potensi manusia berkembang. Ini berarti:
- Transparansi dan Akuntabilitas: Sistem keamanan harus bisa dipertanggungjawabkan kepada publik yang dilindunginya.
- Pendidikan Etika: Mendidik bukan hanya petugas keamanan, tetapi seluruh masyarakat tentang hak, batas, dan tanggung jawab bersama.
- Desain Empatik: Merancang kebijakan dan teknologi keamanan dengan mempertimbangkan pengalaman kelompok marginal.
Menutup Lingkaran Cahaya: Sebuah Refleksi untuk Kita Semua
Jadi, kembali ke api unggun nenek moyang kita. Lingkaran cahaya itu lebih dari sekadar penghalang fisik; ia adalah sebuah pernyataan. Sebuah pernyataan bahwa di dalam lingkaran ini, kita berjanji untuk saling menjaga. Bahwa di sini, cerita bisa diceritakan, tawa bisa dikeluarkan, dan mimpi bisa dibagikan tanpa rasa takut.
Mungkin itulah inti dari semua pembahasan filosofis tentang keamanan: ia adalah tentang keberanian untuk mempercayai. Mempercayai bahwa dunia tidak harus selalu bermusuhan, bahwa orang lain tidak selalu berniat jahat, dan bahwa bersama-sama, kita bisa menciptakan ruang di mana hidup tidak hanya tentang waspada, tetapi juga tentang berkembang.
Pertanyaannya sekarang, untuk kita renungkan bersama: Seperti apakah 'lingkaran cahaya' yang sedang kita bangun hari ini? Apakah ia selektif dan eksklusif, atau inklusif dan empatik? Apakah ia membelenggu, atau justru membebaskan? Jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan ini, lebih dari teknologi mana pun, akan menentukan apakah peradaban kita akan dikenang sebagai yang penuh ketakutan, atau yang dipandu oleh keberanian untuk mempercayai dan melindungi dengan bijak. Mari kita pilih yang kedua.