viral

Dari Kesalahan Arah ke Amukan Massa: Ketika Emosi Jalan Raya Meledak di Bekasi

Sebuah insiden lalu lintas di Bekasi berubah menjadi drama mencekam saat mobil lawan arah menyeret motor 500 meter dan berujung pengemudi diamuk massa. Lebih dari sekadar kecelakaan, ini adalah cerminan kondisi psikologis pengguna jalan dan sistem hukum kita.

Penulis:adit
7 Januari 2026
Dari Kesalahan Arah ke Amukan Massa: Ketika Emosi Jalan Raya Meledak di Bekasi

Bayangkan ini: Anda sedang berkendara pulang kerja, pikiran penuh dengan rencana makan malam bersama keluarga. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju tepat menghadap Anda. Bukan di jalan sepi, tapi di tengah keramaian Bekasi malam hari. Apa yang akan Anda lakukan? Inilah awal dari drama mencekam yang terjadi di Pertigaan Caman, yang kemudian viral bukan hanya karena tabrakannya, tapi karena rentetan keputusan buruk yang berujung pada amukan massa.

Senin malam itu (5/1/2026), sekitar pukul 19.30 WIB, suasana Jalan Raya KH Noer Ali – Kalimalang tiba-tiba berubah menjadi adegan film aksi. Sebuah Toyota Avanza silver, dikemudikan HA (38), memilih jalur yang salah—bukan salah belok biasa, tapi benar-benar melawan arus. Di pertigaan yang sama, Eman Jaenal (35) naik motor Honda Beat-nya, hendak belok kanan menuju rumah. Tabrakan tak terhindarkan. Tapi yang terjadi selanjutnya jauh lebih mengerikan.

Alih-alih berhenti dan menanggung konsekuensi, pengemudi Avanza memilih untuk kabur. Dalam kepanikannya, motor yang baru saja ditabraknya tersangkut di kolong mobil. Dan selama 500 meter berikutnya—jarak yang setara dengan lima lapangan bola—motor itu terseret, mengeluarkan percikan api di aspal, sementara pengendaranya berhasil melompat dengan selamat. Warga yang menyaksikan langsung kejadian ini berteriak, mengejar, mencoba menghentikan mobil yang terus melaju.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan adegan yang sulit dipercaya: sebuah mobil dengan motor tersangkut di bawahnya, melaju di jalan utama, sementara pengendara lain berusaha menghindar. Saksi mata mencoba menegur, tapi respons pengemudi justru menekan gas lebih dalam. Keputusan inilah yang memicu reaksi berantai. Massa yang awalnya hanya penasaran, berubah menjadi marah.

Di kawasan Global Prestasi School, mobil itu akhirnya berhasil dihentikan. Tapi bukan oleh polisi—melainkan oleh warga yang emosinya sudah memuncak. Kaca depan dan belakang pecah, bodi mobil penyok di berbagai bagian. Pengemudi mengalami luka ringan sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Polisi dari Unit Laka Lantas Polres Metro Bekasi Kota kini sedang menyelidiki kasus ini, termasuk motif mengapa HA nekat melawan arus sejak awal.

Menariknya, data dari Korps Lalu Lintas Polri menunjukkan bahwa pelanggaran 'melawan arus' termasuk dalam 5 besar pelanggaran yang memicu amukan massa di jalan raya. Dalam setahun terakhir, ada peningkatan 23% kasus di mana pelanggar lalu lintas mengalami kekerasan fisik dari warga sebelum penanganan polisi. Ini bukan sekadar angka—ini tanda bahwa toleransi masyarakat terhadap pelanggaran di jalan raya semakin tipis.

Opini pribadi saya? Insiden ini lebih dari sekadar kecelakaan lalu lintas. Ini adalah cerminan dua masalah besar: pertama, mentalitas 'kabur dari tanggung jawab' yang masih mengakar di sebagian pengendara kita. Kedua, sistem penegakan hukum yang seringkali terasa lamban, membuat warga mengambil alih 'keadilan' dengan caranya sendiri. Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi kekerasan sebagai solusi—seolah-olah diamuk massa adalah konsekuensi wajar bagi pelanggar.

Pada akhirnya, kita semua adalah pemain dalam drama jalan raya ini. Setiap kali kita memilih untuk sabar atau emosi, berhenti atau kabur, melapor atau main hakim sendiri—kita sedang membentuk budaya berkendara bersama. Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: jika besok kita yang melakukan kesalahan di jalan, apakah kita siap bertanggung jawab? Atau apakah kita akan memilih untuk lari, dan memicu reaksi berantai yang bisa berakhir seperti di Bekasi malam itu? Keselamatan di jalan raya bukan hanya tentang skill berkendara, tapi juga tentang kematangan emosi dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Mari jadikan insiden ini sebagai pengingat—bukan untuk saling menghakimi, tapi untuk lebih bijak di setiap perjalanan.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 06:14
Diperbarui: 20 Januari 2026, 21:09