Politik

Demokrasi di Persimpangan: Ketika Pilihan Rakyat Bertemu Realitas Politik

Menyelami dinamika politik nasional yang kompleks dan tantangan nyata demokrasi kontemporer dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
2 Februari 2026
Demokrasi di Persimpangan: Ketika Pilihan Rakyat Bertemu Realitas Politik

Membaca Denyut Nadi Demokrasi Kita

Bayangkan Anda sedang duduk di warung kopi sore itu. Di meja sebelah, dua orang berseteru tentang calon pemimpin daerah. Satu mendukung karena janji pembangunan, satunya menolak karena isu korupsi lama. Percakapan itu, yang mungkin Anda dengar kemarin atau hari ini, sebenarnya adalah potret paling jujur dari demokrasi kita yang sedang tumbuh—dan kadang tersandung.

Demokrasi bukanlah konsep abstrak yang hanya hidup di ruang sidang atau pidato kenegaraan. Ia bernapas dalam setiap percakapan warung kopi, dalam setiap debat keluarga saat pemilu, dalam setiap keputusan kecil kita memilih wakil di tingkat RT sekalipun. Tapi pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana sebenarnya kesehatan demokrasi kita hari ini? Apakah ia sedang berkembang dengan sehat, atau justru menunjukkan gejala-gejala yang perlu kita waspadai bersama?

Transformasi Politik: Bukan Sekedar Pergantian Pemerintahan

Perubahan politik nasional seringkali kita lihat hanya sebagai peristiwa lima tahunan—pemilu, pergantian presiden, reshuffle kabinet. Padahal, transformasi politik yang sesungguhnya terjadi justru di antara momen-momen besar tersebut. Menurut data Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2023, terjadi pergeseran menarik: 68% pemilih muda sekarang lebih tertarik pada isu konkret seperti lapangan kerja dan pendidikan ketimbang sekadar janji ideologis. Ini sinyal bahwa demokrasi kita sedang mengalami evolusi cara berpikir.

Yang menarik, perubahan ini tidak selalu linear. Saya pernah berbincang dengan seorang aktivis mahasiswa tahun 1998 yang kini menjadi pengusaha. Katanya, dulu reformasi digaungkan untuk mengubah sistem, tapi sekarang tantangannya justru lebih kompleks: bagaimana menjaga semangat perubahan itu tetap hidup dalam rutinitas demokrasi yang sudah mapan. Ada semacam 'kelelahan demokrasi' yang diam-diam menggerogoti—ketika mekanisme sudah berjalan, tapi semangat perubahan mandek.

Tantangan yang Tidak Tercatat di Buku Teks

Kalau kita buka buku ilmu politik, tantangan demokrasi biasanya tercantum rapi: korupsi, lemahnya institusi, polarisasi. Tapi dalam pengamatan saya selama satu dekade terakhir, ada tantangan yang lebih halus dan justru lebih berbahaya:

  • Demokrasi Instan: Kita terbiasa dengan segala sesuatu yang instan—pesan makanan, transportasi, informasi. Sayangnya, demokrasi tidak bekerja seperti itu. Proses deliberatif, musyawarah, pembangunan konsensus membutuhkan waktu dan kesabaran yang justru semakin langka di era digital.
  • Ekosistem Informasi yang Terfragmentasi: Dulu kita punya beberapa sumber berita utama. Sekarang, setiap orang hidup dalam 'gelembung informasi' masing-masing. Data dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menunjukkan bahwa 73% warga Indonesia mengaku mendapatkan informasi politik terutama dari media sosial, bukan media mainstream.
  • Kesenjangan Partisipasi: Ada ironi yang menyedihkan: mereka yang paling terdampak kebijakan politik seringkali justru paling sedikit terlibat dalam proses politik. Petani, nelayan, pekerja informal—suara mereka kerap tenggelam dalam hiruk-pikuk politik elite.

Politik Identitas: Pedang Bermata Dua

Isu yang paling sering dibicarakan—dan paling sering disalahpahami—adalah politik identitas. Sebagai penulis yang mengamati dinamika sosial-politik, saya melihat politik identitas bukan sebagai sesuatu yang secara inheren buruk. Identitas agama, etnis, budaya adalah bagian dari jati diri kita. Masalah muncul ketika identitas ini dimanipulasi menjadi alat untuk memecah belah, bukan untuk memperkaya khazanah demokrasi.

Contoh konkretnya? Lihatlah Pilkada DKI Jakarta 2017. Menurut analisis Centre for Strategic and International Studies (CSIS), penggunaan identitas dalam pemilihan itu mencapai puncaknya, namun menariknya, pemilu nasional 2019 justru menunjukkan tren berbeda—isu ekonomi dan kesehatan justru lebih dominan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi.

Literasi Politik: Bukan Sekedar Tahu Nama Calon

Selama ini kita mengukur literasi politik dari seberapa banyak orang tahu nama menteri atau partai politik. Padahal, literasi politik yang sesungguhnya lebih dalam dari itu. Menurut definisi UNESCO, literasi politik mencakup kemampuan untuk:

  1. Memahami bagaimana keputusan politik mempengaruhi kehidupan sehari-hari
  2. Menganalisis informasi politik secara kritis
  3. Berpartisipasi secara efektif dalam proses politik
  4. Memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara

Di sinilah letak masalahnya: sistem pendidikan kita jarang mengajarkan keterampilan ini. Hasilnya? Kita punya generasi yang pandai menghafal pasal UUD, tapi bingung bagaimana mengadvokasi kepentingan mereka di tingkat kelurahan.

Korupsi: Penyakit Kronis yang Butuh Terapi Baru

Kita sudah terlalu lama membicarakan korupsi seolah-olah itu adalah fenomena cuaca—datang dan pergi, tapi selalu ada. Data Transparency International 2023 menempatkan Indonesia di peringkat 110 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi. Angka ini stagnan dalam lima tahun terakhir. Artinya, pendekatan konvensional pemberantasan korupsi mungkin perlu evaluasi mendasar.

Dalam pandangan saya, kita perlu pendekatan yang lebih sistemik. Bukan hanya menangkap koruptor, tapi membangun sistem yang membuat korupsi menjadi sulit dilakukan. Contoh sederhana: digitalisasi pengadaan barang dan jasa pemerintah yang transparan dan terbuka untuk diawasi publik. Atau sistem pelaporan kekayaan pejabat yang benar-benar diverifikasi independen, bukan sekadar formalitas.

Penegakan Hukum: Bukan Tentang Kekerasan, Tapi Konsistensi

Ada cerita menarik dari seorang hakim yang saya wawancarai beberapa waktu lalu. Katanya, masalah terbesar penegakan hukum di Indonesia bukanlah pada hukumnya sendiri, melainkan pada persepsi ketidakadilan. "Ketika masyarakat melihat pejabat tinggi lolos dari hukuman untuk pelanggaran yang sama yang membuat rakyat kecil dipenjara, kepercayaan mereka pada hukum runtuh," ujarnya.

Data dari Indonesian Judicial Monitoring Society (IJMS) mengkonfirmasi ini: 65% responden survei mereka percaya bahwa hukum lebih tajam ke bawah daripada ke atas. Ini adalah masalah serius, karena demokrasi tanpa penegakan hukum yang adil ibarat mobil tanpa rem—bisa melaju kencang, tapi berbahaya untuk semua penumpangnya.

Jalan ke Depan: Demokrasi sebagai Proyek Bersama

Setelah membahas semua tantangan ini, mungkin Anda bertanya: masih adakah harapan? Jawaban saya: justru karena tantangannya kompleks, harapannya semakin besar. Demokrasi bukanlah sistem yang diberikan sekali lalu selesai. Ia adalah proyek yang terus dibangun, diperbaiki, dan disesuaikan.

Yang sering kita lupakan adalah bahwa setiap dari kita—ya, termasuk Anda yang membaca artikel ini—adalah arsitek demokrasi itu sendiri. Setiap kali Anda memverifikasi informasi sebelum membagikannya, setiap kali Anda terlibat dalam musyawarah lingkungan, setiap kali Anda menuntut transparansi dari pejabat publik, Anda sedang membangun demokrasi dari fondasinya.

Mari kita akhiri dengan refleksi sederhana: Bayangkan lima tahun dari sekarang. Ketika Anda duduk di warung kopi yang sama, mendengar percakapan politik yang sama, apa yang Anda harapkan berbeda? Mungkin bukan sekadar wajah pemimpin yang baru, tapi kualitas percakapan itu sendiri—lebih substantif, lebih empatik, lebih membangun. Karena pada akhirnya, demokrasi yang sehat bukanlah tentang siapa yang berkuasa, tapi tentang bagaimana kita semua—sebagai warga negara—belajar untuk berkuasa bersama, dengan bijak dan bertanggung jawab.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apa yang salah dengan demokrasi kita?" melainkan "bagian apa dari perbaikan demokrasi ini yang akan saya ambil?" Jawabannya, saya yakin, sudah ada dalam diri masing-masing kita.

Dipublikasikan: 2 Februari 2026, 02:24
Diperbarui: 2 Februari 2026, 08:31