Pertanian

31 Prajurit Pangan Sulteng Gabung BRMP: Mampukah Mereka Jadi Kunci Swasembada 2026?

Tiga puluh satu penyuluh pertanian Sulawesi Tengah kini resmi bergabung dengan BRMP. Ini bukan sekadar mutasi biasa, melainkan strategi konsolidasi yang disebut-sebut sebagai 'game changer' untuk mencapai target swasembada pangan 2026. Simak analisis mendalamnya.

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
31 Prajurit Pangan Sulteng Gabung BRMP: Mampukah Mereka Jadi Kunci Swasembada 2026?

Bayangkan ini: di tengah lahan pertanian yang membentang hijau di Sulawesi Tengah, ada 31 orang yang setiap harinya berjalan menyusuri sawah, berbincang dengan petani, dan membawa teknologi baru ke desa-desa terpencil. Mereka adalah penyuluh pertanian—ujung tombak yang sering tak terlihat, namun menentukan nasib pangan kita. Nah, kabar terbaru: seluruh 'prajurit pangan' ini baru saja resmi bergabung dengan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP). Pertanyaannya, apakah langkah ini benar-benar bisa menjadi akselerator menuju swasembada pangan 2026, atau sekadar perubahan struktural belaka?

Integrasi ini sebenarnya punya tujuan yang cukup ambisius: menciptakan sistem penyuluhan yang lebih terpusat dan efektif di bawah Kementerian Pertanian. Dengan kata lain, dulu penyuluh mungkin bekerja dengan pola yang agak tersebar, sekarang mereka akan difokuskan dan disinergikan melalui BRMP. Harapannya jelas: teknologi pertanian modern bisa sampai ke petani lebih cepat, koordinasi antar-pemangku kepentingan membaik, dan dukungan produksi bisa menjangkau wilayah yang lebih luas. Menurut data Kementan, daerah dengan sistem penyuluhan terintegrasi biasanya mengalami peningkatan produktivitas 15-25% dalam 2 tahun pertama. Angka yang cukup signifikan untuk mendongkrak target nasional.

Di lapangan, kolaborasi yang diperkuat antara BRMP dan berbagai pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah diharapkan bisa menciptakan ekosistem pertanian yang lebih solid. Penyuluh tidak lagi bekerja sendirian, tetapi menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar dengan akses terhadap sumber daya, pelatihan, dan teknologi terkini. Kementerian sendiri secara tegas menyebut penyuluh sebagai aset strategis—mereka adalah jembatan antara kebijakan di atas kertas dengan realita di sawah. Tanpa mereka, metode pertanian modern yang lebih produktif dan efisien mungkin hanya akan jadi wacana di seminar-seminar.

Di sini, izinkan saya menyelipkan opini pribadi: langkah integrasi ini cerdas secara konsep, tetapi tantangan sebenarnya ada pada eksekusi. Pengalaman menunjukkan bahwa perubahan struktural sering kali terjebak pada birokrasi dan adaptasi yang lambat. Kunci keberhasilannya bukan hanya pada 'bergabungnya' 31 penyuluh ini, tetapi pada bagaimana BRMP mampu memberdayakan mereka dengan tools yang tepat, otonomi yang cukup, dan sistem evaluasi yang berbasis hasil nyata di lapangan. Petani di Sulteng butuh solusi konkret—bukan sekadar perubahan nama di struktur organisasi.

Jadi, apa arti semua ini untuk kita? Pada akhirnya, swasembada pangan 2026 bukan hanya angka di dokumen pemerintah, melainkan tentang ketahanan pangan keluarga Indonesia. Setiap kali kita makan nasi, sayur, atau buah, ada jejak panjang dari kebijakan seperti ini. Integrasi 31 penyuluh ke BRMP mungkin terdengar seperti berita administratif biasa, tetapi sebenarnya ini adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar. Mari kita pantau bersama—apakah kolaborasi ini benar-benar bisa mengubah wajah pertanian Sulteng, atau justru menjadi pelajaran berharga untuk kebijakan serupa di masa depan. Bagaimana menurut Anda—apakah sentralisasi penyuluhan adalah jawabannya, atau justru pemberdayaan lokal yang lebih dibutuhkan?

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 07:08
Diperbarui: 21 Januari 2026, 14:33