Peristiwa

Dari Konflik ke Rekonsiliasi: Kisah Pedagang Es Krim dan Upaya TNI Memperbaiki Komunikasi Publik

Insiden pedagang es krim di Kemayoran jadi pelajaran berharga tentang komunikasi sosial dan pentingnya klarifikasi informasi sebelum viral.

Penulis:adit
2 Februari 2026
Dari Konflik ke Rekonsiliasi: Kisah Pedagang Es Krim dan Upaya TNI Memperbaiki Komunikasi Publik

Bayangkan ini: seorang pedagang es krim tradisional di sudut kota, menjalani hari seperti biasa, tiba-tiba menjadi pusat perhatian nasional. Bukan karena resep rahasianya, melainkan karena sebuah insiden yang disebut-sebut sebagai 'kesalahpahaman' dengan aparat. Kisah Sudrajat, penjual es jadul di Utan Panjang, Kemayoran, ini bukan sekadar berita biasa. Ini adalah cermin bagaimana komunikasi di ruang publik bisa berubah menjadi bola salju yang tak terkendali, dan bagaimana upaya rekonsiliasi justru sering kali tenggelam dalam hiruk-pikuk narasi awal.

Yang menarik dari kasus ini adalah perjalanannya dari konflik ke resolusi. Sementara banyak berita fokus pada momen ketegangan, ada cerita lain yang kurang mendapat panggung: proses pendekatan kekeluargaan yang dilakukan Kodim 0501/Jakarta Pusat. Kolonel Inf Ahmad Alam Budiman tidak hanya datang ke kediaman Sudrajat di Bogor, tapi membawa pendekatan yang berbeda dari narasi konflik yang biasanya mendominasi pemberitaan.

Mengurai Benang Kusut Komunikasi Publik

Dalam dunia yang serba terkoneksi seperti sekarang, sebuah insiden kecil bisa meledak menjadi isu nasional dalam hitungan jam. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa 68% konten viral di media sosial berasal dari informasi yang belum terverifikasi lengkap. Fenomena inilah yang mungkin terjadi dalam kasus pedagang es krim ini. Dandim 0501/Jakarta Pusat secara tegas menyebut bahwa akar masalahnya adalah kesalahpahaman di lapangan, yang kemudian diperparah oleh penyebaran informasi sepihak.

Pertemuan antara pihak TNI dan Sudrajat di Bojong Gede, Bogor, pada 26 Januari 2026, menjadi titik balik menarik. Bukan hanya karena kedua pihak bertemu, tetapi karena pertemuan itu menghasilkan kesepakatan yang jarang diekspos media: komitmen untuk memperbaiki sistem komunikasi sosial. "Kami akan melakukan evaluasi internal, khususnya terkait komunikasi sosial agar kejadian serupa tidak terulang," tegas Ahmad Alam Budiman. Pernyataan ini mengindikasikan pengakuan bahwa masalahnya bukan hanya pada insiden itu sendiri, tetapi pada mekanisme komunikasi yang rentan misinterpretasi.

Perspektif Unik: Ketika Institusi Militer Belajar dari Konflik Sosial

Di sinilah letak nilai pembelajaran yang unik dari kasus ini. Sebuah survei internal yang pernah dilakukan oleh lembaga penelitian independen terhadap persepsi publik terhadap institusi militer menunjukkan bahwa 42% responden merasa komunikasi TNI dengan masyarakat masih bersifat satu arah. Kasus Sudrajat ini justru menjadi laboratorium alamiah bagaimana institusi militer merespons kritik dan konflik sosial dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Pernyataan "Tidak ada niat sedikit pun untuk merugikan warga" mungkin terdengar klise bagi sebagian orang, tetapi dalam konteks ini, pernyataan tersebut disertai dengan tindakan nyata: kunjungan langsung, dialog terbuka, dan komitmen evaluasi. Ini menunjukkan pergeseran paradigma dari defensif menjadi reflektif. Yang lebih menarik lagi adalah penekanan pada "pendekatan persuasif" sebagai standar operasional prajurit di lapangan – sebuah konsep yang biasanya lebih identik dengan dunia diplomasi daripada militer.

Opini: Di Balik Narasi 'Selesai', Ada Pelajaran yang Baru Dimulai

Sebagai pengamat dinamika sosial, saya melihat ada tiga lapisan pembelajaran dari kasus ini yang sering terlewatkan. Pertama, tentang kecepatan informasi versus akurasi informasi. Dalam tempo 48 jam sejak insiden, narasi sudah bergulir sedemikian rupa sehingga membutuhkan upaya ekstra untuk meluruskannya. Kedua, tentang gap persepsi antara aparat dan masyarakat – bagaimana sesuatu yang dianggap sebagai prosedur standar oleh satu pihak bisa dianggap sebagai penganiayaan oleh pihak lain. Ketiga, dan ini yang paling krusial, tentang mekanisme klarifikasi yang justru datang belakangan setelah narasi negatif sudah menyebar.

Fakta yang patut dicatat: proses penyelesaian secara kekeluargaan ini terjadi sebelum isu menjadi lebih besar. Ini menunjukkan adanya mekanisme respons yang relatif cepat dari institusi terkait. Namun, pertanyaan kritisnya adalah: apakah mekanisme seperti ini sudah menjadi standar, atau hanya diaktifkan ketika isu sudah mendapat perhatian publik? Inilah yang membuat komitmen evaluasi internal menjadi penting untuk diwujudkan secara konkret, bukan hanya menjadi pernyataan kosong.

Refleksi Akhir: Komunikasi sebagai Jembatan, Bukan Tembok

Ketika kita menutup artikel ini, mari kita renungkan sebuah pertanyaan mendasar: berapa banyak konflik sosial sebenarnya yang berakar dari kesalahpahaman komunikasi, bukan dari niat jahat? Kasus pedagang es krim di Kemayoran ini mengajarkan kita bahwa terkadang, yang dibutuhkan bukanlah penghakiman cepat, tetapi ruang dialog yang memadai. Kolonel Inf Ahmad Alam Budiman mungkin benar ketika mengatakan bahwa sinergi dan saling pengertian adalah kunci, tetapi kunci itu hanya bisa berfungsi jika ada pintu yang terbuka untuk komunikasi dua arah.

Masyarakat pun diajak untuk lebih bijak: tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Namun, institusi juga harus memberikan akses verifikasi yang mudah dan transparan. Pada akhirnya, insiden ini bukan tentang siapa menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana kita sebagai masyarakat belajar membangun mekanisme komunikasi yang lebih sehat. Bagaimana pendapat Anda? Apakah kasus seperti ini bisa menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan antara aparat dan masyarakat, atau hanya akan menjadi sekadar cerita yang terlupakan sampai insiden serupa terjadi lagi? Mari kita jadikan refleksi ini sebagai awal untuk membangun komunikasi yang lebih konstruktif di ruang publik kita.

Dipublikasikan: 2 Februari 2026, 05:12
Diperbarui: 2 Februari 2026, 05:12