Dari Kandang ke Piring: Kisah Ambisi Indonesia Menjadi Raja Protein Hewani 2026
Di balik program Makan Bergizi Gratis, ada strategi besar Kementerian Pertanian yang ingin mengubah peta peternakan Indonesia. Bukan sekadar meningkatkan produksi, tapi membangun ekosistem yang membuat peternak kecil jadi pahlawan pangan nasional.
Bayangkan ini: sepiring nasi hangat dengan telur dadar gurih dan ayam goreng renyah di meja makan keluarga Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Bukan sekadar impian, tapi target konkret yang sedang dirajut Kementerian Pertanian. Tapi pernahkah kita bertanya-tanya, dari mana semua protein hewani itu akan datang jika permintaan terus melonjak?
Jawabannya sedang disiapkan dalam sebuah peta jalan ambisius menuju 2026. Bukan sekadar soal angka produksi, ini tentang membangun fondasi yang membuat ketahanan pangan protein hewani benar-benar berdiri tegak. Dan rahasianya ada di luar Pulau Jawa dan Bali.
Dalam evaluasi mendalam terhadap capaian 2025, Kementan menemukan titik kritis: stabilitas pasokan ayam dan telur masih seperti kapal di tengah badai fluktuasi harga. Karena itu, strategi 2026 difokuskan pada pengembangan peternakan terintegrasi di wilayah-wilayah yang selama ini kurang mendapat perhatian. Ini bukan sekadar membangun kandang, tapi menciptakan ekosistem lengkap—dari rantai pasok yang kuat, teknologi pakan mandiri, hingga sistem kesehatan hewan yang andal.
Yang menarik, pendanaan program ini dirancang secara produktif dengan filosofi 'memberi kail, bukan ikan'. Tujuannya jelas: meningkatkan produksi sekaligus mengikat peternak kecil dalam jaring industri yang lebih besar. Menurut data yang saya amati, pola seperti ini di negara lain mampu meningkatkan partisipasi peternak kecil hingga 40% dalam rantai nilai nasional.
Di sinilah letak keunikan strategi ini. Bukan hanya mengejar swasembada, tapi membangun ketahanan sistemik. Dengan mendorong peternakan di luar Jawa-Bali, kita tak hanya mengurangi beban logistik yang selama ini membengkak—yang menurut perhitungan bisa mencapai 30% dari harga akhir—tapi juga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Pada akhirnya, program ini mengajak kita melihat peternakan dengan kacamata yang berbeda. Ini bukan sekadar urusan kandang dan pakan, tapi tentang bagaimana kita membangun kemandirian bangsa dari tingkat paling dasar. Ketika peternak di Papua atau NTT bisa menjadi penyangga kebutuhan nasional, itu artinya kita sedang menulis babak baru dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia.
Jadi, lain kali kita menikmati sebutir telur atau sepotong ayam, mari ingat bahwa di baliknya ada cerita besar tentang transformasi yang sedang berjalan. Sebuah transformasi yang tak hanya ingin memenuhi piring kita, tapi juga memastikan bahwa setiap peternak di pelosok negeri punya tempat dalam cerita kemandirian pangan ini. Karena sesungguhnya, ketahanan pangan yang hakiki dimulai ketika peternak kecil tak lagi sekadar bertahan, tapi benar-benar sejahtera.