Lingkungan Global / Perubahan Iklim

Bibit Badai di Selatan: Mengapa Cuaca NTB Tiba-tiba Berubah Drastis?

Bibit siklon tropis 96S mengancam NTB dengan cuaca ekstrem. Simak analisis dampak, kiat waspada, dan mengapa fenomena ini makin sering terjadi.

Penulis:khoirunnisakia
7 Januari 2026
Bibit Badai di Selatan: Mengapa Cuaca NTB Tiba-tiba Berubah Drastis?

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya ketika langit yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita, diikuti oleh hujan yang mengguyur seolah-olah ingin menghanyutkan segalanya? Itulah gambaran yang mungkin akan dihadapi oleh sebagian masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam beberapa hari ke depan. Bukan sekadar hujan biasa, melainkan sebuah pertunjukan alam yang dipicu oleh 'tamu tak diundang' dari lautan selatan: bibit siklon tropis 96S.

Bayangkan, di tengah persiapan menyambut pergantian tahun, alam justru menyiapkan ujian tersendiri. BMKG, melalui peringatan resminya, menyebutkan bahwa periode 29 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 akan menjadi masa-masa yang perlu diwaspadai. Cuaca diperkirakan akan berubah-ubah secara ekstrem, dari cerah berawan yang menipu hingga hujan lebat yang bisa datang tiba-tiba. Ini bukan lagi soal membawa payung, tapi tentang kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terburuk.

Mengenal 'Sang Pengacau' Atmosfer: Bibit Siklon Tropis 96S

Lalu, apa sebenarnya bibit siklon tropis 96S ini? Dalam bahasa yang sederhana, ia adalah sebuah area gangguan atmosfer di atas perairan yang menunjukkan tanda-tanda akan berkembang menjadi siklon tropis penuh. Meski masih dalam tahap 'bibit', pengaruhnya sudah sangat nyata. Ia ibarat sebuah pusaran energi raksasa yang mengacak-acak pola angin dan awan di sekitarnya, menyebabkan ketidakstabilan cuaca dalam skala yang luas.

Andre Jersey, Prakirawan BMKG NTB, menjelaskan bahwa pengaruh utama dari bibit siklon ini adalah peningkatan signifikan pada aktivitas konvektif atau pembentukan awan hujan. Akibatnya, wilayah NTB, khususnya pada tanggal 29 hingga 31 Desember 2025, berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang. Kombinasi elemen-elemen inilah yang berbahaya: hujan deras bisa menyebabkan banjir dan genangan, sementara angin kencang berpotensi merobohkan pohon dan struktur yang tidak kokoh.

Dampak yang Mengintai: Lebih Dari Sekadar Hujan

Peringatan BMKG ini bukanlah basa-basi. Data historis menunjukkan bahwa cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena serupa seringkali membawa dampak beruntun. Genangan air dan banjir bandang adalah ancaman utama di daerah dengan topografi tertentu. Pohon-pohon tumbang bukan hanya merusak properti, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa dan mengganggu jaringan listrik.

Yang sering luput dari perhatian adalah dampak sekunder seperti longsor di daerah perbukitan, erosi di daerah pesisir, dan gangguan pada sektor vital seperti transportasi, perikanan, dan pariwisata. Nelayan akan kesulitan melaut, penerbangan bisa tertunda, dan aktivitas wisatawan yang ingin menikmati keindahan Lombok atau Sumbawa di akhir tahun berpotensi terganggu. Ini adalah sebuah domino effect yang dimulai dari sebuah pusaran tekanan rendah di tengah lautan.

Opini: Apakah Ini Menjadi 'Normal' yang Baru?

Di sini, saya ingin menyisipkan sebuah opini dan pertanyaan reflektif. Frekuensi peringatan cuaca ekstrem dari BMKG, baik untuk NTB maupun wilayah lain di Indonesia, sepertinya semakin sering kita dengar. Apakah ini sekadar kebetulan musiman, atau ada pola yang lebih besar di baliknya? Banyak ahli klimatologi mulai menghubungkan intensitas dan frekuensi fenomena cuaca ekstrem dengan perubahan iklim global.

Laut yang menghangat memberikan 'bahan bakar' lebih banyak bagi sistem badai untuk terbentuk dan menguat. Meski memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menyatakan kaitan langsung, trennya sulit diabaikan. Kita mungkin sedang memasuki era di dimana kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi (bencana yang dipengaruhi cuaca dan air) bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan dan keterampilan hidup dasar. Masyarakat NTB, dengan segala keindahan dan kerentanannya, berada di garis depan dalam menghadapi realitas iklim yang baru ini.

Langkah Konkret: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Lalu, di tengah ketidakpastian ini, apa yang bisa dilakukan? Peringatan BMKG akan sia-sia jika tidak diikuti oleh aksi nyata. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa diambil masyarakat, jauh melampaui sekadar mengecek prakiraan cuaca:

  • Meningkatkan Kewaspadaan Dini: Manfaatkan aplikasi atau info dari BMKG secara aktif. Jika ada peringatan hujan lebat dan angin kencang, tunda dulu aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak.
  • Amankan Lingkungan: Periksa atap rumah, pangkas dahan pohon yang rapuh, dan pastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat. Hal-hal kecil ini bisa mencegah kerusakan besar.
  • Siapkan 'Emergency Kit': Sediakan senter, baterai cadangan, radio, air minum, dan obat-obatan P3K dalam keadaan siap pakai. Listrik padam adalah salah satu dampak yang sangat mungkin terjadi.
  • Hindari Daerah Rawan: Selama periode peringatan, sebisa mungkin hindari berkendara atau beraktivitas di daerah rawan banjir, bawah tebing, atau dekat dengan pohon-pohon besar.

Kesiapsiagaan kolektif adalah kuncinya. Diskusikan rencana dengan keluarga, tetangga, dan komunitas. Pastikan anggota keluarga yang rentan, seperti lansia dan anak-anak, berada dalam pengawasan.

Penutup: Merangkul Ketidakpastian dengan Kesiapan

Pada akhirnya, pesan dari BMKG tentang bibit siklon tropis 96S ini adalah sebuah pengingat yang keras sekaligus halus. Pengingat keras tentang betapa kecil dan rentannya kita di hadapan kekuatan alam. Namun, juga pengingat yang halus tentang betapa pentingnya pengetahuan, kewaspadaan, dan solidaritas.

Cuaca ekstrem mungkin akan datang dan pergi, tetapi pelajaran yang kita petik harusnya tetap. Mari kita jadikan momen ini bukan hanya sebagai periode untuk bertahan, tetapi juga untuk berefleksi. Sudah sejauh mana kita menghargai dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar? Apakah kita masih menganggap peringatan dini sebagai sesuatu yang bisa diabaikan?

Bagi masyarakat NTB, semoga melewati periode ini dengan selamat. Bagi kita semua yang membaca, mari kita ambil hikmahnya. Kepedulian terhadap lingkungan dan investasi dalam mitigasi bencana bukanlah biaya, melainkan sebuah penyelamatan. Alam mungkin sedang berbicara dengan caranya sendiri. Sudah siapkah kita mendengarkan dan bertindak bijak?

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 16:53
Diperbarui: 7 Januari 2026, 16:53