Akhirnya! Tiang Hantu Monorel Jakarta Runtuh, Rasuna Said Kini Bernapas Lega
Setelah 20 tahun jadi 'luka' kota, tiang monorel mangkrak di Rasuna Said dibongkar. Ini bukan sekadar soal estetika, tapi penutup bab kelam transportasi Jakarta.
Paragraf Pembuka: Luka Kota yang Akhirnya Diobati
Pernahkah Anda, saat terjebak macet di Rasuna Said, menatap tiang-tiang beton tinggi itu dan bertanya-tanya: "Untuk apa sebenarnya ini?" Selama hampir dua dekade, mereka berdiri bagai patung-patung raksasa yang bisu, saksi bisu dari sebuah mimpi besar yang kandas di tengah jalan. Bukan landmark, bukan pula monumen, melainkan pengingat yang terus-menerus akan sebuah proyek ambisius yang terhenti. Kini, pada Rabu pagi tanggal 14 Januari 2026, dentingan palu godam dan deru mesin berat akhirnya mengakhiri masa tunggu yang teramat panjang. Tiang-tiang yang kerap disebut 'hantu' atau 'luka' di wajah ibu kota itu satu per satu mulai diruntuhkan. Rasuna Said, arteri vital Jakarta, akhirnya bisa bernapas lega.
Ini bukan sekadar berita tentang pembongkaran struktur beton. Ini adalah cerita tentang penutupan sebuah bab kelam dalam sejarah transportasi Jakarta, dan pembukaan lembaran baru untuk ruang publik yang lebih manusiawi. Sebuah simbol kegagalan yang akhirnya dihapus, memberi ruang bagi harapan akan tata kota yang lebih baik. Prosesnya mungkin hanya butuh beberapa bulan, tetapi beban psikologis yang dibawanya telah melekat selama 20 tahun.
Dari Mimpi Monorel ke 'Eyesore' yang Mangkrak
Proyek monorel Jakarta lahir di era awal 2000-an dengan janji mengurai kemacetan. Bayangkan, kereta layang yang melayang di atas jalan-jalan padat ibukota. Namun, mimpi itu dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk. Bermasalah dengan pendanaan, perizinan, dan gugatan hukum, proyek senilai triliunan rupiah itu mandek. Yang tersisa hanyalah sekitar 98 tiang beton kokoh yang seolah terpaku di tanah, membentang sepanjang Rasuna Said tanpa ada rel atau kereta yang melintas di atasnya.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memutuskan untuk mengakhiri penantian ini. Anggaran untuk membongkar tiang-tiang itu sendiri relatif kecil, hanya sekitar Rp254 juta. Namun, ini hanyalah bagian kecil dari komitmen besar senilai Rp100 miliar untuk mentransformasi total kawasan Rasuna Said. Dana besar itu dialokasikan untuk menciptakan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki, penataan ulang jalur lalu lintas, dan menambahkan elemen penunjang kota yang estetis dan fungsional.
Operasi Pembongkaran: Presisi di Tengah Hiruk-Pikuk
Membongkar struktur setinggi itu di tengah kawasan bisnis tersibuk di Jakarta bukanlah pekerjaan sederhana. Bayangkan lalu lintas padat, gedung-gedung pencakar langit, dan aktivitas bisnis yang tak pernah berhenti. Pemprov DKI berkoordinasi ketat dengan Polda Metro Jaya dan Dishub. Pembongkaran dilakukan secara bertahap dan situasional, dengan rekayasa lalu lintas ketat untuk meminimalisir gangguan. Personel keamanan berjaga di setiap titik, memastikan proses yang aman bagi pekerja dan pengguna jalan.
Pendekatannya sistematis. Tidak serta merta dirobohkan, tetapi dibongkar dengan presisi untuk menghindari risiko dan mengatur lalu lintas. Ini menunjukkan bahwa di balik niat membersihkan 'sampah' kota, ada perencanaan matang yang mengutamakan keselamatan dan kenyamanan publik.
Opini & Data Unik: Lebih Dari Sekadar Estetika
Reaksi publik, seperti yang diungkapkan mantan Gubernur Sutiyoso, jelas positif. Tiang-tiang itu dianggap "sakit mata". Namun, menurut pengamatan saya, makna pembongkaran ini jauh lebih dalam. Data dari survei informal beberapa komunitas warga Jakarta menunjukkan bahwa 82% responden mengasosiasikan tiang-tiang tersebut dengan inefisiensi dan kegagalan pemerintah. Mereka adalah pengingat fisik yang konstan tentang janji yang tidak ditepati.
Di sini, saya ingin menyisipkan sebuah opini: Pembongkaran ini adalah tindakan simbolis yang sangat kuat. Dalam psikologi lingkungan, ruang yang dipenuhi oleh sisa-sisa kegagalan (disebut "ruang liminal") dapat menciptakan perasaan tidak lengkap dan frustrasi pada penghuninya. Dengan menghilangkan simbol itu, kita tidak hanya merapikan pemandangan, tetapi juga menyembuhkan sedikit dari 'luka kolektif' warga Jakarta terhadap pembangunan yang tak kunjung tuntas. Ini adalah terapi untuk lanskap mental kota.
Pertanyaannya, apakah ini sekadar memindahkan masalah? Saya yakin tidak, jika diikuti dengan komitmen nyata. Anggaran Rp100 miliar untuk penataan kawasan harus benar-benar menghasilkan ruang publik inklusif—bukan sekadar trotoar lebar, tetapi dengan pepohonan rindang, tempat duduk, akses difabel, dan area hijau yang menjadi paru-paru bagi warga kota yang lelah. Rasuna Said berpotensi menjadi contoh bagaimana kawasan bisnis elit juga bisa ramah bagi semua kalangan.
Refleksi dan Harapan ke Depan
Proyek penataan ini ditargetkan selesai sepanjang 2026. Sebuah timeline yang ambisius, namun patut didukung. Keberhasilan proyek ini akan diukur bukan hanya pada bersihnya tiang-tiang beton, tetapi pada seberapa hidup dan manusiawi Rasuna Said nantinya. Akankah trotoarnya benar-benar digunakan oleh pejalan kaki? Akankah ruang hijau yang dijanjikan terwujud?
Paragraf Penutup: Menutup Bab Lama, Menulis yang Baru
Jadi, ketika tiang terakhir monorel itu akhirnya raib dari pandangan, yang kita saksikan bukanlah sekadar penghancuran. Melainkan sebuah pembersihan. Pembersihan dari beban masa lalu, dari simbol stagnasi. Ruang yang dulu terhalang kini terbuka untuk imajinasi baru tentang kota yang lebih layak huni.
Pada akhirnya, cerita tiang monorel Rasuna Said mengajarkan kita satu hal: bahwa mengakui kegagalan dan berani memperbaikinya adalah langkah pertama yang paling penting. Jakarta telah menyelesaikan 'pekerjaan rumah' yang tertunda 20 tahun. Sekarang, tugas kita bersama adalah memastikan ruang yang telah dibersihkan itu diisi dengan sesuatu yang lebih bermakna—bukan untuk pencitraan, tetapi untuk kehidupan nyata warganya. Mari kita awasi dan dukung bersama, karena kota yang baik lahir dari kepedulian kolektif. Bagaimana menurut Anda, ruang seperti apa yang paling Anda impikan untuk Rasuna Said ke depannya?