Kriminal

Dari Copet Hingga Cybercrime: Bagaimana Wajah Kejahatan Berubah Bersama Zaman Kita?

Menyelami transformasi pola kriminalitas dari era analog ke digital, dan apa artinya bagi rasa aman kita sehari-hari dalam masyarakat yang terus bergerak.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
28 Januari 2026
Dari Copet Hingga Cybercrime: Bagaimana Wajah Kejahatan Berubah Bersama Zaman Kita?

Dari Copet Hingga Cybercrime: Bagaimana Wajah Kejahatan Berubah Bersama Zaman Kita?

Ingatkah Anda, dulu orang tua sering memperingatkan untuk berhati-hati dengan copet di pasar atau penjambret di jalanan gelap? Ancaman itu nyata dan fisik. Sekarang, peringatannya bergeser: "Jangan klik link aneh di WhatsApp," atau "Pastikan password bank-mu kuat." Rasanya, dalam satu generasi, musuh yang harus kita waspadai berubah wujud. Ia tak lagi bersembunyi di lorong gelap, tapi berseliweran di ruang digital yang kita huni setiap hari. Perubahan ini bukan kebetulan. Ia adalah cermin paling jujur dari bagaimana kita, sebagai masyarakat, hidup, berinteraksi, dan akhirnya, menciptakan celah-celah baru untuk dimanfaatkan.

Transformasi kriminalitas ini ibarat bayangan dari kemajuan peradaban. Setiap lompatan teknologi, setiap pergeseran sosial, dan setiap ketimpangan ekonomi yang baru, melahirkan varian kejahatan yang baru pula. Ini bukan sekadar soal modus operandi yang berubah, tapi tentang evolusi ancaman yang mengikuti napas zaman. Lalu, bagaimana sebenarnya pola kejahatan ini berubah, dan yang lebih penting, apa yang bisa kita pelajari dari metamorfosis gelap ini tentang diri kita sendiri?

Mengapa Kejahatan Tak Pernah Statis?

Kejahatan, pada hakikatnya, adalah respons. Ia merespons peluang, kebutuhan, dan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Dulu, ketika masyarakat agraris dan transaksi bersifat tunai, pencurian ternak atau perampokan kafilah adalah hal yang lumrah. Ketika kita beralih ke masyarakat industri dan perkotaan padat, kejahatan properti dan kekerasan jalanan meningkat. Kini, di era di mana data adalah mata uang baru dan identitas kita hidup di awan, wajar jika kejahatan bermigrasi ke sana. Faktor pendorongnya kompleks. Bukan cuma teknologi, tapi juga perubahan demografi seperti urbanisasi massal yang menciptakan kesenjangan sosial baru, kerapuhan ekonomi pasca-pandemi yang mendorong orang mencari cara cepat, dan kultur instant yang membuat kejahatan cyber terlihat sebagai "shortcut" dengan risiko fisik minimal.

Wajah Baru Ancaman: Ketika Kejahatan Menjadi Nirkabel dan Global

Jika dulu seorang penjahat perlu keberanian fisik dan keterampilan manual, kini yang dibutuhkan adalah ketekunan di depan layar dan pemahaman kode. Beberapa bentuk transformasi yang paling mencolok adalah:

  • Dari Dompet ke Dompet Digital: Pencurian uang tunai di jalan berganti menjadi phishing, skimming kartu digital, atau serangan ransomware yang menyandera data perusahaan. Menurut laporan Verizon Data Breach Investigations Report 2023, 74% pelanggaran data melibatkan unsur manusia (seperti kesalahan atau phising), menunjukkan betapa kejahatan modern memanfaatkan psikologi, bukan hanya kekuatan.
  • Kejahatan yang Melampaui Batas Geografis: Sebuah penipuan investasi bodong bisa dioperasikan dari negara A, menggunakan server di negara B, menargetkan korban di negara C, dan menampung uang di negara D. Ini membuat penegakan hukum tradisional, yang terikat yurisdiksi, seperti kejar-kejaran dengan hantu.
  • Kompleksitas yang Menjadi Senjata: Modus kejahatan finansial kini sering melibatkan lapisan-lapisan legalitas semu, cryptocurrency untuk pencucian uang, dan rekayasa sosial yang sangat persuasif. Mereka tak lagi kasar; mereka canggih dan terstruktur rapi.

Dampaknya pada Kita: Rasa Aman di Era Ketidakpastian

Perubahan ini meninggalkan bekas yang dalam di psikologi sosial kita. Rasa aman yang dulu diukur dari kunci pagar dan lampu jalan, kini juga diukur dari kekuatan password dan privasi data. Kecemasan baru muncul: takut identitas dijual di dark web, takut rekening dikuras tanpa jejak, atau takut menjadi korban doxing hanya karena perbedaan pendapat di media sosial. Beban ini juga jatuh pada institusi penegak hukum yang harus berlari mengejar ketertinggalan, mempelajari bahasa pemrograman dan blockchain, sambil tetap menangani kejahatan konvensional yang belum punah.

Di sisi lain, ada opini menarik yang patut dipertimbangkan: apakah kejahatan digital justru merefleksikan "demokratisasi" risiko? Dulu, korban kejahatan properti seringkali adalah mereka yang tinggal di wilayah rentan. Sekarang, siapa pun yang memiliki smartphone dan koneksi internet—dari CEO hingga pelajar—berpotensi menjadi target. Ancaman menjadi lebih egaliter, meski dalam cara yang sangat mengkhawatirkan.

Lalu, Ke Mana Kita Melangkah?

Melihat peta perubahan ini, satu hal yang jelas: pendekatan lama tidak akan cukup. Membekali polisi dengan pentungan lebih besar tidak akan menangkal serangan siber. Literasi digital harus menjadi vaksinasi dasar bagi setiap warga, bukan sekadar pelengkap. Kita perlu memahami bahwa melindungi data pribadi sama pentingnya dengan mengunci pintu rumah.

Di tingkat yang lebih luas, ini adalah panggilan untuk kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Antara sektor privat (platform tech, perbankan) dengan penegak hukum, antara negara dengan negara, dan antara generasi tua yang memahami hukum dengan generasi muda yang memahami teknologi. Pencegahan kejahatan modern harus bersifat proaktif dan prediktif, menggunakan analitik data untuk memetakan pola ancaman, bukan sekadar reaktif menunggu laporan korban.

Pada akhirnya, mengamati perubahan pola kriminalitas adalah seperti melihat bayangan kita sendiri di cermin yang gelap. Ia menunjukkan sisi rentan dari setiap kemajuan yang kita raih. Tantangannya bukan lagi tentang siapa yang lebih kuat, tapi tentang siapa yang lebih cerdas, lebih waspada, dan lebih adaptif. Mungkin pertanyaan terakhir untuk kita renungkan adalah: Dalam membangun dunia yang lebih terhubung, sudahkah kita juga membangun pertahanan yang setara untuk melindungi kemanusiaan dan kepercayaan di dalamnya? Keamanan di abad ke-21 bukan lagi produk yang dibeli, tapi budaya yang harus ditumbuhkan—dari kesadaran individu hingga kebijakan global. Mari mulai dari diri sendiri, dengan lebih kritis dan bijak menyusuri lorong-lorong terang maupun gelap di dunia modern ini.

Dipublikasikan: 28 Januari 2026, 05:32
Diperbarui: 21 Februari 2026, 08:31