Lingkungan

Bali di Persimpangan: Antara Sampah yang Menumpuk dan Impian Pariwisata Berkualitas

Di balik pesona pantai dan budaya yang memukau, Bali bergulat dengan masalah sampah yang mengancam citranya. Artikel ini mengeksplorasi mengapa penanganan serius bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan masa depan pariwisata pulau dewata.

Penulis:khoirunnisakia
7 Januari 2026
Bali di Persimpangan: Antara Sampah yang Menumpuk dan Impian Pariwisata Berkualitas

Bayangkan ini: Anda baru saja turun dari pesawat, mencium harumnya bunga kamboja dan udara hangat Bali. Tapi perjalanan menuju hotel justru disambut pemandangan tumpukan sampah plastik di pinggir jalan utama. Kontras yang menyakitkan, bukan? Inilah realitas yang perlahan menggerogoti wajah Bali—sebuah pulau yang dijuluki 'surga dunia', namun berjuang keras mengelola sampah warganya dan jutaan tamunya.

Sorotan kali ini jatuh ke Jalan Buana Raya, Denpasar, di mana trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki justru 'dikuasai' oleh sampah. Ini bukan sekadar masalah estetika; ini tentang kesehatan, kenyamanan, dan yang paling krusial—tentang apakah Bali masih layak disebut destinasi wisata berkualitas. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Bali, volume sampah di Denpasar dan Badung meningkat rata-rata 15% setiap tahunnya, jauh melampaui kapasitas pengelolaan yang ada. Ironisnya, peningkatan ini sejalan dengan lonjakan kunjungan wisatawan.

Kondisi memprihatinkan ini memaksa kita untuk melihat bahwa pengelolaan sampah di Bali bukan lagi sekadar urusan kebersihan, tapi sudah menjadi ujian kredibilitas. Pemerintah daerah, terutama di kawasan pariwisata inti seperti Denpasar dan Badung, dituntut untuk bergerak lebih dari sekadar membersihkan—mereka perlu membangun sistem yang berkelanjutan. Kabupaten Bangli sudah mulai dengan menerapkan syarat-syarat ketat, sebuah langkah yang patut diacungi jempol dan ditiru.

Di sini, opini saya sebagai pengamat pariwisata: Bali sedang berada di persimpangan. Pariwisata berkualitas di era sekarang tidak lagi diukur dari gemerlap hotel bintang lima atau jumlah turis yang datang. Kualitas sejati justru terletak pada bagaimana sebuah destinasi menghargai dan menjaga lingkungannya. Wisatawan modern, terutama generasi milenial dan Gen Z, semakin kritis. Mereka memilih destinasi yang punya komitmen ekologis, bukan sekadar cantik di brosur. Jika Bali abai, mereka akan berpaling ke destinasi lain yang lebih 'hijau'.

Seperti disorot Bali Post, citra Bali sebagai mutiara pariwisata dunia memang sedang dipertaruhkan. Tapi di balik semua tantangan, saya melihat peluang besar. Krisis sampah ini bisa menjadi momentum bagi Bali untuk bertransformasi—dari destinasi wisata massal menjadi pelopor pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Bayangkan jika setiap hotel, restoran, dan usaha wisata di Denpasar dan Badung benar-benar menerapkan prinsip zero-waste. Bayangkan jika pengelolaan sampah menjadi bagian dari cerita keunikan Bali yang baru.

Jadi, apa yang bisa kita harapkan? Penanganan sampah di Bali membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan tegas. Butuh perubahan pola pikir kolektif—dari pemerintah, pelaku usaha, hingga setiap wisatawan yang menginjakkan kaki di pulau ini. Setiap botol plastik yang tidak dibuang sembarangan, setiap sedotan yang ditolak, adalah suara dukungan untuk Bali yang lebih lestari. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi 'bisakah Bali mengatasi masalah sampah?', tapi 'seberapa serius kita semua ingin menyelamatkan keindahan Bali untuk generasi mendatang?'. Mari kita jawab bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata dimulai dari diri sendiri.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 07:56
Diperbarui: 22 Januari 2026, 00:03