Otomotif

2026: Tahun Ketika Mobil Listrik Berhenti Jadi Tren, dan Mulai Jadi Kenyataan

Industri otomotif global tak lagi sekadar bicara janji. Di tahun 2026, transisi ke kendaraan listrik berubah dari rencana menjadi aksi nyata yang mengubah wajah jalanan kita. Apa artinya bagi kita di Indonesia?

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
2026: Tahun Ketika Mobil Listrik Berhenti Jadi Tren, dan Mulai Jadi Kenyataan

Bayangkan jalan raya di tahun 2030. Suara mesin yang menderu mungkin sudah jadi kenangan, digantikan oleh desis halus kendaraan listrik. Itu bukan lagi adegan film fiksi ilmiah. Memasuki tahun 2026, kita sedang menyaksikan babak terpenting dari revolusi transportasi itu. Bukan lagi soal akan, tapi sedang terjadi. Produsen mobil dari Detroit hingga Tokyo seperti berlomba mengejar waktu, mengubah pabrik-pabrik konvensional mereka menjadi pusat produksi EV. Rasanya, mereka baru sadar bahwa ini bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan untuk bertahan.

Apa yang mendorong percepatan gila-gilaan ini? Dua hal: tekanan regulasi yang semakin ketat dan selera konsumen yang berubah lebih cepat dari yang diperkirakan. Data terbaru dari BloombergNEF menunjukkan, investasi global di sektor EV dan baterai pada 2025 melampaui $1 triliun untuk pertama kalinya. Angka itu bukan sekadar statistik; itu adalah bukti bahwa uang mengalir ke arah yang benar-benar berbeda. Di Eropa, beberapa kota besar bahkan sudah menetapkan 'zona nol emisi' di pusat kota, membuat mobil berbahan bakar fosil pelan-pelan tersingkir.

Di Indonesia, gelombang ini mulai terasa. Kita bukan lagi sekadar penonton. Kehadiran lebih banyak model mobil listrik dengan harga yang mulai bersaing, ditambah dengan jaringan SPKLU yang perlahan merambah ke luar Jawa, adalah sinyal kuat. Menurut analisis saya, yang menarik justru bukan pada produknya, tapi pada ekosistemnya. Tahun 2026 ini akan menjadi tahun di mana bisnis-bisnis pendukung—mulai dari instalasi charger rumah, layanan battery swapping, hingga daur ulang baterai—mulai menemukan bentuk dan model bisnisnya yang viable. Ini peluang emas yang lebih besar daripada sekadar menjual mobil.

Namun, ada satu tantangan besar yang sering luput dari pembahasan: ketergantungan pada baterai dan materialnya. Lebih dari 70% pasokan bahan baku baterai lithium-ion dunia masih dikuasai oleh segelintir negara. Transisi ke EV yang adil dan berkelanjutan harus juga memikirkan rantai pasok yang lebih resilient dan etis. Ini bukan hanya soal mengganti sumber tenaga, tapi membangun sistem mobilitas baru dari hulu ke hilir.

Jadi, apa arti semua ini bagi kita yang sehari-hari berkendara? Ini lebih dari sekadar pilihan mobil baru. Ini tentang menyetir masuk ke dalam sebuah era baru. Era di mana 'isi bensin' berganti menjadi 'isi daya', dan keputusan kita sebagai konsumen memiliki dampak langsung pada udara yang kita hirup dan kota yang kita tinggali. Tahun 2026 mungkin akan dikenang sebagai titik di mana mobil listrik berhenti disebut 'mobil masa depan', dan resmi menjadi 'mobil masa kini'. Pertanyaannya, sudah siapkah kita menyambutnya? Mungkin, saatnya kita mulai lebih serius mempertimbangkan, apa peran kita dalam lanskap transportasi yang sedang berubah dengan cepat ini.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 07:06
Diperbarui: 21 Januari 2026, 10:03